Bulughul Maram

Kitab Puasa: Larangan Mendahului dengan Berpuasa Sebelum Masuk Bulan Ramadan

  • ARTIKEL
  • Kamis, 14 Maret 2024 | 10:54 WIB
  • 52
foto

Foto: Muhamad Basuki

Cover halaman dalam kitab Bulughul Maram

كِتَابُ الصِّيَامِ

650 - عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ - رضي الله عنه - قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم: «لَا تَقَدَّمُوا رَمَضَانَ بِصَوْمِ يَوْمٍ وَلَا يَوْمَيْنِ, إِلَّا رَجُلٌ كَانَ يَصُومُ صَوْمًا, فَلْيَصُمْهُ». مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ. (1)
__________
(1) - صحيح. رواه البخاري (1914)، ومسلم (1082) واللفظ لمسلم.

602. Dari Abu Hurairah r.a. berkata, Rasulullah Saw. bersabda, "Janganlah kalian mendahului Ramadan dengan puasa sehari atau dua hari, kecuali seseorang yang telah terbiasa melakukan puasa, maka hendaklah ia berpuasa." (Muttafaq alaih)

ــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Secara bahasa puasa bermakna menahan. Kata menahan di sini mencakup makna secara umum, baik menahan diri dari perkataan maupun perbuatan [muamalah] terhadap manusia, hewan dan yang lainnya. Abu Ubaid berkata, “Setiap orang yang menahan diri dari perkataan, makanan atau perjalanan, maka ia dalam orang yang berpuasa.”

Secara istilah puasa adalah menahan diri dari makan, minum, bersetubuh dan lain sebagainya, yang telah disebutkan oleh syariat, pada siang hari sesuai dengan tata cara yang telah disyariatkan. Selain itu, puasa juga bermakna menahan diri dari perkataan keji, sia-sia dan perkataan-perkataan yang diharamkan atau makruh berdasarkan hadits-hadits yang melarang hal tersebut selama berpuasa. Hal ini berlaku pada waktu yang telah ditetapkan dengan syarat-syarat tertentu yang akan dijelaskan oleh hadits-hadits berikut ini.

Penjelasan Kalimat

Dari Abu Hurairah r.a. berkata, Rasulullah Saw. bersabda, "Janganlah kalian mendahului Ramadan (menunjukkan bahwa kata Ramadan digunakan untuk nama bulan Ramadan.

Di dalam hadits Abu Hurairah r.a. yang diriwayatkan oleh Ahmad dan yang lainnya secara marfu’ disebutkan:

«لَا تَقُولُوا: جَاءَ رَمَضَانُ فَإِنَّ رَمَضَانَ اسْمٌ مِنْ أَسْمَاءِ اللَّهِ وَلَكِنْ قُولُوا: جَاءَ شَهْرُ رَمَضَانَ»

"Janganlah kalian mengatakan, Ramadan telah datang, karena Ramadan adalah salah satu nama dari nama-nama Allah, akan tetapi katakanlah, Bulan Ramadan telah tiba."

Hadits ini adalah hadits dhaif yang tidak bisa membantah apa yang telah dijelaskan di dalam hadits shahih)

dengan puasa sehari atau dua hari, kecuali seseorang yang telah terbiasa melakukan puasa, maka hendaklah ia berpuasa.”

Tafsir Hadis

Hadits ini menunjukkan haramnya berpuasa sehari atau dua hari sebelum masuknya bulan Ramadan. Setelah meriwayatkan hadits ini, at-Tirmidzi berkata, "Para ahli ilmu mengamalkan hadits ini, mereka memakruhkan mendahului puasa bulan Ramadan sebelum masuknya bulan Ramadan karena makna Ramadan." Ungkapan beliau –karena makna Ramadan- ialah batasan larangan tersebut. Maksudnya, puasa yang dilarang adalah puasa yang sengaja dilakukan, sebagai antisipasi sekiranya telah masuk bulan Ramadan. Beda halnya jika puasa tersebut ialah puasa mutlak seperti puasa sunnah secara umum, puasa nadzar dan sebagainya.

