Web Analytics Made Easy - Statcounter

Sunan an-Nasai

  1. Kitab Thoharoh
    1. Tafsiran firman Allah "Jika kalian berdiri untuk shalat, basuhlah wajah kalian" [1-1]
    2. Bersiwak jika shalat malam [2-2]
    3. Bagaimana bersiwak [3-3]
    4. Apakah Imam bersiwak di hadapan makmum? [4-4]
    5. Motivasi atau anjuran bersiwak [5-5]
    6. Berusaha sesering mungkin bersiwak [6-6]
    7. Rukhsah bersiwak ketika sore bagi orang puasa [7-7]
    8. Siwak setiap waktu [8-8]
    9. Kebiasaan Fithrah dan Khitan [9-9]
    10. Memotong kuku [10-10]
    11. Mencabut bulu ketiak [11-11]
    12. Mencukur bulu kemaluan [12-12]
    13. Mencukur kumis [13-13]
    14. Waktu-waktunya [14-14]
    15. Memotong kumis dan membiarkan jenggot [15-15]
    16. Mencari tempat sepi ketika buang air besar atau kecil [16-17]
    17. Rukhsah tidak menyepi [18-18]
    18. Bacaan ketika masuk wc [19-19]
    19. Larangan menghadap kiblat ketika buang air besar atau kecil [20-20]
    20. Larangan membelakangi kiblat ketika buang air besar atau kecil [21-21]
    21. Perintah menghadap timur atau barat ketika buang hajat [22-22]
    22. Rukhsah dalam hal ini ketika di rumah [23-23]
    23. Larangan mengusap kemaluan dengan tangan kanan ketika buang hajat [24-25]
    24. Rukhsah kencing di padang pasir dengan berdiri [26-28]
    25. Kencing di rumah dengan duduk [29-29]
    26. Kencing ke penutup yang menghalanginya [30-30]
    27. Bersuci ketika kencing [31-31]
    28. Kencing di bejana [32-32]
    29. Kencing di sebuah baskom [33-33]
    30. Dimakruhkan kencing di lubang atau liang [34-34]
    31. Larangan kencing di air keruh [35-35]
    32. Larangan kencing di pemandian umum [36-36]
    33. Mengucapkan salam kepada orang yang kencing [37-37]
    34. Menjawab salam setelah wudlu' [38-38]
    35. Larangan bersuci dengan tulang [39-39]
    36. Larangan bersuci dengan kotoran hewan [40-40]
    37. Larangan merasa cukup dengan kurang tiga batu ketika bersuci [41-41]
    38. Rukhsah bersuci dengan dua batu [42-42]
    39. Rukhsah bersuci dengan satu batu [43-43]
    40. Merasa cukup bersuci dengan batu, bukan dengan lainnya [44-44]
    41. Istinjak dengan air [45-46]
    42. Larangan istinjak dengan tangan kanan [47-49]
    43. Menggosok tangan ke tanah setelah istinjak [50-51]
    44. Batasan jumlah air [52-52]
    45. Tidak membatasi jumlah air [53-56]
    46. Air yang berhenti [57-58]
    47. Air lautan [59-59]
    48. Wudlu' dengan es [60-60]
    49. Wudlu' dengan air es [61-61]
    50. Wudlu' dengan air dingin [62-62]
    51. Bekas jilatan anjing [63-64]
    52. Perintah menumpahkan isi bejana jika dijilat anjing [65-65]
    53. Menggosok bejana yang dijilat anjing dengan tanah [66-66]
    54. Bekas jilatan kucing [67-67]
    55. Bekas jilatan keledai [68-68]
    56. Bekas air wanita haidh [69-69]
    57. Laki-laki perempuan Wudlu' bersama-sama [70-70]
    58. Sisa air orang yang junub [71-71]
    59. Batasan jumlah air yang cukup untuk laki-laki [72-73]
    60. Niyat ketika Wudlu' [74-74]
    61. Wudlu' dalam bejana [75-76]
    62. Menyebut nama Allah ketika Wudlu' [77-77]
    63. Pembantu mengucurkan air untuk Wudlu' [78-78]
    64. Wudlu' sekali-sekali [79-79]
    65. Wudlu' tiga kali-tiga kali [80-80]
