Bulughul Maram

Kitab Thaharah: Bab Wudhu, Air 2/3 Mud, Hadis No. 41

  • ARTIKEL
  • Rabu, 1 Juni 2022 | 10:10 WIB
  • 301
foto

Foto: laz-alhakim-sucofindo.org

Foto takaran ukuran mud dari Rasulullah SAW. Satu mud kira-kira setara dengan 3/4 liter. Satu mud adalah takaran sebesar cakupan dua telapak tangan orang dewasa sebagaimana keterangan Syekh Wahbah Az-Zuhayli.

41 - وَعَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ زَيْدٍ - رضي الله عنه: أَنَّ النَّبِيَّ - صلى الله عليه وسلم - أَتَى بِثُلُثَيْ مُدٍّ, فَجَعَلَ يَدْلُكُ ذِرَاعَيْهِ. أَخْرَجَهُ أَحْمَدُ, وَصَحَّحَهُ ابْنُ خُزَيْمَة. (1)
__________
(1) - صحيح. رواه أحمد (4/ 39)، وابن خزيمة (118) واللفظ لابن خزيمة.

38. Dari Abdullah bin Zaid RA, ‘Bahwa Nabi SAW diberikan (air) sebanyak 2/3 mud, maka beliau menggosok lengannya.” (HR. Ahmad dan dishahihkan oleh Ibnu Khuzaimah)

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

Nabi SAW diberikan (air) sebanyak 2/3 mud, (dalam Al Qamus, mud adalah takaran, yaitu dua liter, atau 1 1/3 liter, atau sebanyak isi telapak tangan sedang. Jika mengisi keduanya lalu membentangkannya, oleh karena itu dinamakan mud. Saya telah mencobanya ternyata hal itu benar) maka beliau menggosok lengannya.

Dikeluarkan oleh Abu Daud dari hadits Ummi Umarah Al Anshariyah dengan sanad hasan,

«أَنَّهُ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - تَوَضَّأَ بِإِنَاءٍ فِيهِ قَدْرُ ثُلُثَيْ مُدٍّ»

“Bahwa Rasulullah SAW berwudhu pada bejana yang di dalamnya terdapat air sebanyak 2/3 mud.”

[Shahih: Abu Daud 94]

Diriwayatkan juga oleh Al Baihaqi dari hadits Abdullah bin Zaid.

[Sunan Al Baihaqi 1/196]

2/3 mud adalah ukuran minimal yang digunakan oleh Rasulullah SAW berwudhu. Adapun hadits yang menyebutkan bahwa beliau berwudhu dengan 1/3 mud tidak ada asalnya. Telah dishahihkan oleh abu Zur’ah dari hadits Aisyah RA dan Jabir,

 «أَنَّهُ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - كَانَ يَغْتَسِلُ بِالصَّاعِ وَيَتَوَضَّأُ بِالْمُدِّ»

“Bahwa Rasulullah SAW pernah mandi dengan satu sha dan berwudhu dengan satu mud.”

[Shahih: Abu Daud 92 , 92]

Muslim meriwayatkan hadits yang sama dari Safinah.

[Shahih: Muslim 326]

dan Abu Daud dari Anas,

 «تَوَضَّأَ مِنْ إنَاءٍ يَسَعُ رِطْلَيْنِ»

“beliau berwudhu dengan bejana yang isinya 2 liter.”

[Dhaif: Abu Daud 95]

Dan diriwayatkan oleh At Tirmidzi dengan lafazh

«يُجْزِئُ فِي الْوُضُوءِ رِطْلَانِ»

“Sah wudhu dengan dua liter

[Shahih: At Tirmidzi 609]

Semua hadits tersebut menunjukkan keringanan dalam air wudhu.

Dan telah diketahui larangan Nabi SAW mengenai berlebih-lebihan dalam menggunakan air, sebagaimana yang pernah diberitakan bahwa akan datang suatu kaum yang melampaui batas dalam wudhu. Makna barangsiapa yang melampaui batas yang telah disebutkan oleh syariat bahwa sah wudhu dengannya, berarti ia telah berlebih-lebihan, dan hal itu diharamkan. Adapun pendapat yang mengatakan bahwa ini untuk mendekatkan bukan membatasi, tidaklah jauh (dari kebenaran). Akan tetapi yang lebih baik dalam menjalankan syariat adalah menyamai akhlah beliau SAW dan mencontohnya dalam ukuran tersebut.

Dalam hadits tersebut terdapat dalil disyariatkannya menggosok anggota wudhu. Tetapi terdapat perbedaan, yang mengatakan wajib ia berdasarkan hadits ini dan yang mengatakan tidak wajib, ia mengatakan bahwa yang diperintahkan dalam ayat adalah mencuci, dan tidak disebutkan menggosok.

