Biografi Singkat Imam As-Syaukani

  • ARTIKEL
  • Jumat, 15 Maret 2024 | 10:35 WIB
  • 63
foto

Foto: Muhamad Basuki

Riwayat Hidup Imam Al-Syaukani

Memiliki nama lengkap Muhammad ibn ‘Ali ibn Muhammad ibn ‘Abdullah al-Syaukani al-Shan’ani al-Yamani biasa dikenal dengan Imam al-Syaukani. Beliau lahir pada hari Senin, 28 Zulqaidah 1173 H bertempat di Syaukan kota dekat San’a, Yaman Utara kemudian meninggal pada hari Rabu, 27 Jumadil Akhir 1250 H. Nama al-Syaukani diambil dari desa tempat kelahirannya. Dalam jarak waktu kurang lebih 78 tahun, al-Syaukânî telah melahirkan banyak karya-karya brilian. Tafsir Fath al-Qadîr adalah salah satu dari karya al-Syaukânî yang cukup monumental. Al-Syaukânî dibesarkan oleh ayahnya yaitu Ali Al-Syukani yang pernah menjabat sebagai hakim di Yaman selama 40 tahun beliau dikenal pribadi yang sederhana dan kesuciannya. [1]

Sebelum mencapai 10 tahun ia telah mempelajari dan menghafal Al-Quran sekaligus menjadi acuan awal belajarnya. Imam Asy-Syaukani menyelesaikan hafalan Al-Quran yang diselesaikan kepada al-Faqih Hasan ibn Abdullah al-Habi. Kemudian meneruskan pelajarannya dengan mempelajari ilmu Tajwid pada beberapa guru sehingga ia menguasai bacaan Al-Quran dengan baik. Setelah itu, al-Syaukani menghafal berbagai matan dan prinsip- prinsip keilmuan. Kemudian Imam Al-Syaukani pindah ke ibukota Sana`a untuk menimba ilmu dari para ulama. [2]

Terkadang al-Syaukani merasa tidak puas dengan belajar sendiri melainkan mempelajari banyak kitab dari beberapa ulama. Imam al-Syaukani mendalami ilmu Hadits, Tafsir, dan Mushthalah Hadits kepada Abdul Qodir Ibnu Ahmad beliau seorang alim dan Mujtahid Mutlaq pada masanya. [3] kemudian al-Syaukani tidak pernah absen mengikuti pengajian kepada Ibnu Muthahhir al-Qabili selama kurang-lebih 13 tahun, dan lulus darinya dengan menguasai berbagai cabang keilmuan. Selanjutnya ia berinteraksi dan berguru dengan ulama besar pada masanya, yaitu Imam ash-Shan`ani rahimahullah. Dari Imam ash-Shan`ani, al-Syaukani mendapatkan ilmu yang berlimpah, mengikuti konsepnya, dan meneliti metodenya, sehingga ia menjadi salah seorang murid unggulannya. [4]

Hubungan Al-Syaukani dengan Syi’ah Zaidiyyah

Hubungan al-Syaukani dengan Syi`ah Zaidiyah bisa dikatakan sangat erat karena al-Syaukani sejak kecil telah diarahkan ayahnya untuk menjadi seorang ulama yang Zaidi. Beberapa pedoman penting mazhab Syi`ah Zaidiyah telah diajarkan kepada putranya. Akan tetapi, al-Syaukani juga mempelajari beberapa buku di luar pedoman mazhab Zaidi. Disebutkan bahwa al-Syaukani mempelajari kitab ushul fiqh Syafi'i, Syarh Jam' al-Jawami' karya Jalal al-Din al-Mahalli bimbingan al-Hasan Ibnu Isma`il al-Maghribi. Ia juga belajar kitab hadis hukum Bulugh al-Maram karya Ibnu Hajar al-Asqalani dan masih banyak lagi kitab-kitab Sunni yang dilalap habis oleh al-Syaukani baik melalui pengajaran gurunya maupun yang dibaca secara otodidak. Ini menjadi salah satu keunikan dari mufasir itu sendiri bahwa al-Syaukani memiliki pendapat yang lebih luas dibandingkan dengan ulama Syi’ah yang lain, bahkan kebanyakan dari mereka lebih jumud atau taqlid dan menolak mempelajari kitab-kitab karangan ulama sunni. Maka menarik untuk diteliti berkaitan dengan kecenderungan teologisnya tersebut. [5]