    66. Sifat Wudlu', membasuh dua telapak tangan [81-81]
    67. Berapa kali dibasuh? [82-82]
    68. Berkumur dan memasukkan air ke dalam lubang hidung [83-83]
    69. Dengan tangan mana berkumur? [84-84]
    70. Menghisap air ke lubang hidung [85-85]
    71. Berlebihan menghisap air ke lubang hidung [86-86]
    72. Perintah untuk menyemprotkan air dari lubang hidung [87-88]
    73. Perintah untuk menyemprotkan air dari lubang hidung ketika bangun tidur [89-89]
    74. Dengan tangan mana mengeluarkan air dari lubang hidung [90-90]
    75. Membasuh wajah [91-91]
    76. Jumlah membasuh wajah [92-92]
    77. Membasuh kedua tangan [93-93]
    78. Sifat Wudlu' [94-94]
    79. Jumlah membasuh tangan [95-95]
    80. Batasan membasuh [96-96]
    81. Cara mengusap kepala [97-97]
    82. Jumlah mengusap kepala [98-98]
    83. Wanita mengusap kepala [99-99]
    84. Mengusap kedua telinga [100-100]
    85. Mengusap kedua telinga bersama kepala [101-102]
    86. Mengusap sorban [103-105]
    87. Mengusap sorban sekaligus ubun-ubun [106-107]
    88. Bagaimana mengusap sorban [108-108]
    89. Kewajiban membasuh kedua kaki [109-110]
    90. Kaki mana terlebih dahulu dibasuh? [111-111]
    91. Membasuh kedua kaki dengan kedua tangan [112-112]
    92. Perintah menyelahi dengan jari-jemari [113-113]
    93. Jumlah membasuh kedua kaki [114-114]
    94. Batasan membasuh [115-115]
    95. Wudlu' dengan bersandal [116-116]
    96. Mengusap sepasang khuff [117-123]
    97. Mengusap sepasang khuff ketika saat safar [124-124]
    98. Mengusap kaos kaki dan sandal [125-125]
    99. Batasan waktu mengusap kaos kaki bagi musafir [126-127]
    100. Batasan mengusap khuff bagi yang tidak bepergian [128-129]
    101. Cara Wudlu' bukan karena hadats [130-130]
    102. BerWudlu' untuk setiap kali shalat [131-133]
    103. Memercikkan air [134-135]
    104. Memanfaatkan sisa air Wudlu' [136-138]
    105. Fardhu Wudlu' [139-139]
    106. Berlebihan ketika Wudlu' [140-140]
    107. Perintahkan meratakan Wudlu' [141-142]
    108. Keutamaan dalam hal ini [143-143]
    109. Ganjaran bagi yang berWudlu' sebagaimana diperintahkan [144-147]
    110. Doa selesai Wudlu' [148-148]
    111. Bersinar karena air Wudlu' [149-150]
    112. Ganjaran bagi yang berWudlu' dengan baik kemudian shalat dua rakaat [151-151]
    113. Madzi yang membatalkan dan tidak membatalkan Wudlu' [152-157]
    114. Wudlu' karena buang hajat atau kencing [158-158]
    115. Wudlu' karena buang hajat [159-159]
    116. BerWudlu' karena kentut [160-160]
    117. BerWudlu' karena tidur [161-161]
    118. Mengantuk [162-162]
    119. BerWudlu' karena menyentuh kemaluan [163-164]
    120. Tidak berWudlu' karenanya [165-165]
    121. Tidak berWudlu' seseorang menyentuh isterinya tanpa dibarengi syahwat [166-169]
    122. Tidak berWudlu' karena berciuman [170-170]
    123. BerWudlu' karena makanan yang terpanggang api [171-181]
    124. Tidak berWudlu' karena makanan yang terpanggang api [182-185]
    125. Berkumur dari santapan sawiq [186-186]
    126. Berkumur karena susu [187-187]
    127. Wajib mandi atau tidak ketika orang kafir masuk islam [188-188]
    128. Orang kafir mandi terlebih dahulu jika berniyat masuk islam [189-189]
