Bulughul Maram

Kitab Thaharah: Bab Air - Air Laut Suci dan Halal Bangkainya, Hadis No. 1

  • ARTIKEL
  • Minggu, 3 April 2022 | 22:21 WIB
  • 616
foto

Foto: pexels.com

Air adalah nama jenis yang berlaku bagi yang sedikit maupun yang banyak. Disebutkan dengan bentuk jamaknya lantaran perbedaan jenisnya menurut hukum syari’at, karena ada yang dilarang menggunakannya dan ada yang makruh. juga lantaran adanya perbedaan pada sebagian air seperti air laut, karena pensyarah menukil perbedaan mengenai bersuci dengannya dari Ibnu Umar dan Ibnu Amr. Dalam kitab An Nihayah disebutkan bahwa air laut itu dapat mensucikan, terjadi perbedaan pendapat pada sebagian generasi pertama. Terjadinya perbedaan pendapat sejak dahulu pada masalah ini, sepertinya membuat penulis memulai dengan hadits yang menunjukkan kesuciannya, dan hadits tersebut yang dijadikan hujjah oleh jumhur ulama, ia berkata:

١- عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ - رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ - قَالَ: «قَالَ رَسُولُ اللَّهِ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -، فِي الْبَحْرِ هُوَ الطَّهُورُ مَاؤُهُ، الْحِلُّ مَيْتَتُهُ» أَخْرَجَهُ الْأَرْبَعَةُ، وَابْنُ أَبِي شَيْبَةَ، وَاللَّفْظُ لَهُ، وَصَحَّحَهُ ابْنُ خُزَيْمَةَ وَالتِّرْمِذِيُّ، [وَرَوَاهُ مَالِكٌ وَالشَّافِعِيُّ وَأَحْمَدُ]

1. Dari Abu Hurairah RA, ia berkata: Rasulullah SAW bersabda tentang laut, ”Airnya suci dan bangkainya halal.’ (Dikeluarkan oleh Imam yang empat dan Ibnu Abu Syaibah, lafazh tersebut miliknya, dan dishahihkan oleh Ibnu Khuzaimah dan At Tirmidzi)

[Shahih: Shahihul Jami’ 7048]

(1) - صحيح. رواه أبو داود (83)، والنسائي (1/ 50 و 176 و 707)، والترمذي (69)، وابن ماجه (386) وابن أبي شيبة (131)، وابن خزيمة (111) من طريق صفوان بن سليم، عن سعيد بن سلمة من آل بني الأزرق، عن المغيرة بن أبي بردة - وهو من بني عبد الدار- أنه سمع أبي هريرة يقول: جاء رجل إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم، فقال: يا رسول الله! إنا نركب البحر، ونحمل معنا القليل من الماء، فإن توضأنا به عطشنا، أفنتوضأ به؟ فقال صلى الله عليه وسلم: فذكره. وقال الترمذي: «حسن صحيح». قلت: وهذا إسناد صحيح، وقد أعله بعضهم بما لا يقدح، كما أن للحديث شواهد، وتفصيل ذلك في «الأصل».

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Biografi Perawi

Abu Hurairah RA adalah Abdurrahman bin Shakhr, menurut pendapat Muhammad bin Ishaq dan Al Hakim Abu Ahmad. Ia meninggal dunia di Madinah pada tahun 59 H, dalam usia 78 tahun dan dimakamkan di Baqi, menurut salah satu pendapat.

Penjelasan Kalimat

Rasulullah SAW bersabda tentang laut (maksudnya: mengenai hukumnya) airnya suci (Ath-Thahur adalah nama bagi yang dapat digunakan bersuci, atau suci dan dapat mensucikan, sebagaimana dalam Al Qamus. Sedang menurut istilah Syara’, yaitu nama bagi yang dapat menyucikan) halal bangkainya.

