Bulughul Maram

Kitab Thaharah: Bab Air - Najis Pada Tanah Menjadi Suci dengan Disiram Air - Hadis No. 12

  • ARTIKEL
  • Rabu, 13 April 2022 | 03:38 WIB
  • 399
foto

Foto: arafuru.com

Air kencing manusia termasuk najis, maka wajib untuk dibersihkan.

12 - وَعَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ - رضي الله عنه - قَالَ: جَاءَ أَعْرَابِيٌّ فَبَالَ فِي طَائِفَةِ الْمَسْجِدِ, فَزَجَرَهُ النَّاسُ, فَنَهَاهُمْ النَّبِيُّ - صلى الله عليه وسلم - فَلَمَّا قَضَى بَوْلَهُ أَمَرَ النَّبِيُّ - صلى الله عليه وسلم - بِذَنُوبٍ مِنْ مَاءٍ; فَأُهْرِيقَ عَلَيْهِ. مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ. (1)
__________
(1) - صحيح. رواه البخاري (219)، ومسلم (284)، وله طرق عن أنس، وجاء أيضا من رواية بعض الصحابة غير أنس.

10. Dari Anas bin Malik RA ia berkata, ‘Seorang Arab Badui datang, lalu kencing di sudut masjid, maka orang-orang membentaknya, dan Nabi SAW melarang mereka. Setelah ia selesai kencing, Nabi SAW menyuruh untuk mengambil air satu timba, lalu dituangkan di tempat yang kena najis tersebut. (Muttafaq alaih)

[Shahih: Al Bukhari 221, Muslim 284]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Biografi Perawi

Anas bin Malik  adalah Abu Hamzah Khazraji pelayan Rasulullah SAW sejak beliau datang ke Madinah hingga wafatnya. Ketika Rasulullah SAW datang ke Madinah, Anas baru berumur 10 atau 9 atau 8 tahun, dalam hal ini terdapat beberapa pendapat. Ia tinggal di Bashrah sejak masa Khilafah Umar untuk mengajar kepada umat manusia. Umurnya panjang hingga 103 tahun. Ada yang mengatakan kurang dari itu. Ibnu Abdil Barr berkata, “Pendapat yang paling shahih adalah 99 tahun.” Ia adalah shahabat yang terakhir meninggal dunia di Bashrah yaitu pada tahun 91 atau 92 atau 93 H.

Penjelasan Kalimat

‘Seorang Arab Badui datang, (dinisbatkan kepada Al Arab yaitu mereka yang tinggal di pedesaan baik orang Arab maupun non Arab. Disebutkan namanya adalah Dzul Khuwaisharah Al Yamani, bertabiat kasar) lalu kencing di sudut masjid, (yaitu sudut Ath Thaifah, adalah bagian dari sesuatu) maka orang-orang membentaknya, (yakni menghardik).

Dalam lafazh lain:

[فَقَامَ إلَيْهِ النَّاسُ لِيَقَعُوا بِهِ]

‘maka orang-orang menuju kepadanya untuk memukulnya’

[shahih: shahih Al Bukhari 5777]

Dalam lafazh lain:

فَقَالَ أَصْحَابُ رَسُولِ اللَّهِ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - مَهْ، مَهْ،

‘maka para shahabat Rasulullah SAW berkata ‘mah..mah..’

[shahih: shahih Muslim 285]

dan Nabi SAW melarang mereka. (dengan mengatakan):

[دَعُوهُ]

biarkanlah dia.

Dalam lafazh lain:

لَا تَزْرِمُوهُ

janganlah kalian memutuskannya.”)

[Shahih: Shahih Al Bukhari 5679, Muslim 285]

Setelah ia selesai kencing, Nabi SAW menyuruh untuk mengambil air satu timba, (yaitu satu timba penuh. Pendapat lain mengatakan yang banyak) dari air (sebagai bentuk penegasan, jika bukan sebagai penegasan maka telah ditunjukkan oleh lafazh (الذَّنُوبِ) (satu timba air) sama dengan (كَتَبْت بِيَدَيَّ) (saya menulis dengan tanganku). Dalam satu riwayat (سَجْلًا), artinya satu timba, lalu dituangkan di tempat yang kena najis tersebut.

Tafsir Hadits

Dalam hadits tersebut terdapat dalil yang menunjukkan najisnya air kencing manusia, dan ini merupakan ijma ulama. Juga menunjukkan bahwa bumi itu dapat disucikan dengan air sebagaimana najis-najis lainnya. Lalu, apakah najis bisa disucikan dengan selain air? Ada yang berpendapat bahwa dapat disucikan oleh matahari dan angin, karena pengaruh keduanya dalam menghilangkan najis lebih besar daripada air, dan berdasarkan hadits:

[زَكَاةُ الْأَرْضِ يُبْسُهَا]

sucinya bumi itu ketika telah kering.”