    129. Mandi karena mengubur orang musyrik [190-190]
    130. Kewajiban mandi jika kedua kemaluan bertemu [191-192]
    131. Mandi karena mani [193-194]
    132. Wanita mandi karena dalam mimpinya melihat seperti laki-laki [195-198]
    133. Mimpi basah namun tidak melihat air [199-199]
    134. Perbedaan antara air laki-laki dan perempuan [200-200]
    135. Mandi karena haidh [201-208]
    136. Quru' [209-212]
    137. Mandi wanita istihadhah [213-213]
    138. Mandi karena nifas [214-214]
    139. Perbedaan darah haidh dan darah istihadhah [215-219]
    140. Larangan orang junub mandi dalam air yang menggenang [220-220]
    141. Larangan kencing di air keruh atau mandi disana [221-221]
    142. Mandi awal malam [222-222]
    143. Mandi awal malam atau akhirnya [223-223]
    144. Berusaha bertutup ketika mandi [224-225]
    145. Ukuran cukup air yang digunakan untuk mandi, laki-laki dan perempuan [226-230]
    146. Dalil tak ada batasan [231-231]
    147. Suami-isteri mandi bersama dari satu bejana [232-237]
    148. Larangan mandi dengan sisa air orang yang junub [238-238]
    149. Rukhsah dalam masalah ini [239-239]
    150. Mandi dengan baskom yang biasa digunakan untuk adonan [240-240]
    151. Wanita tidak melepas kepangan rambut ketika mandi janabat [241-241]
    152. Larangan melepas kepangan rambut bagi wanita yang mandi untuk ihram [242-242]
    153. Orang junub mencuci kedua tangan terlebih dahulu sebelum memasukkan dalam bejana [243-243]
    154. Membasuh kedua tangan sebelum memasukkannya dalam bejana [244-244]
    155. Menghilangkan kotoran dari jasadnya setelah mencuci kedua tangannya [245-245]
    156. Mengulang mencuci kedua tangan setelah menghilangkan kotoran dari jasad [246-246]
    157. Wudlu' orang yang junub sebelum mandi [247-247]
    158. Orang yang junub menyelahi kepalanya [248-249]
    159. Berapa kali mengguyur air ke atas kepalanya? [250-250]
    160. Hal-hal yang harus diperhatikan masalah mandi dari haidh [251-251]
    161. Tidak melakukan Wudlu' setelah mandi [252-252]
    162. Membasuh kedua kaki bukan di tempat yang digunakan untuk mandi [253-253]
    163. Tidak menggunakan sapu tangan (handuk) setelah mandi [254-254]
    164. Orang yang junub berWudlu' jika ingin makan [255-255]
    165. Orang yang junub sebatas mencuci kedua tangan jika ingin makan [256-256]
    166. Orang yang junub sebatas mencuci kedua tangan jika ingin makan atau minum [257-257]
    167. Orang yang junub berWudlu' jika ingin tidur [258-259]
    168. Orang yang junub berWudlu' dan membasuh kemaluan jika akan tidur [260-260]
    169. Junub dan tidak berWudlu' [261-261]
    170. Junub dan ingin mengulang hubungan seksual [262-262]
    171. Menggauli wanita sebelum mandi [263-264]
    172. Orang yang junub menahan diri tidak membaca Al Quran [265-266]
    173. Menyentuh orang yang junub dan duduk bersama [267-269]
    174. Meminta pelayanan orang yang haidh [270-271]
    175. Wanita haidh menghamparkan kain di masjid [272-272]
    176. Membaca alquran dan kepalanya di panguan isteri yang sedang haid [273-273]
    177. Wanita haidh memandikan kepala suaminya [274-276]
    178. Mengajak wanita haidh makan bersama dan minum dari sisa jilatannya [277-278]
    179. Menggunakan air sisa wanita haidh [279-280]
