Bulughul Maram

Kitab Thaharah: Bab Wudhu, Menyela-nyela Janggut saat Berwudhu, Hadis No. 40

  • ARTIKEL
  • Sabtu, 28 Mei 2022 | 06:52 WIB
  • 304
foto

Foto: istimewa

Habib Ali al-Jufri dan Habib Umar bin Hafizh.

40 - وَعَنْ عُثْمَانَ - رضي الله عنه: أَنَّ النَّبِيَّ - صلى الله عليه وسلم - كَانَ يُخَلِّلُ لِحْيَتَهُ فِي الْوُضُوءِ. أَخْرَجَهُ التِّرْمِذِيُّ, وَصَحَّحَهُ ابْنُ خُزَيْمَة. (1)
__________
(1) - صحيح. رواه الترمذي (31)، وابن خزيمة (1/ 78 - 79) وقال الترمذي: حسن صحيح. قلت: يعني بشواهده، فله شواهد عن أكثر من عشرة من الصحابة رضي الله عنهم، وقد ذكرت ذلك مفصلا في «الأصل».

37. Dari Utsman RA, bahwa Nabi SAW menyela-nyela jenggotnya ketika berwudhu. (HR. At Tirmidzi dan dishahihkan oleh Ibnu Khuzaimah)

[Shahih: At Tirmidzi 31]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Biografi Perawi

Utsman RA adalah Abu Abdullah Utsman bin Affan Al Umawi Al Qurasyi. Salah seorang Khalifah yang empat dan salah seorang dari sepuluh orang yang pertama masuk Islam. Ia hijrah ke Habasyah dua kali dan menikahi dua putri Rasulullah SAW. yang pertama menikah dengan Ruqayyah. Setelah Ruqayyah meninggal, Nabi SAW menikahkannya dengan Ummu Kultsum. Ia diangkat menjadi Khalifah pada hari pertama bulan Muharram tahun 24 H, dan terbunuh pada hari Jum’at 18 Dzulhijjah tahun 35 H. Dikebumikan pada malam sabtu di Baqi, usianya 82 tahun dan ada yang mengatakan selain itu.

Tafsir Hadits

Hadits tersebut dikeluarkan oleh Al Hakim, Ad Daruquthni dan Ibnu Hibban dari riwayat Amir bin Syaqiq dari Abi Wa’il. Al Bukhari berkata, “Haditsnya hasan.” Dan Al Hakim berkata, ‘Kami tidak mengetahui ada cacat padanya dalam kondisi bagaimanapun’, ini perkataannya, dan telah didhaifkan oleh Ibnu Ma’in.

Al Hakim meriwayatkan beberapa syahid dari Anas, Aisyah RA, Ali dan Ammar RA bagi hadits tadi. Penulis berkata, “Dan di dalamnya juga ada dari Ummu Salamah, Abi Ayub, Abi Umamah, Ibnu Umar, Jabir, Ibnu Abbas dan Abu Darda’. Dan telah disebutkan, bahwa semuanya dhaif kecuali hadits Aisyah RA. Dan berkata Abdullah bin Ahmad dari bapaknya, “Tidak disyariatkan menyela-nyela jenggot sedikit pun.”

Hadits Utsman ini menunjukkan disyariatkannya menyela-nyela jenggot. Mengenai wajibnya hal ini terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama. Menurut Al hadawiyah, menyela-nyela jenggot hukumnya wajib sebagaimana halnya sebelum jenggot itu tumbuh. Banyak hadits mengenai perintah menyela-nyela jenggot, akan tetapi semuanya tak luput dari cacat dan kelemahan, maka tidak dapat dijadikan hujjah dalam mewajibkannya.

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[إبانة الأحكام]

وَعَنْ عُثْمَانَ - رضي الله عنه: أَنَّ النَّبِيَّ - صلى الله عليه وسلم - كَانَ يُخَلِّلُ لِحْيَتَهُ فِي الْوُضُوءِ. أَخْرَجَهُ التِّرْمِذِيُّ, وَصَحَّحَهُ ابْنُ خُزَيْمَة.

37. Daripada 'Utsman ibn „Affan (r.a), beliau berkata: “Sesungguhnya Nabi (s.a.w) sentiasa mencelah-celahi janggutnya ketika berwuduk.” (Disebut oleh al-Tirmizi dan dinilai sahih oleh Ibn Khuzaimah)

Makna Hadis

Rasulullah (s.a.w) adalah seorang yang berjanggut lebat dan baginda sentiasa mencelah-celahinya ketika berwuduk dan mandi supaya air sampai kepada kulit di sebalik janggutnya itu. Nabi (s.a.w) melakukan demikian bagi menyempurnakan wuduk di samping sebagai satu ketetapan syariat bagi umatnya agar mereka mengikuti jejaknya dan menempuh jalan yang lurus. Semoga Allah memberikan manfaat kepada kita melalui Sunnahnya dan menjadikan kita termasuk orang yang mahu mendengar perkataan dan mengikuti yang paling baik di antaranya.

Analisis Lafaz

يُخَلِّلُ لِحْيَتَهُ memasukkan air dengan jari-jemarinya di antara lebatnya bulu janggut.

Fiqh Hadis

1. Disyariatkan mencelah-celah janggut dengan memasukkan air melalui jari-jemari di antara bulu janggut. Ini dilakukan jika seseorang berjanggut lebat hingga kulitnya pun tidak nampak kelihatan.
2. Diwajibkan mencela-celah janggut jika janggut seseorang itu nipis, sebab menyampaikan air ke kulit yang ada pada bahagian bawah janggutnya itu wajib.

Sumber: 1. Bulugh al-Maram min Adillat al-Ahkam karangan Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani (773 H - 852 H) 2. Subulus Salam Karangan Imam Ash-Shan'ani (w. 1182 H). 3. Ibanatul Ahkam Karangan Alawi Abbas Al-Maliki (w. 1391 H) dan Hasan Sulaiman An-Nuri.

Penulis: Mualif
Editor: Muhamad Basuki
©2022 Al-Marji'

Bagikan melalui:
Artikel Terkait

Topik Pilihan