[HR. Ibnu Abi Syaibah dalam Al Mushanaf 624, merupakan perkataan Abu Ja’far –ebook editor]

Pendapat ini dikemukakan oleh Ibnu Abi Syaibah. Dapat dijawab bahwa ia menyebutkannya secara mauquf bukan sabda Rasulullah SAW. sebagaimana Abdurrazzaq menyebutkan hadits Abu Qilabah mauquf atasnya dengan lafazh:

جُفُوفُ الْأَرْضِ طَهُورُهَا

Keringnya bumi itu –menunjukkan- sucinya tempat tersebut.”

[HR. Abdurrazaq dalam Al Mushanaf 5143, merupakan perkataan Abu Qilabah –ebook editor]

Maka keduanya tidak dapat dijadikan hujjah.

Hadits tersebut dengan jelas menunjukkan bahwa dengan menuangkan air dapat menyucikan tanah, baik tanah yang lunak maupun keras. Ada yang mengatakan bahwa harus mencuci tanah yang keras sebagaimana benda-benda lainnya yang terkena najis, karena tanah Masjid Rasulullah SAW ketika itu lunak maka cukup dengan menuangkan air di atasnya. Hadits tersebut juga menjelaskan bahwa sucinya tanah tidak hanya dengan meresapnya air, karena beliau SAW tidak mensyaratkan sesuatu atas kencing seorang Arab Badui, pendapat ini yang dipilih oleh Al Mahdi dalam Al Bahr. Dan bahwa tidak diisyaratkan menggali dan membuang tanahnya.

Abu Hanifah berkata, “jika tanahnya keras, maka harus digali dan dibuang tanahnya, karena air tidak mengenai semua bagian atas dan bagian bawahnya. Juga karena diriwayatkan dalam sebagian jalan hadits ini, bahwa Rasulullah SAW bersabda:

«خُذُوا مَا بَالَ عَلَيْهِ مِنْ التُّرَابِ وَأَلْقُوهُ وَأَهْرِيقُوا عَلَى مَكَانِهِ مَاءً»

Ambillah tanah yang telah terkena air kencing lalu buanglah, dan tuangkanlah air di atas tempatnya.”

[Shahih: Shahih Abu Daud 381]

Penulis rahimahullah berkata dalam At Talkhis, “Hadits ini memiliki dua sanad yang maushul (bersambung); yang pertama dari Ibnu Mas'ud dan yang lainnya dari Watsilah bin Al Asqa, tetapi pada keduanya terdapat pembicaraan.” Dan seandainya tambahan ini kuat, niscaya batallah pendapat orang yang mengatakan bahwa tanah Masjid Nabi SAW lunak, karena dia berkata, “tidak digali dan tidak dibuang kecuali dari tanah yang keras.”

Dalam hadits tersebut terdapat beberapa faedah:

  1. Menghormati Masjid. Hal ini ditunjukkan dengan sikap Nabi SAW, bahwa ketika orang Badui tersebut selesai buang air kecil, beliau memanggilnya dan berkata kepadanya,

إنَّ هَذِهِ الْمَسَاجِدَ لَا تَصْلُحُ لِشَيْءٍ مِنْ هَذَا الْبَوْلِ وَلَا الْقَذَرِ إنَّمَا هِيَ لِذِكْرِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَقِرَاءَةِ الْقُرْآنِ

Sesungguhnya masjid ini tidak layak terhadap sesuatu dari kencing dan kotoran, masjid itu adalah untuk berdzikir kepada Allah SWT dan membaca Al Qur'an.”

[Shahih: Muslim 285]

Dan sikap para shahabat dengan segera melarangnya, disetujui oleh Nabi SAW. hanya saja, beliau menyuruh mereka bersikap lemah lembut, sebagaimana dalam riwayat Al Jama’ah, kecuali Muslim. Bahwa beliau bersabda kepada mereka:

«إنَّمَا بُعِثْتُمْ مُيَسِّرِينَ وَلَمْ تُبْعَثُوا مُعَسِّرِينَ»

Sesungguhnya kalian diutus untuk memudahkan dan tidak diututs untuk mempersulit.”

[Shahih: Al Bukhari 220]

Seandainya pengingkaran itu dilarang, tentu beliau akan mengatakan kepada mereka: “Sesungguhnya tidaklah orang Badui itu datang (melakukan sesuatu) yang mana kalian wajib melarangnya.”

  1. Bersikap lemah lembut dan tidak kasar terhadap orang yang bodoh.
  2. Kemuliaan akhlak Rasulullah SAW dan sikap lemah lembut dalam memberikan pelajaran kepada umatnya.
  3. Menjauh dari keramaian orang ketika buang hajat hanyalah bagi yang ingin buang hajat besar, bukan kencing. Karena menurut urf (kebiasaan) orang Arab, hal itu tidak wajib dan disetujui oleh syariat. Dan Rasulullah SAW, jika perempuan buang air kecil menyuruh shahabat yang berada di belakang beliau untuk menutupinya.
  4. Menolak kemudharatan yang lebih besar dengan memilih yang lebih ringan di antara keduanya. Seandainya kencingnya terputus (ditahan), tentu akan mendatangkan madharat bagi dirinya. Dan seandainya ia berpindah tempat yang pertama kali telah terkena najis, tentu najis itu akan mengenai badan dan pakaiannya, serta tempat-tempat lain di dalam masjid.