    180. Mencumbui wanita haidh [281-282]
    181. Menggauli wanita haidh [283-285]
    182. Tafsir "Mereka bertanya kepadamu tentang haidl" [286-286]
    183. Menggauli isteri wanita haidh setelah tahu dilarang [287-287]
    184. Apa yang dilakukan wanita berihram jika haidl [288-288]
    185. Apa yang dilakukan wanita nifas ketika ihram [289-289]
    186. Darah haidh mengenai pakaian [290-291]
    187. Mani mengenai pakaian [292-292]
    188. Mencuci mani dari pakaian [293-293]
    189. Mengerok mani dari pakaian [294-299]
    190. Kencing anak kecil yang belum makan [300-301]
    191. Kencing anak perempuan [302-302]
    192. Kencing binatan yang dagingnya dimakan [303-304]
    193. Kotoran binatang yang dagingnya dimakan mengenai pakaian [305-305]
    194. Ludah mengenai pakaian [306-307]
    195. Sejarah tayammum [308-308]
    196. Tayammum ketika tidak bepergian [309-311]
    197. Tayammum ketika safar [312-312]
    198. Konflik masalah tekhnik tayammum [313-313]
    199. Cara pertama tayammum dan meniup kedua tangan [314-314]
    200. Cara kedua tayammum [315-316]
    201. Cara lain [317-317]
    202. Tayamum bagi orang yang junub [318-318]
    203. Tayammum dengan debu [319-319]
    204. Beberapa shalat dengan menggunakan satu tayammum [320-320]
    205. Tidak mendapat air dan juga debu [321-322]
  2. Kitab Air
    1. Bab [323-323]
    2. Sumur bidho'ah [324-325]
    3. Batasan jumlah air [326-328]
    4. Larangan mandi junub di air menggenang [329-329]
    5. Wudhu dengan air lautan [330-330]
    6. Berwudlu' dengan air es dan embun [331-332]
    7. Jilatan anjing [333-333]
    8. Menggosok bejana dengan tanah karena jilatan anjing [334-337]
    9. Jilatan kucing [338-338]
    10. Bekas wanita haidl [339-339]
    11. Rukhsah menggunakan sisa air wanita [340-340]
    12. Larangan menggunakan sisa Wudlu' wanita [341-341]
    13. Rukhsah sisa air orang yang junub [342-342]
    14. Ukuran cukup air untuk Wudlu' dan mandi [343-345]
  3. Kitab Haidl dan Istihadloh
    1. Awalmula haidh, apakah haidh dinamakan nifas? [346-346]
    2. Istihadhah, kedatangan darah dan penghabisannya [347-349]
    3. Wanita mempunyai hari-hari tertentu ketika haid tiap bulan [350-352]
    4. Quru' (masa suci) [353-356]
    5. Wanita istihadhah menjamak shalat dengan sekali mandi [357-358]
    6. Perbedaan antara darah haidh dan istihadhah [359-364]
    7. Kuning dan keruh [365-365]
    8. Memperlakukan wanita haidh [366-366]
    9. Jika menggauli wanita haidh padahal tahu [367-367]
    10. Mencumbui wanita haidh dengan baju haidhnya [368-368]
    11. Berselimut dengan isteri haidl [369-369]
    12. Mencumbui wanita haidh [370-371]
    13. Bagaimana nabi menggauli isterinya ketika haidl [372-373]
    14. Mengajak wanita haidl makan bersama dan meminum dari jilatannya [374-375]
    15. Menggunakan sisa air wanita haidh [376-377]
    16. Membaca alquran dan kepalanya di pangkuan isteri yang haidh [378-378]
    17. Wanita haidh tidak terkena kewajiban shalat [379-379]
    18. Meminta pelayanan wanita haidl [380-381]
    19. Wanita haidh menggelar kain (tikar) di masjid [382-382]
    20. Isteri haidh menyisiri suami yang beri'tikaf di masjid [383-383]
    21. Wanita haidh mengeramasi kepala suaminya [384-386]