Dikeluarkan oleh imam yang empat dan Ibnu Abi Syaibah (yaitu Abu Bakar. Mengenai dirinya, Adz Dzahabi berkata: ‘Seorang hafizh yang tidak ada tandingannya dan terbukti kecerdikannya adalah Abdullah bin Muhammad bin Abu Syaibah. Penulis Al Musnad, Mushannaf dan yang lainnya, termasuk Syaikh (guru) Al Bukhari, Muslim, Abu Daud dan Ibnu Majah)

Dishahihkan pula oleh Ibnu Khuzaimah. Adz Dzahabi berkata: “Hafizh besar, imam para imam, Syaikh Islam Abu Bakar Muhammad bin Ishaq bin Khuzaimah, dialah imam yang paling tinggi dan paling banyak hafalannya pada masanya di Khurasan. Dan juga dishahihkan oleh At Tirmidzi, setelah menyebutkannya ia berkata: “Hadits ini hasan shahih, dan saya telah menanyakan kepada Muhammad bin Isma’il Al Bukhari tentang hadits ini maka ia berkata, “hadits shahih.” Ini ucapan At Tirmidzi sebagai dalam Mukhtashar As Sunan karya Al Hafidz Al Mundziri.

Penulis telah menyebutkan hadits ini dalam At-Talkhis dari sembilan orang shahabat, tetapi tidak ada satu jalan pun yang lepas dari komentar para ulama, tetapi ulama yang saya dengar telah menetapkan keshahihannya. Dan dishahihkan oleh Ibnu Abdil Barr, Ibnu Mandah, Ibnul Mundzir dan Abu Muhammad Al Baghawi.

Penulis berkata, “Sejumlah hadits yang tidak sampai pada derajat hadits ini dan tidak mendekatinya telah dihukumi shahih.”

Tafsir Hadits

Az Zarqani berkata dalam Syarh Al Muwaththa, “Hadits ini adalah salah satu dasar dari pokok-pokok Islam, telah diterima oleh umat, sangat populer di kalangan ulama fikih di semua negeri, pada setiap masa, dan diriwayatkan oleh para imam besar.” Kemudian ia menyebutkan orang yang meriwayatkan dan menshahihkannya.

Hadits tersebut adalah jawaban dari sebuah pertanyaan, sebagaimana dalam Al Muwaththa’ bahwa Abu Hurairah RA berkata, “Seorang laki-laki datang – dalam Musnad Ahmad dari Bani Mudlaj, dan menurut At Thabrani namanya Abdullah – kepada Rasulullah SAW lalu bertanya: ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami biasa berlayar di laut dan kami membawa air hanya sedikit, jika kami menggunakannya berwudhu maka kami akan kehausan, bolehkan kami berwudhu  dengannya? –dalam lafazh Abu Daud –dengan air laut-? Maka Rasulullah SAW menjawab: ‘Ia (air laut) itu suci.” Beliau SAW menerangkan bahwa air laut itu suci dan dapat menyucikan, tidak keluar dari kesucian itu dengan kondisi bagaimana pun, melainkan apa yang diterangkan yaitu jika salah satu dari sifatnya telah berubah. Rasulullah SAW tidak menjawabnya dengan ‘Ya’. Meskipun hal itu sudah dipahami maksudnya, tetapi beliau menjawabnya dengan ucapan tersebut agar hukum tersebut berkumpul dengan illat (sebab)nya, yaitu kesucian yang terbatas dalam babnya.

Contohnya, ketika melihat air laut berbeda dengan air biasa dengan rasanya yang asin dan baunya yang busuk, ia bimbang kalau-kalau air tersebut tidak dimaksudkan oleh firman Allah SWT:

{فَاغْسِلُوا}

Maka basuhlah.....” (QS. Al-Maidah [5]: 6)

Maksudnya dengan air yang sudah jelas yang Allah kehendaki dalam firman-Nya pada ayat sebelumnya.

Atau ketika ia telah mengetahui firman Allah SWT:

{وَأَنْزَلْنَا مِنَ السَّمَاءِ مَاءً طَهُورًا}

“Dan Kami turunkan dari langit air yang amat bersih.” (QS. Al Furqan [25]: 48)

Ia menyangka hal itu berlaku khusus, maka ia pun menanyakannya. Lalu Nabi SAW menerangkan hukum air tersebut kepadanya, dan beliau menambahkan hukum yang tidak ditanyakannya bahwa bangkainya halal.