Menurut saya, jika demikian halnya, berarti diperbolehkan mendahului Ramadan dengan puasa apa saja, yang tentunya hal ini bertentangan dengan zhahir hadits tersebut, karena hadits tersebut melarang puasa apa saja kecuali seseorang yang telah terbiasa melakukan suatu puasa yang bertepatan dengan akhir bulan Sya’ban, seandainya Rasulullah Saw. ingin mengatakan bahwa yang beliau maksud dengan puasa di atas ialah puasa yang dikaitkan dengan Ramadan, tentulah beliau akan mengatakan, ‘... kecuali seseorang yang melakukan puasa sunnah.’ Atau yang semisal dengannya. Semua itu karena syariat telah mengaitkan masuknya kewajiban puasa bulan Ramadan dengan ru’yah hilal, maka orang yang mendahului puasa Ramadan ia telah melanggar larangan dan perintah yang ada di dalam berbagai nash.

Hadits ini sekaligus membatalkan amaliyah golongan bathiniyah yang terbiasa mendahului puasa Ramadan dengan puasa sehari atau dua hari sebelum mereka melihat hilat bulan Ramadan. Mereka mempunyai penafsiran lain terhadap hadits berikut:

«صُومُوا لِرُؤْيَتِهِ»

"Berpuasalah kalian karena melihat hilal."

Mereka mengatakan bahwa makna huruf ‘lam’ di dalam hadits tersebut adalah berpuasalah kalian untuk menyambutnya. Karena huruf ‘lam’ di dalam hadits ini tidak berarti ‘menyambut’ sebagaimana yang mereka katakan, walaupun terkadang huruf ‘lam’ memang digunakan untuk makna tersebut. Maka, sebagian ulama mengatakan, bahwa larangan mendahului bulan Ramadan dengan puasa mulai pertengahan bulan Sya’ban, yaitu pada tanggal enam belas, berdasarkan hadits Abu Hurairah RA yang diriwayatkan secara marfu’:

«إذَا انْتَصَفَ شَعْبَانُ فَلَا تَصُومُوا»

“Jika bulan Sya’ban telah mencapai pertengahannya, maka janganlah kalian berpuasa.”

Diriwayatkan oleh Ashabus Sunan, juga yang lainnya.

Ada yang mengatakan, bahwa berpuasa setelah pertengahan Sya’ban hukumnya makruh dan berpuasa satu atau dua hari sebelum masuknya bulan Ramadan hukumnya haram.

Ada juga yang berpendapat bahwa berpuasa dari pertengahan bukan Sya’ban hingga satu atau dua hari sebelum Ramadan pada dasarnya diperbolehkan, sedangkan hadits Abu Hurairah RA di atas adalah hadits dhaif. Ahmad dan Ibnu Ma’in mengatakan bahwa hadits tersebut adalah mungkar, sedangkan haramnya berpuasa pada satu atau dua hari sebelum memasuki bulan Ramadan berdasarkan hadits bab ini. dan ini adalah pendapat yang bagus.

Teks Arab

الصِّيَامُ لُغَةً الْإِمْسَاكُ وَفِي الشَّرْعِ إمْسَاكٌ مَخْصُوصٌ وَهُوَ الْإِمْسَاكُ عَنْ الْأَكْلِ وَالشُّرْبِ وَالْجِمَاعِ وَغَيْرِهِمَا مِمَّا وَرَدَ بِهِ الشَّرْعُ فِي النَّهَارِ عَلَى الْوَجْهِ الْمَشْرُوعِ وَيَتْبَعُ ذَلِكَ الْإِمْسَاكُ عَنْ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ وَغَيْرِهِمَا مِنْ الْكَلَامِ الْمُحَرَّمِ وَالْمَكْرُوهِ لِوُرُودِ الْأَحَادِيثِ بِالنَّهْيِ عَنْهَا فِي الصَّوْمِ زِيَادَةً عَلَى غَيْرِهِ فِي وَقْتٍ مَخْصُوصٍ بِشُرُوطٍ مَخْصُوصَةٍ تُفَصِّلُهَا الْأَحَادِيثُ الْآتِيَةُ.
وَكَانَ مَبْدَأُ فَرْضِهِ فِي السَّنَةِ الثَّانِيَةِ مِنْ الْهِجْرَةِ.