    22. Wanita haidh turut menghadiri idul adha-fitri dan dakwah muslimin [387-387]
    23. Wanita haidh setelah Thawaf [388-388]
    24. Apa yang dilakukan wanita nifas ketika ihram [389-389]
    25. Kewajiban shalat untuk wanita nifas [390-390]
    26. Darah haidh mengenai pakaian [391-392]
  4. Kitab Mandi dan Tayammum
    1. Larangan orang yang junub mandi di air yang menggenang [393-397]
    2. Rukhsah memasuki kamar mandi [398-398]
    3. Mandi dengan es dan embun [399-399]
    4. Mandi dengan air dingin [400-400]
    5. Mandi sebelum tidur [401-401]
    6. Mandi di awal malam [402-402]
    7. Berusaha mencari tempat yang tertutup ketika mandi [403-406]
    8. Dalil tak ada penetapan jumlah air yang digunakan untuk mandi [407-407]
    9. Suami-isteri mandi bersama dengan satu bejana [408-410]
    10. Keringanan dalam masalah ini [411-411]
    11. Mandi di baskom bekas adonan [412-412]
    12. Wanita membiarkan kepang rambutnya saat mandi [413-413]
    13. Jika berwewangian dan mandi namun bekas wewangian masih ada [414-414]
    14. Orang yang junub meghilangkan kotoran sebelum mengguyurkan air [415-415]
    15. Menyentuhkan tangan ke tanah setelah mencuci kemaluan [416-416]
    16. Memulai Wudlu' ketika mandi janabat [417-417]
    17. Mendahulukan badan sebelah kanan ketika bersuci [418-418]
    18. Tidak mengusap kepala saat Wudlu' dari janabat [419-419]
    19. Berusaha air sampai ke seluruh kulit ketika mandi janabat [420-421]
    20. Guyuran air yang mencukupi orang yang junub [422-423]
    21. Hal-hal yang harus diperhatikan mengenai mandi karena haidh [424-424]
    22. Sekali mandi [425-425]
    23. Wanita nifas mandi ketika ihram [426-426]
    24. Tidak Wudlu' setelah mandi [427-427]
    25. Menggilir semua isteri dengan sekali mandi [428-428]
    26. Tayammum dengan debu [429-429]
    27. Tayammum bagi yang menemukan air setelah shalat [430-430]
    28. Wudlu' karena madzi [431-436]
    29. Perintah Wudlu' setelah tidur [437-439]
    30. Wudlu' karena mengusap kemaluan [440-443]
  5. Kitab Sholat
    1. Fardhu shalat [444-447]
    2. Dimana shalat diwajibkan [448-448]
    3. Bagaimana shalat diwajibkan [449-453]
    4. Berapa kali diwajibkan sehari-semalam? [454-455]
    5. Baiat untuk menjalankan kelima shalat waktu [456-456]
    6. Menjaga kelima shalat waktu [457-457]
    7. Keutamaan kelima shalat waktu [458-458]
    8. Hukum meninggalkan shalat [459-460]
    9. Mengevaluasi shalat [461-463]
    10. Ganjaran bagi yang mendirikan shalat [464-464]
    11. Jumlah shalat zhuhur ketika tidak bepergian [465-465]
    12. Shalat zhuhur ketika safar [466-466]
    13. Keutamaan shalat ashar [467-467]
    14. Serius menjaga shalat ashar [468-469]
    15. Yang meninggalkan shalat ashar [470-470]
    16. Jumlah shalat ashar ketika di rumah [471-472]
    17. Shalat ashar ketika safar [473-476]
    18. Shalat maghrib [477-477]
    19. Keutamaan shalat isyak [478-478]
    20. Shalat isyak ketika safar [479-480]
    21. Keutamaan shalat jamaah (kolektif, bersama) [481-483]
    22. Keutamaan kiblat [484-485]
    23. Kondisi dibolehkan tidak menghadap kiblat [486-488]
    24. Sadar melakukan kesalahan setelah berusaha mencari arah kiblat [489-489]
  6. Kitab Waktu-Waktu Sholat