Dalam ushul fikih, Syi’ah Zaidiyah juga tidak banyak berbeda dengan Mazhab-Mazhab Sunni. Dalil hukum yang menjadi dasar Zaidiyah ada empat, yakni: al-Qur’an, Sunnah, maslahah al-mursalah, dan istihsan. Namun ketika tidak ada dalil Syara` sebagai landasan dalam menetapkan suatu hukum, maka mereka menggunakan dalil akal, dengan mengerahkan penalaran kapada illah hukum dan Maqasid al-‘Ammah li al-Syara` (tujuan utama syariat), kemudian dalam bidang fikih, Mazhab Zaidiyah lebih dekat kepada Mazhab-mazhab Ahl al-Sunnah dari pada Mazhab Fikih Syi`ah. Tegasnya bahwa diakui bahwa fikih Zaidi sebagai bentuk fikih yang memiliki bentuk tersendiri, namun tidak jauh berbeda dengan fikih Mazhab yang empat.). [6]

Dari keterangan tentang hubungan al-Syaukani dan Syi`ah Zaidiyah di atas, bisa difahami bahwa al-Syaukani dengan ajaran-ajaran dalam Syi`ah Zaidiyah sangat erat. Sebagaimana dipaparkan di atas, ajaran-ajaran Syi`ah Zaidiyah sangat dekat dengan ajaran yang dianut oleh Ahl al-Sunnah. Maka ajaran yang dianut oleh al-Syaukani juga tidak jauh dengan ajaran Ahl al-Sunnah. Selanjutnya, hubungan al-Syaukani dengan Syi`ah Zaidiyah adalah ketika al-Syaukani lahir di Yaman, paham yang berkembang pada masa itu adalah Syi`ah Zaidiyah. Hal ini menandakan bahwa al-Syaukani semenjak kecil sudah paham dan ajaran Syi`ah Zaidiyah. Maka tidak diragukan keyakinan dan hubungan al-Syaukani dengan Syi`ah Zaidiyah.

Guru-Guru Imam Al-Syaukani

Diantara guru-guru Imam al-Syaukani adalah:

  1. Ahmad ibn ‘Amir al-Hada’i (1127-1197H).
  2. Ahmad ibn Muhammad ibn al-Harazi, yang mengajarnya fiqih dan ushul fiqih hampir selama tiga belas tahun.
  3. Isma’il ibn al-Hasan ibn Ahmad al-Hasan (1120-1206) yang mengajarinya ilmu nahwu.
  4. Al-Hasan ibn Isma’il al-Maghribi (1162-1207H) gurunya dalam ilmu mantik, ushul fikih, hadis, musthalah hadis, dan tafsir.
  5. ‘Abdullah ibn Isma’il al-Nahmi (1150-1228 H) membimbingnya mempelajari nahwu, mantik, hadis, musthalah hadis, fikih, ushul fikih, tafsir, dan lain-lain.
  6. Al-Qasim ibn Yahya al-Khaulani (1162-1209 H) bermacam ilmu, seperti fikih, ushul fikih,hadis, musthalah hadis, tafsir, mantik, adab al-bahts wa al-munazharah diskusi.
  7. ‘Ali ibn Hadi ‘Urhab, yang mengajarinya ushul fikih.
  8. ‘Abd al- Qadir ibn Ahmad al-Kaukabani (1135-1207H) mengajarnya ilmu kalam, fikih, ushul fikih, hadis, bahasa dan sastra Arab, dan sebagainya.
  9. Hadi ibn Husain al-Qarini, yang membimbingnya membaca Syarh al-Jazariyyah (bermacam-macam bacaan qira’at al-qur’an)
  10. ‘Abd al-Rahman ibn Hasan al-Akwa (1135-1206H) membimbingnya membaca bagian awal dari kitab al-Syifa’karya al-Amir al-Husain.
  11. ‘Ali ibn Ibrahim ibn ‘Ali ibn Ibrahim ibn Ahmad ibn ‘Amir (1143-1207 H) Muslim, Sunan al- Tirmidzi, al-Muwatha’, dan lain-lain.
  12. Yahya ibn Muhammad al-Hautsi (1160-1247H). [7][8]