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[إبانة الأحكام]

وَعَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ زَيْدٍ - رضي الله عنه: أَنَّ النَّبِيَّ - صلى الله عليه وسلم - أَتَى بِثُلُثَيْ مُدٍّ, فَجَعَلَ يَدْلُكُ ذِرَاعَيْهِ. أَخْرَجَهُ أَحْمَدُ, وَصَحَّحَهُ ابْنُ خُزَيْمَة

 

38. Daripada 'Abdullah ibn Zaid (r.a), beliau berkata: “Didatangkan kepada Nabi (s.a.w) dua pertiga mudd air lalu baginda menggosok kedua lengannya.” (Disebut oleh Imam Ahmad dan dinilai sahih oleh Ibn Khuzaimah)

Makna Hadis

Berlebihan dalam menggunakan air sama dengan membazirkan harta dan perbuatan Rasulullah (s.a.w) adalah syariat bagi umatnya. Baginda pernah berwuduk dengan menggunakan air yang sedikit di mana isinya satu pertiga rithl. Air itu baginda gosokkan dengan tangannya ke seluruh anggota wuduk dan setiap tempat yang tersembunyi agar semuanya terkena air. Ukuran tersebut bukanlah batasan minimum, sebaliknya ia hanya berlandaskan perkiraan apabila dikaitkan dengan orang yang besar badannya sama dengan badan Nabi (s.a.w). Oleh itu, kadar atau jumlah air yang digunakan berbeza antara seorang dengan orang lain mengikut keadaan mereka masing-masing.

Analisis Lafaz

 بِثُلُثَيْ مُدٍّ mudd adalah nama takaran yang telah dikenali, iaitu sama dengan satu perempat sha' dan sepadan dengan dua rithl menurut pendapat mazhab Hanafi. Jadi, dua pertiga mudd adalah satu rithl, iaitu sama dengan takaran penuh telapak tangan manusia yang bersaiz sederhana. Oleh itu, ia diberi nama mudd, sebab orang yang berkenaan mengembangkan kedua telapak tangannya.
Lafaz ثُلُثَيْ adalah bentuk mutsanna dari lafaz tsulutsun, ertinya dua pertiga. Ia di-jarr-kan oleh huruf ba' dan alamat jarr-nya ialah menggunakan huruf ya', kerana ia termasuk isim mutsanna, sedangkan lafaz مُدٍّ berkedudukan sebagai mudhaf ilaih.
Imam Malik, Imam Ahmad dan Imam al-Syafi'i mengatakan bahawa satu mudd sama dengan satu pertiga rithl Iraq. Dengan demikian, dua pertiga mudd sama dengan lapan persembilan rithl Iraq.
ذِرَاعَيْهِ bentuk tatsniyah dan lafaz dzira'un, ertinya kedua lengannya. Setiap nama anggota tubuh manusia yang sepasang biasanya ditulis dalam bentuk mu'annats, sedangkan anggota tubuh yang tunggal dalam bentuk mudzakkar.

Fiqh Hadis

1. Tidak boleh berlebihan dalam menggunakan air ketika berwuduk.
2. Disyariatkan menggosok anggota tubuh ketika berwuduk. Menurut jumhur ulama, hukumnya sunat. Menurut mazhab Maliki, hukumnya fardu kerana mereka berpendapat bahawa menggosok termasuk ke dalam pengertian al-ghusl (membasuh) dalam istilah bahasa.

Periwayat Hadis

'Abdullah ibn Zaid ibn 'Abdu Rabbih ibn Zaid ibn al-Harits al-Anshari al-Khazraji, nama panggilannya adalah Abu Muhammad. Beliau turut serta dalam Perjanjian al-'Aqabah, Perang Badar dan peperangan sesudahnya. Beliau hanya mempunyai satu hadis yang di dalamnya menegaskan bahawa beliaulah orang yang bermimpi kalimat adzan. Ibn al-Musayyab dan lain-lain mengambil riwayat daripadanya. Beliau meninggal dunia di Madinah pada tahun 32 Hijriah, dan Khalifah 'Utsman turut menyembahyangkan jenazahnya.

Sumber: 1. Bulugh al-Maram min Adillat al-Ahkam karangan  Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani (773 H - 852 H) 2. Subulus Salam Karangan Imam Ash-Shan'ani (w. 1182 H). 3. Ibanatul Ahkam Karangan Alawi Abbas Al-Maliki (w. 1391 H) dan  Hasan Sulaiman An-Nuri.

Penulis: Mualif
Editor: Muhamad Basuki
©2022 Al-Marji'

Bagikan melalui:
Artikel Terkait

Topik Pilihan