    1. Bab [490-490]
    2. Awal waktu zhuhur [491-493]
    3. Menyegerakan shalat zhuhur ketika safar [494-494]
    4. Menyegerakan shalat zuhur ketika dingin [495-495]
    5. Menunggu agak dingin jika panas menyengat [496-497]
    6. Akhir waktu zhuhur [498-499]
    7. Awal waktu ashar [500-500]
    8. Menyegerakan shalat ashar [501-506]
    9. Teguran keras menunda-nunda shalat ashar [507-509]
    10. Akhir waktu shalat ashar [510-510]
    11. Yang mendapatkan dua rakaat shalat ashar [511-515]
    12. Awal waktu maghrib [516-516]
    13. Menyegerakan shalat maghrib [517-517]
    14. Mengakhirkan shalat maghrib [518-518]
    15. Akhir waktu maghrib [519-521]
    16. Dimakruhkan tidur setelah shalat maghrib [522-522]
    17. Awal waktu isyak [523-523]
    18. Menyegerakan shalat isyak [524-524]
    19. Mega kemerah-merahan [525-526]
    20. Disunnahkan mengakhirkan shalat isyak [527-531]
    21. Akhir waktu isyak [532-536]
    22. Dirukhsahkan mengistilahkan shalat isyak dengan 'Atamah [537-537]
    23. Dimakruhkan mengistilah shalat isyak dengan 'Atamah [538-539]
    24. Awal waktu subuh [540-541]
    25. Mendirikan shalat ketika masih gelap ketika tidak bepergian [542-543]
    26. Mendirikan shalat ketika masih gelap ketika bepergian [544-544]
    27. Menunggu waktu hingga mega nampak kekuning-kuningan [545-546]
    28. Yang mendapatkan satu rakaat shalat subuh [547-548]
    29. Akhir waktu shalat subuh [549-549]
    30. Yang mendapat satu rakaat shalat [550-555]
    31. Waktu-waktu terlarang untuk mendirikan shalat [556-557]
    32. Larangan shalat setelah subuh [558-559]
    33. Larangan shalat ketika terbit matahari [560-561]
    34. Larangan shalat tepat setengah siang [562-562]
    35. Larangan shalat setelah sashar [563-568]
    36. Rukhsah shalat setelah ashar [569-576]
    37. Rukhsah shalat sebelum terbit matahari [577-577]
    38. Rukhsah shalat sebelum maghrib [578-578]
    39. Shalat setelah terbit fajar [579-579]
    40. Diperbolehkan shalat hingga shalat subuh [580-580]
    41. Diperbolehkan shalat pada semua waktu di Makkah [581-581]
    42. Waktu seorang musafir menjamak antara zhuhur dan ashar [582-583]
    43. Penjelasannya [584-584]
    44. Waktu seorang yang tidak safar dibolehkan menjamak shalat [585-586]
    45. Waktu yang seorang musafir dibolehkan menjamak antara maghrib dan isyak [587-593]
    46. Keadaan yang memungkinkan seseorang menjamak dua shalat [594-596]
    47. Menjamak kedua shalat ketika tidak bepergian [597-599]
    48. Menjamak antara zhuhur dan ashar di Arafah [600-600]
    49. Menjamak antara maghrib dan isyak di Muzdalifah [601-604]
    50. Bagaimana menjamak [605-605]
    51. Keutamaan shalat pada waktunya [606-608]
    52. Kewajiban bagi yang melupakan shalat [609-609]
    53. Ketiduran dari shalat [610-612]
    54. Orang yang ketiduran dari shalat mengulang shalat keesokan hari [613-616]
    55. Bagaimana orang yang ketinggalan shalat melunasi shalat ? [617-621]
  7. Kitab Adzan
    1. Sejarah mula adzan [622-622]
    2. Menggenapkan adzan [623-624]
    3. Merendahkan suara ketika mengulang adzan [625-625]
    4. Berapa kalimat adzan? [626-626]
    5. Bagaimana adzan? [627-628]
    6. Adzan ketika safar [629-629]