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[إبانة الأحكام]

10. Daripada Anas ibn Malik (r.a), beliau menceritakan bahawa seorang Arab badwi datang, lalu dia kencing di salah satu tempat di dalam masjid, lalu kaum muslimin mengherdiknya, tetapi Rasulullah (s.a.w) mencegah mereka. Ketika orang Arab badwi itu telah selesai membuang air kencing, baginda memerintahkan (kepada mereka untuk mengambil) setimba air, lalu air itu disiramkan kepada bekas kencing orang Arab badwi itu.” (Muttafaq 'alaih).

Makna Hadis

Rasulullah (s.a.w) diutus untuk menyayangi umat manusia, membimbing mereka kepada akhlak yang mulia dan membantu orang jahil apabila melakukan suatu kesalahan. Para sahabat merasa gusar dan marah terhadap orang Arab badwi yang kencing di dalam masjid ini, sedangkan dia baru masuk Islam. Rasulullah (s.a.w) melarang mereka daripada mengherdiknya. Sikap para sahabat yang tergopoh-gapah itu boleh mendatangkan mudarat kerana orang Arab badwi itu apabila menghentikan kencingnya secara mengejut boleh menyebabkan pakaian dan badannya terkena najis dan najis pun akan menyebar ke tempat yang lain di dalam masjid. Keadaan ini tidak akan terjadi apabila orang Arab badwi itu tidak menghentikan kencingnya secara tiba-tiba. Kemudian Nabi (s.a.w) memberikan petunjuk kepada mereka tentang bagaimana cara membersihkan tanah yang terkena najis, iaitu dengan menyiramnya dengan air secukupnya. Nabi (s.a.w) apabila mengutus utusan ke pelbagai pelusuk negeri, baginda sentiasa berpesan kepada mereka menerusi sabdanya: “Berikanlah kemudahan dan janganlah kamu gemar menyusahkan urusan.”

Analisis Lafaz

أَعْرَابِيٌّ dinisbahkan kepada A'rab, iaitu masyarakat yang tinggal di daerah pedalaman. Lelaki tersebut menurut satu pendapat bernama Dzu al-Khuwaishirah al-Yamami.
طَائِفَةِ salah satu tempat di dalam masjid.
فَزَجَرَهُ النَّاسُ orang ramai yakni para sahabat mengherdik dan melarangnya dengan larangan yang keras.
قَضَى بَوْلَهُ telah menyelesaikan kencingnya.
بِذَنُوبٍ مِنْ مَاءٍ dengan setimba yang dipenuhi dengan air.
فَأُهْرِيقَ عَلَيْهِ lalu disiramkan kepada bekas air kencing itu.
مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ Imam al-Bukhari dan Imam Muslim.

Fiqh Hadis

  1. Dianjurkan untuk bersikap belas kasihan kepada orang jahil dan memberikan pengajaran tentang apa yang harus dikerjakannya tanpa perlu menggunakan tindakan kasar selagi pelanggaran yang dilakukannya itu tidak bermaksud memandang remeh atau sebagai pembangkangan.
  2. Masyarakat dibolehkan memprotes orang yang melakukan pelanggaran di hadapan pemimpin mereka meskipun tanpa memperoleh kebenaran terdahulu daripada pemimpin mereka.
  3. Menolak perkara yang boleh menimbulkan mudarat yang lebih besar di antara dua mudarat dengan cara melakukan perkara yang lebih ringan mudaratnya di antara kedua-dua mudarat itu.
  4. Air kencing manusia hukumnya najis.
  5. Diwajibkan menghormati masjid dan membersihkannya dari sebarang kotoran dan najis. Ini telah disedari oleh para sahabat dan oleh kerananya, mereka segera mengherdik lelaki badwi itu.
  6. Dianjurkan supaya segera menghilangkan perkara-perkara yang boleh mendatangkan kerosakan dan bahaya selagi tidak ada halangan untuk melaksanakannya, kerana Rasulullah (s.a.w) telah menyuruh mereka supaya menuangkan setimba air ke tempat bekas kencingnya setelah lelaki badwi itu selesai kencing.
  7. Tanah yang terkena najis menjadi suci apabila telah disiram dengan air, menurut jumhur ulama, namun menurut mazhab Hanafi, tanah yang terkena najis menjadi suci setelah tanah itu kering.

Periwayat Hadis

Anas ibn Malik ibn al-Nadhr al-Anshari al-Najjari, pembantu Nabi (s.a.w) selama sepuluh tahun. Beliau turut serta dalam perang Badar dan meriwayatkan sebanyak 1,286 hadis. Meninggal dunia di Basrah pada tahun 90 Hijriah. Usianya mencapai seratus tahun lebih dan merupakan orang yang paling akhir meninggal dunia di Basrah dari kalangan sahabat.

Sumber: 1. Subulus Salam Karangan Imam Ash-Shan'ani (w. 1182 H). 2. Ibanatul Ahkam Karangan Alawi Abbas Al-Maliki (w. 1391 H) dan Hasan Sulaiman An-Nuri.

Penulis: Mualif
Editor: Muhamad Basuki
©2022 Al-Marji'

Bagikan melalui:

Topik Pilihan