Murid-Murid Imam Al-Syaukani

Murid-murid imam al-Syaukani sangat banyak, semua muridnya menduduki posisi yang penting dalam bidang pengajaran, politik, fatwa serta lainnya. Disini hanya menyebutkan beberapa nama saja diantaranya adalah:

  1. Ahmad bin Husain al-Wazzanu ash-Shan’ani; ia belajar pada kajian Imam al-Syaukani di Masjid Agung Shan’a ia sangat menguasai Ilmu Hadis. Al-Syaukani mensifatinya dengan kemampuan yang bagus dalam menulis sastra dan syair.
  2. Ahmad bin Zain al-Kabsi Ash-Shan’ani; ia juga menimba ilmu pada kajian Imam al- Syaukani yang diadakan di Masjid Agung, ia belajar kepada gurunya Nahwu, Sharaf, ilmi al- Ma’ani, al-Bayan serta al-Badi’, ushul fikih, hadis, dan bidang- bidang yang lainnya. Ia sangat menguasai ilmu pengantar memahami tafsir, hadis, dan fikih.
  3. Al-Qadhi Al-Alamah Alhusain bin Qasam Al-Mujahid; ia belajar kepada 7 imam al-Syaukani ilmu hadis dan ushul fikih, ia selalu menemani. Gurunya untuk terus belajar saat berkunjung ke kota DziJabalah bersama Al-Imam Al-Mutawakil ‘Alallah.
  4. Hasan bin Ahmad ibn Yusuf ibn Yusuf Al-Raba’i Ash-Shanna’ni; tentang muridnya ini Syaukani berkata; “sesungguhnya ia termasuk orang besar dan pembawa ilmu”.
  5. Al-Qadhi Al-Allamah Al-Husai bin Muhammad bin Abdullah Al-Ansi Ash-Shan’ani Al- Kaukabani; diangkat oleh Imam Al-Mahdi Lidinaillah untuk menjadi gubernur kota Zabid pada tahun 1235 H.
  6. As-Sayyid Al-Allamah Isma’il bin Ibrahim Al-Hasan bin Yusuf bin Al- Imam Al-Mahdi Muhammad bin Hasan bin Al-Imam Al-Qasim; berguru kepada Asy-Syaukani lebih dari 40 tahun.
  7. Al-Qadhi al-Allamah Ali Abdullah Al-Haimi.
  8. Al-Imam Al-Abbas bin Abdurrahman Asy-Syahari; beliau di baiat oleh para ulama menjadi Imam di Shan’a, ia menimba ilmu dari Imam Asy-Syaukani dari ulama lainnya, wafat tahun 1298 H. [9]

Ketekunan al-Syaukani dalam belajar dan membaca telah dapat mengantarkannya menjadi seorang ulama. Dari itu, dari usia yang sangat muda, kurang dua puluh tahun, ia telah diterima oleh masyarakat kota Sana`a dan sekitarnya untuk memberikan fatwa dalam berbagai masalah keagamaan. Itulah sebagian kecil dari murid-murid al-Syaukani yang mewarisi ilmunya dan mengembangkan ilmu tersebut keberbagai daerah di Yaman dan sekitarnya. Dengan demikian, apa yang dihimbau oleh al-Syaukani di dalam karya-karyanya, disebarkan oleh para murid tersebut.

Karya-Karya Imam Al-Syaukani

Dalam pendahuluan kitab tafsir Fath al-Qadr, disebutkan bahwa sebanyak 36 karya Imam al-Syaukani sudah diterbitkan dalam bentuk kitab/buku dan 14 buah karya tulisnya dalam bentuk manuskrip.[10] Karna karyanya yang begitu banyak, dalam hal ini, penulis hanya menyebutkan karya yang sudah di terbitkan:

