Istilah-Istilah Dasar dalam Ilmu Hadis

  • ARTIKEL
  • Rabu, 13 Maret 2024 | 16:15 WIB
  • 95
foto

Foto: Muhamad Basuki

Oleh Muhammad Farid Wajdi, S.H.I., M.M. *)

Berikut ini 24 Istilah Dasar dalam Ilmu hadis, yang mencerminkan sifat dan ciri dari sebuah hadis:

  1. Al jarhu wa ta’dil:  Pernyataan adanya cela dan cacat, dan per-nyataan adanya “al-`Adalah” dan “hafalan yang bagus” pada seorang rawi hadis.
  2. At-Ta’dil: Pernyataan adanya “al-`Adalah” pada diri seorang rawi.
  3. Al-Jarhu: Celaan yang dialamatkan pada rawi hadis yang dapat mengganggu (atau bahkan meng-hilangkan) bobot predikat “al-Adalah” dan “hafalan yang bagus”, dari dirinya.
  4. Tsiqah: Kredibel, di mana pada diri seorang rawi terkumpul sifat al-`Adalah dan adh-Dhabt (hafalan yang bagus).
  5. Rawi La Ba`sa Bihi: Rawi yang masuk dalam kategori tsiqah.
  6. Jayyid: Baik
  7. Layyin: Lemah.
  8. Majhul: Rawi yang tidak diriwayatkan darinya kecuali oleh seorang.
  9. Mubham: Rawi yang tidak diketahui nama (identitas)nya.
  10. Mudallis: Rawi yangi melakukan tadlis.
  11. Rawi Mastur: Sama dengan Majhul al-Hal (Rawi yang tidak diketahui jati dirinya).
  12. Perawi Matruk: Perawi yang dituduh berdusta, atau perawi yang banyak melakukan kekeliruan, sehingga periwayatanya bertentangan dengan periwayatan perawi yang tsiqah. Atau perawi yang sering meriwayatkan hadis-hadis yang tidak dikenal (gharib) dari perawi yang terkenal tsiqah.
  13. Rawi Mudhtharib, yaitu Rawi yang menyampaikan riwayat secara tidak akurat, di mana riwayat yang disam-paikannya kepada rawi-rawi di bawahnya berbeda antara yang satu dengan lainnya, yang menyebabkan tidak dapat ditarjih; riwayat siapa yang mahfuzh (terjaga).
  14. Rawi Mukhtalith, yaitu Rawi yang akalnya terganggu, yang menyebabkan hafalannya menjadi campur aduk dan ucapannya menjadi tidak teratur.
  15. Rawi yang tidak dijadikan sebagai hujjah: Rawi yang hadisnya diriwayatkan dan ditulis tapi hadisnya tersebut tidak bisa dijadikan sebagai dalil dan hujjah.
  16. Saqith: Tidak berharga karena terlalu lemah (parahnya illat yang ada di dalamnya).
  17. Tadh’if: Pernyataan bahwa hadis atau rawi bersangkutan dha`if (lemah).
  18. Tahqiq: Penelitian ilmiah secara seksama tentang suatu hadis, sehingga mencapai kebenaran yang paling tepat.
  19. Tahsin: Pernyataan bahwa hadis bersangkutan ada-lah hasan.
  20. Ta’liq: Komentar, atau penjelasan terhadap suatu potongan kalimat, derajat hadis dan sebagainya yang biasanya berbentuk catatan kaki.
  21. Takhrij: Mengeluarkan suatu hadis dari sumber-sum-bernya, berikut memberikan hukum atasnya; shahih atau dha`if.
  22. Syahid: hadis yang para rawinya ikut serta meriwayatkannya bersama para rawi suatu hadis, dari segi lafazh dan makna, atau makna saja; dari sahabat yang berbeda.
  23. Syawahid: hadis-hadis pendukung, jamak dari kata syahid. hadisnya layak dalam kapasitas syawahid, artinya, dapat diterima apabila ada hadis lain yang memperkuatnya, atau sebagai yang me-nguatkan hadis lain yang sederajat dengannya.
  24. Mutaba`ah: hadis yang para rawinya ikut serta meriwayatkannya bersama para rawi suatu hadis gharib, dari segi lafazh dan makna, atau makna saja; dari seorang sahabat yang sama.

Semoga dapat dipahami. Barakallahu fiikum. (*)

(* Muhammad Farid Wajdi, S.H.I., M.M., Guru Al-Qur’an-hadis/Pengasuh Ponpes Modern Putri IMMIM Minasatene-Pangkep.

Sumber: klik

Penulis: Mualif
Editor: Abu Halima
©2024 Al-Marji'

Bagikan melalui:

Topik Pilihan