Ar-Rafi’i berkata: “Ketika Rasulullah SAW mengetahui bahwa hal itu samar bagi si penanya mengenai air laut, beliau khawatir kalau ia juga ragu mengenai bangkainya, sementara ia sering berlayar di laut, maka beliau melanjutkan jawabannya dari pertanyaan itu dengan menerangkan hukum bangkainya.

Ibnu Al Arabi berkata: “Yang demikian itu adalah hal yang dipandang baik dalam memberikan fatwa, yaitu dengan memberikan jawaban lebih banyak dari yang di atasnya, dalam rangka menyempurnakan faedah dan menerangkan ilmu lainnya yang tidak ditanyakan.” Dan hal itu lebih dipertegas lagi manakala jelas adanya kebutuhan mendesak terhadap hukum. Sebagaimana disebutkan di sini, bahwa seorang yang tidak mengetahui kesucian air laut, tentu lebih tidak mengetahui kehalalan bangkainya, meski hal itu lebih utama.

Yang dimaksud dengan bangkai air laut adalah binatang laut yang mati di dalamnya. Yakni binatang yang hanya bisa hidup di laut, tidak berarti setiap binatang yang mati di dalamnya secara mutlak. Karena meskipun secara bahasa memang benar bangkai laut, akan tetapi sudah maklum bahwa yang dimaksud adalah yang telah kami sebutkan. Zhahirnya, bahwa halal setiap yang mati di dalamnya, walaupun seperti anjing dan babi. Komentar mengenai hal tersebut akan disebutkan pada babnya. Insya Allah.***

[إبانة الأحكام]

Makna Hadis

Hadis ini merupakan salah satu asas bersuci yang mengandungi banyak hukum dan kaedah penting. Di dalam laut banyak terdapat haiwan yang kadang kala ada yang mati, sedangkan hukum bangkainya pula adalah najis. Rasulullah (s.a.w) memberitahu mereka bahawa hukum bangkai jenis ini berbeza dengan bangkai-bangkai yang selainnya. Baginda menegaskan demikian agar mereka tidak berprasangka bahawa air laut menjadi najis kerana ada bangkai haiwan laut yang mati di dalamnya, dan supaya mereka tidak mempunyai anggapan bahawa bangkai haiwan laut itu najis.
Dapat disimpulkan bahawa hadis ini merupakan jawapan ke atas soalan seorang sahabat yang bertanya dengan konteks seperti berikut: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami biasa menggunakan jalan laut dan kami hanya mampu membawa sedikit air tawar. Apabila air tawar yang kami bawa itu digunakan untuk berwuduk, nescaya kami akan kehausan, bolehkah kami berwuduk dengan menggunakan air laut?” Kemudian Rasulullah (s.a.w) memberikan pemahaman kepada mereka bahawa air laut itu suci lagi menyucikan (dapat digunakan untuk bersuci). Nabi (s.a.w) menambahkan hukum lain yang tidak ditanyakan, padahal itu semestinya turut ditanya namun tidak ditanya kerana kedudukan hukumnya yang tersembunyi. Hal tersebut ialah bangkai haiwan yang ada di dalam laut adalah halal dan tidak perlu disembelih lagi.

Analisis Lafaz

كِتَابُ menurut bahasa adalah himpunan dan kumpulan, sedangkan menurut istilah pula adalah nama kepada sejumlah pemasalahan ilmiah yang pada kebiasaannya terdiri daripada beberapa bab, beberapa fasal, dan beberapa masalah penting lain.

الطَّهَارَةِ menurut bahasa adalah kebersihan dan bebas dari segala kotoran, sedangkan menurut syarak pula ialah gambaran hukum yang pengertiannya menunjukkan bebas daripada hadas dan najis.

بَابُ menurut bahasa adalah tempat untuk masuk dan keluar, sedangkan menurut istilah dalam kitab ini pula adalah kata kiasan. Pengertian menyelami sesebuah permasalahan khusus diserupakan dengan memasuki tempat yang bersifat inderawi, kemudian digunakan perkataan الباب (pintu) yang bermaksud nama sebuah himpunan permasalahan ilmiah, memandangkan adanya kaitan tertentu antara kedua-dua pengertian tersebut.