[كِتَابُ الصِّيَامِ]

(عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ - رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ - قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: «لَا تَقَدَّمُوا رَمَضَانَ» فِيهِ دَلِيلٌ عَلَى إطْلَاقِ هَذَا اللَّفْظِ عَلَى شَهْرِ رَمَضَانَ: وَحَدِيثُ أَبِي هُرَيْرَةَ عِنْدَ أَحْمَدَ وَغَيْرِهِ مَرْفُوعًا «لَا تَقُولُوا: جَاءَ رَمَضَانُ فَإِنَّ رَمَضَانَ اسْمٌ مِنْ أَسْمَاءِ اللَّهِ وَلَكِنْ قُولُوا: جَاءَ شَهْرُ رَمَضَانَ» حَدِيثٌ ضَعِيفٌ لَا يُقَاوِمُ مَا ثَبَتَ فِي الصَّحِيحِ (بِصَوْمِ يَوْمٍ وَلَا يَوْمَيْنِ إلَّا رَجُلٌ) كَذَا فِي نُسَخِ بُلُوغِ الْمَرَامِ وَلَفْظُهُ فِي الْبُخَارِيِّ " إلَّا أَنْ يَكُونَ رَجُلٌ " قَالَ الْمُصَنِّفُ يَكُونُ تَامَّةٌ أَيْ يُوجَدُ رَجُلٌ وَلَفْظُ مُسْلِمٍ " إلَّا رَجُلًا "، قُلْت: وَهُوَ قِيَاسُ الْعَرَبِيَّةِ؛ لِأَنَّهُ اسْتِثْنَاءٌ مُتَّصِلٌ مِنْ مَذْكُورٍ (كَانَ يَصُومُ صَوْمًا فَلْيَصُمْهُ " مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ) الْحَدِيثُ دَلِيلٌ عَلَى تَحْرِيمِ صَوْمِ يَوْمٍ أَوْ يَوْمَيْنِ قَبْلَ رَمَضَانَ قَالَ التِّرْمِذِيُّ بَعْدَ رِوَايَةِ الْحَدِيثِ: وَالْعَمَلُ عَلَى هَذَا عِنْدَ أَهْلِ الْعِلْمِ كَرِهُوا أَنْ يَتَعَجَّلَ الرَّجُلُ الصِّيَامَ قَبْلَ دُخُولِ رَمَضَانَ لِمَعْنَى رَمَضَانَ انْتَهَى. وَقَوْلُهُ: " لِمَعْنَى رَمَضَانَ " تَقْيِيدٌ لِلنَّهْيِ بِأَنَّهُ مَشْرُوطٌ بِكَوْنِ الصَّوْمِ احْتِيَاطًا لَا لَوْ كَانَ الصَّوْمُ صَوْمًا مُطْلَقًا

---

Sumber: 1. Bulugh al-Maram min Adillat al-Ahkam karangan Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani (773 H - 852 H) 2. Subulus Salam Karangan Imam Ash-Shan'ani (w. 1182 H). 3. Ibanatul Ahkam Karangan Alawi Abbas Al-Maliki (w. 1391 H) dan  Hasan Sulaiman An-Nuri. Untuk kitab Ibanatul Ahkam jilid 3 dan 4 dilanjutkan oleh Abu Abdullah bin Abd al-Salam ‘Allusy.

Penulis: Mualif
Editor: Abu Halima
©2024 Al-Marji'

Bagikan melalui:
Artikel Terkait

    Topik Pilihan