Mukhtarul Ahadis

21. Jalan Menuju Insan Kamil

  • ARTIKEL
  • Jumat, 23 Februari 2024 | 08:05 WIB
  • 55
foto

Foto: Muhamad Basuki

Foto halaman dalam kitab Mukhtarul Ahadis

اتقِ المحارمَ تكنْ أعبدَ الناسِ ، وارْضَ بما قسم اللهُ لكَ تكنْ أغنى الناسِ ، وأحسنْ إلى جارِكَ تكنْ مؤمنًا وأحبَّ للناسِ ما تحبُّ لنفسِكَ تكنْ مسلمًا، ولا تكثرِ الضحكَ ، فإنَّ كثرةَ الضحكِ تميتُ القلبَ
الراوي: أبو هريرة • العجلوني، كشف الخفاء (١/٤٤) • إسناده ضعيف • أخرجه الترمذي (٢٣٠٥)، وأحمد (٨٠٨١).

Peliharalah dirimu dari hal-hal yang diharamkan, niscaya kamu mejadi orang yang paling mengabdi (beribadah), dan ridhalah dengan apa yang telah diberikan Allah kepadamu, niscaya kamu menjadi orang paling kaya. Berbuat baiklah terhadap tetanggamu, niscaya kamu menjadi orang beriman. Cintailah orang lain seperti kamu mencintai diri sendiri, niscaya kamu menjadi orang islam. Dan janganlah kamu banyak tertawa karena banyak tertawa itu dapat mematikan hati. (Riwayat Ahmad melalui Abu Hurairah Ra.)

Barangsiapa yang ingin menjadi hamba yang paling beribadah, maka hendaklah ia menjauhi perkara-perkara yang diharamkan. Hal ini ditegaskan dalam firman-Nya,

اِنْ تَجْتَنِبُوْا كَبَاۤىِٕرَ مَا تُنْهَوْنَ عَنْهُ نُكَفِّرْ عَنْكُمْ سَيِّاٰتِكُمْ وَنُدْخِلْكُمْ مُّدْخَلًا كَرِيْمًا ﴿النّساء [٤]:٣١﴾

Jika kalian menjauhi dosa-dosa besar di antara dosa-dosa yang dilarang kalian mengerjakannya, niscaya Kami hapus kesalahan-kesalahan kalian dan Kami masukkan kalian ke tempat yang mulia (surga). (an-Nisa: 31)

Puaslah dengan apa yang telah diberikan Allah untukmu, niscaya engkau menjadi orang yang paling kaya. Orang yang merasa puas dengan pemberian Allah Swt. berarti ia adalah orang yang bersyukur, tetapi kebalikannya, apabila ia tidak mensyukuri nikmat pemberian Allah berarti ia adalah orang yang ingkar. Dalam hadis lain, yaitu sewaktu Rasulullah Saw. bersabda kepada Tsa`labah disebutkan, "Rezeki sedikit yang engkau syukuri adalah lebih baik daripada banyak rezeki yang tidak engkau syukuri." Dan memang benarlah apa yang dikatakan oleh Nabi Saw. itu; ketika Tsa`labah makin bertambah kaya dan banyak rezekinya, ia makin kurang puas. Sebagai buktinya ia makin menjauh dari masjid, dan bahkan lama-kelamaan ia tidak datang sama sekali ke masjid. Lain halnya sewaktu ia miskin, ia rajin ke masjid tanpa ketinggalan. Hal itu terjadi karena ia tidak mau menuruti apa yang disabdakan oleh Nabi Saw.

Berbuat baik kepada tetangga merupakan hal yang dianjurkan, bahkan syariat Islam menyejajarkannya dengan iman. Dalam hadis lain disebutkan, "Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, maka hendaklah ia menghormati tetangganya."

Mencintai sesama muslim merupakan hal yang dianjurkan oleh syariat Islam karena sesungguhnya muslim terhadap muslim lainnya bagaikan satu tubuh, apabila salah satu anggotanya merasa sakit, maka sakitlah seluruh anggota tubuh lainnya. Dalam hadis lain disebutkan, "Tidak beriman seseorang di antara kalian sebelum ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri." Allah Swt. telah berfirman sehubungan dengan sikap para sahabat Anshar yang terpuji, yaitu:

وَيُؤْثِرُوْنَ عَلٰٓى اَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ ۗوَمَنْ يُّوْقَ شُحَّ نَفْسِهٖ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَۚ

Dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin) atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. (al-Hasyr: 9)

Pada bagian terakhir dari hadis ini Nabi Saw. melarang kita banyak tertawa karena sesungguhnya banyak tertawa itu dapat mematikan hati. Atau dengan kata lain, hati akan menjadi keras dan kesat sehingga hati orang yang bersangkutan enggan menerima petunjuk dan nasihat yang baik.

Penulis: Mualif
Editor: Abu Halima
©2024 Al-Marji'

Bagikan melalui:

Topik Pilihan