الْمِيَاهِ bentuk jamak ماء manakala bentuk asalnya adalah موه. Oleh itu, huruf ha dikekalkan ketika dalam bentuk jamak, sebab bentuk jamak mengembalikan segala sesuatu kepada bentuk asal katanya. Pengertian lafaz ماء ialah nama jenis yang pengertiannya mencakupi sesuatu yang sedikit dan sesuatu yang banyak. Manakala maknanya pula ialah benda cair yang jernih atau bening yang dilihat berwarna mengikuti warna wadahnya, iaitu air.

نركب البحر kami biasa menaiki laut, maksudnya memakai jalan laut dengan naik perahu. Pengertian al-bahr dalam hadis ini ialah air laut bukannya air danau besar atau sungai besar yang juga termasuk ke dalam pengertian ini. Dikatakan demikian kerana itulah yang ditanyakan memandangkan rasanya asin, pahit dan berbau hanyir.

ونحمل معنا القليل من الماء, sedangkan kami hanya membawa sedikit persediaan air, maksudnya air tawar.

عطشنا nescaya kami akan mengalami kehausan kerana air tawar kami habis digunakan untuk bersuci.

 أفنتوضأ به Bolehkah kami berwuduk dengan menggunakan air laut? Huruf fa adalah huruf 'athaf yang berkaitan dengan lafaz yang tidak disebutkan; bentuk lengkapnya ialah اهو طهور فنتوضابه Ertinya “apakah air laut itu suci lagi menyucikan, lalu kami dapat berwuduk dengannya?” Sesungguhnya mereka tidak berani bersuci menggunakan air laut lantaran adanya alasan-alasan tadi, iaitu kerana airnya asin, pahit, dan berbau hanyir. Air yang memiliki ciri-ciri seperti itu tidak dapat diminum, lalu mereka meyakini bahwa air yang tidak dapat diminum juga tidak dapat digunakan untuk bersuci.

هُوَ الطَّهُورُ مَاؤُهُ air laut itu suci lagi menyucikan. Menyebut lafaz ماؤه memastikan bahawa dhamir yang ada pada lafaz هو merujuk kepada laut (al-bahr). Dhamir هو  berkedudukan sebagai mubtada'; lafaz الطَّهُورُ  berkedudukan sebagai mubtada' yang kedua, dan lafaz ماؤه  menjadi khabar kepada mubtada' yang kedua, sedangkan jumlah yang terdiri daripada mubtada' kedua dengan khabar-nya berkedudukan sebagai khabar kepada mubtada' yang pertama. Mubtada' dan khabar semuanya dalam bentuk ma'rifah; ungkapan seperti ini menunjukkan makna qasr, iaitu qasr sifat ke atas mausuf, apabila ditinjau dari segi mukhathab dinamakan qasr ta'yin (penentuan). Ini kerana orang yang bertanya merasa ragu sama boleh atau tidak berwuduk dengan air laut, lalu Rasulullah (s.a.w) menentukan bahwa berwuduk dengan air laut itu adalah dibolehkan menerusi sabdanya: “Laut itu airnya suci lagi menyucikan.”

الْحِلُّ مَيْتَتُهُ yakni halal bangkai haiwannya meskipun tanpa disembelih. Kalimat ini tidak di-'athaf-kan kepada kalimat sebelumnya kerana adanya munasabah (kaitan) di antara kedua-dua kalimat dalam hukum dan jika menggunakan 'athaf akan memberikan pengertian yang berlainan.

Fiqh Hadis

1. Orang yang tidak mengetahui suatu permasalahan dikehendaki menanyakannya kepada orang yang berilmu.
2. Dibolehkan menggunakan laut sebagai alat pengangkutan meskipun bukan untuk tujuan ibadah, karena si penanya sudah terbiasa menggunakan jalan laut untuk menangkap ikan.
3. Apabila khuatir akan mengalami kehausan, dibolehkan tidak menggunakan air minum untuk bersuci kerana adanya pengakuan daripada Rasulullah (s.a.w) terhadap si penanya untuk menjimat air minum dan tidak menggunakannya untuk bersuci.
4. Air laut suci lagi menyucikan dengan pengertian dapat menghilangkan hadas dan dapat membersihkan najis atau kotoran. Ikan tidak perlu disembelih kerana syariat telah menghalalkan bangkainya sama dengan ikan haiwan laut yang lain.
5. Halal memakan bangkai haiwan laut yang hanya hidup di dalamnya.
6. Dibolehkan menjawab lebih banyak daripada pertanyaan yang diajukan bagi menyempurnakan faedah dan untuk memberikan pengetahuan berkaitan perkara yang tidak ditanyakan.