  1. Ithaf al-Akabir bi Isnad al-Dafair
  2. Al-Fawaid al-Majmua’ah fi al-Hadists al-Maudu’ahwa Ghairuha.
  3. Irsyat al-Siqat ila Ittifaq al-Syara’I ‘ala Tauhid wa al-Ma’ad wa al- Nibuwwat
  4. Bahs Anna Ijabah al-Du’a la Yunafi Sabaq al-Qada’
  5. Al-Dur al-Nadid fi Ikhlas Kalimat al-Tauhid
  6. Al-Dar al-‘Ajil fi Dar’al-‘Addad al-Sa’il
  7. Al-Sail al-Jaraj al-Mutadaffq ‘ala Hada’iq al-Azhar
  8. Irsyad al-Sa’il ila Dala’il al-Masa’il
  9. Al-Misk al Fatih fin at al-Jawa’ih
  10. Ibtal da wa al-Ijma’ ‘ala Mutlaq al-SuQa’ , dan lain-lain
  11. Isykal al-Sa’il ‘Ilaq Tafsir “wa al-qamara Qaddarnahu Manazil”
  12. Fath al-Qadir, Aljami’ bain Fanna al-Darayah wa al-Riwayah Min’ilm al-Tafsir
  13. Tuhfah al-Dzakirin Bu’dah al-Hisn al-Hasin min Kalam Sayid al-Mursalin
  14. Al-Idah li Ma’na al-Taubah wa al-Idah
  15. Bants fi Syarh Aulih Sallahu ‘Aliah Wassalam “wa al-Dunya Ma’lunah Mal’unah Mafiha
  16. Bahts fi al-Salah ‘ala al-Nabi Muhammad Saw
  17. Bahts fi al-Rad ‘ala al-Zamakhhsyari fi Istihsan bait al-Rabbah
  18. Nuzhah al-Ihdaq fi ‘ilm al-iIyitiqaq
  19. Bahts fi ‘Ilm bi al-Khat bi Majmu’
  20. Bahts fi Wujud al-Jinn
  21. Risalah fi al-Kusuf hal Yakun fi Waqt Mu’ayyun ila’ al-Qata ‘am Dzalik Yakhtalif
  22. Al-Raud al-Wasi’ fi al-Dalil’ala ‘Adam Inhisar ‘Ilmal-badi’
  23. Al-Qaul al-Hasan fi Qada’il ahl al-Yumm
  24. Al-Qaul al Maqbulfi Faida al- Guyul wa al-Suyul
  25. Bahts fi al-Had al-Tam wa al-Had al-Naqis
  26. Fath al-Khilaf fi Jawab Masa’il ‘Abdurrazzaq al-Hind fi ‘Ilm al-Mantiq
  27. Al-Badr al-Tali’ bi Mahasin min Ba’d al-Qur’an al-Sabi’. Serta kitab-kitab lainnya yang bermanfaat. [11]

---

  1. Al-Syaukani, Fath-hul Qadiir al-Jaami’ Bayna Fannay ar-Riwaayah Wa ad-Diraayah Min ‘Ilm at- Tafsiir. Juz I, (Beirut: Darul Ma’rifah, 2007), hlm. 4
  2. Ibid, hlm. 4
  3. Ibid, hlm. 4
  4. Ibid, hlm. 5-6
  5. Muhammad ibn Ali Muhammad Al-Syaukani, Nail alAuthar, Muntaqa al-Akhbar, cet III (Beirut: Dar al- Fikr, 1961).juz 1, hlm. 215
  6.  
  7. Al-Syaukani, Fath-hul Qadiir al-Jaami’ Bayna Fannay ar-Riwaayah Wa ad-Diraayah Min ‘Ilm at- Tafsiir. Juz I, (Beirut: Darul Ma’rifah, 2007), hlm. 5
  8. Imam Al-Syaukani, al-Badr al-Tali’ bin Mahasin man al-Qorn al-Sabi’ Juz II, (beirut, Dar Al-Ma’rifah, 2007). hlm. 215 M. Hasan Jamal, Hayatul Ummah, terj. M.Khaled Muslih Dkk, (Jakarta: Pustaka Kautsar, 2005), cet I,
  9. hlm. 277
  10. Al-Syaukani, Fath-hul Qadiir al-Jaami’ Bayna Fannay ar-Riwaayah Wa ad-Diraayah Min ‘Ilm at- Tafsiir. (Beirut: Darul Ma’rifah, 2007), hlm. 7
  11. Abu ‘Abdillah, Muhammad Ali Hamud an-Najdi, al-Qaul al-Mukhtashar al-Mubin Fi Manaahij al- Mufassirin, (Beirut: Darul Fikr, 2001), hlm.56

Penulis: Muhamad Basuki
Editor: Abu Halima
©2024 Al-Marji'

Bagikan melalui:

Topik Pilihan