Periwayat Hadis

Orang yang meriwayatkan hadis ini ialah Abu Hurairah (r.a), nama aslinya adalah 'Abdurrahman ibn Shakhr al-Yamani al-Dausi. Beliau masuk Islam pada tahun ke-7 Hijriah dan meriwayatkan sebanyak 5,374 hadis dan termasuk sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadis. Beliau meninggal dunia pada tahun 59 Hijriah dengan usia 78 tahun dan dikebumikan di Madinah.

Orang yang Menyebutkan Hadis

Mereka adalah al-Arba'ah, iaitu Abu Dawud, al-Nasa'i, al-Tirmizi, dan Ibn Majah. Ibn Abu Syaibah, nama aslinya adalah Abu Bakar 'Abdullah ibn Abu Syaibah, penulis kitab al-Musnad. Beliau adalah salah seorang di antara guru Imam al-Bukhari, Imam Abu Dawud dan Imam Ibn Majah. Al-Dzahabi mengatakan bahawa beliau adalah al-Hafiz yang tiada duanya dan orang yang dapat dijadikan sebagai rujukan di samping sangat 'alim.

Ibn Khuzaimah, nama aslinya ialah al-Hafiz al-Kabir Imam al-A'immah Syeikh al-Islam Abu Bakar Muhammad ibn Ishaq ibn Khuzaimah. Keimanan dan kedudukan al-Hafiz pada zamannya di Khurrasan sememangnya ada dalam genggaman tangannya.

Imam Malik ibn Anas ibn Malik ibn Anas al-Ashbahi al-Himyari dan julukannya adalah Abu 'Abdullah al-Madani. Beliau adalah salah seorang tokoh Islam, imam kepada para imam, dan imam kota Hijrah (Madinah). Imam al-Syafi'i banyak mengambil ilmu daripadanya. Imam al-Syafi‟i berkata: “Imam Malik adalah Hujjatullah ke atas makhluk-Nya setelah para tabi'in.” Beliau mengambil riwayat daripada Nafi' -pembantu Ibn 'Umar- dan al-Zuhri serta lain-lain dari kalangan tabi'in dan para pengikut tabi'in. Dilahirkan pada tahun 95 Hijriah dan meninggal dunia pada tahun 179 Hijriah dalam umur 84 tahun dan dikebumikan di al-Baqi'.

Imam al-Syafi'i, nama julukannya iaitu Abu 'Abdullah, sedangkan nama aslinya adalah Muhammad ibn Idris ibn al-'Abbas ibn 'Utsman al-Qurasyi al-Mutthalibi al-Hijazi al-Makki dan nasabnya berjumpa dengan nasab Rasulullah (s.a.w) pada 'Abd Manaf. Beliau dilahirkan pada tahun 150 Hijriah di Ghazzah dan menurut satu pendapat di 'Asqalan, hidup sebagai anak yatim di bawah asuhan ibunya dalam kehidupan yang serba sederhana dan keadaan yang susah. Sejak kecil, beliau belajar kepada ramai ulama. Beliau meninggalkan kota Mekah menuju Madinah untuk belajar kepada Imam Malik. Beliau kemudian berangkat ke Iraq hingga namanya terkenal di seluruh negeri Islam. Setelah itu, beliau berangkat menuju Mesir pada tahun 199 Hijriah dan meninggal dunia di Mesir pada tahun 204 Hijriah, dalam usia 54 tahun dan dikebumikan di Mesir.***

Penulis: Mualif
Editor: Muhamad Hanif Ja'far Shiddiq
©2022 Al-Marji'

Bagikan melalui:

Topik Pilihan