    7. Adzan orang yang sendirian ketika safar [630-630]
    8. Wanita yang tidak bepergian cukup dengan adzan selainnya [631-632]
    9. Dua muadzdzin dalam satu masjid [633-634]
    10. Apakah keduanya adzan bersama ataukah satu per satu ? [635-636]
    11. Adzan diluar waktu shalat [637-637]
    12. Waktu adzan subuh [638-638]
    13. Bagaimana yang seharusnya dilakukan muadzin ketika adzan [639-639]
    14. Meninggikan suara adzan [640-642]
    15. Bacaan tatswib ketika adzan fajar [643-643]
    16. Akhir adzan [644-646]
    17. Adzan ketika tak bisa menghadiri jamaah ketika hujan lebat [647-648]
    18. Adzan bagi yang menjamak antara dua shalat pada waktu pertama [649-649]
    19. Adzan yang menjamak kedua shalat setelah waktu pertama berlalu [650-651]
    20. Iqamat bagi yang menjamak kedua shalat [652-654]
    21. Adzan bagi yang ketinggalan beberapa shalat [655-655]
    22. Cukup sekali adzan dengan iqamat pada masing-masing shalat [656-656]
    23. Mencukupkan sekali iqamat pada setiap shalat [657-657]
    24. Iqamat bagi yang lupa satu rakaat shalat [658-658]
    25. Adzan seorang penggembala [659-659]
    26. Adzan bagi yang shalat sendirian [660-660]
    27. Iqamat bagi yang shalat sendirian [661-661]
    28. Bagaimana iqamat [662-662]
    29. Masing-masing beriqamat untuk pribadi [663-663]
    30. Keutamaan mengadzani [664-664]
    31. Berusaha ikut tutur bagian dalam adzan [665-665]
    32. Mengambil muadzin yang tidak meminta upah dalam adzannya [666-666]
    33. Mengucapkan seperti bacaan muadzin [667-667]
    34. Pahalanya [668-668]
    35. Mengucapkan syahadat seperti syahadat muadzin [669-669]
    36. Bacaan jika muadzin mengucapkan Hayya aalash sholaah, Hayya alal falaah [670-670]
    37. mengucapkan shalawat Nabi setelah adzan [671-671]
    38. Dua ketika adzan [672-673]
    39. Shalat antara adzan dan iqamat [674-675]
    40. Teguran keras keluar masjid setelah mendengar adzan [676-677]
    41. Muadzin meminta ijin imam untuk mendirikan shalat [678-679]
    42. Iqamat muadzin ketika Imam muncul [680-680]
  8. Kitab Masjid
    1. Keutamaan membangun masjid [681-681]
    2. Berbangga-bangga di masjid [682-682]
    3. Masjid yang dibangun pertama-tama [683-683]
    4. Keutamaan shalat di masjid [684-684]
    5. Shalat di Ka'bah [685-685]
    6. Keutamaan masjidil aqsha dan shalat didalamnya [686-686]
    7. Keutamaan masjid Nabi Shallallahu'alaihiwasallam [687-689]
    8. Masjid yang didirikan diatas ketaqwaan [690-690]
    9. Keutamaan masjid Quba" dan shalat didalamnya [691-692]
    10. Masjid yang harus diniati serius untuk tujuan perjalanan [693-693]
    11. Menjadikan masjid sebagai tempat jual-beli [694-694]
    12. Galian kubur dan menjadikan lokasinya sebagai masjid [695-695]
    13. Larangan menjadikan kuburan sebagai masjid [696-697]
    14. Keutamaan mendatangi masjid [698-698]
    15. Larangan melarang wanita mendatangi masjid [699-699]
    16. Orang-orang yang dilarang dari masjid [700-700]
    17. Orang-orang yang dikeluarkan dari masjid [701-701]
    18. Mendirikan kemah di masjid [702-703]
    19. Memasukkan anak-anak ke masjid [704-704]
    20. Mengikat tawanan di tiang masjid [705-705]
    21. Memasukkan unta ke masjid [706-706]
    22. Larangan jual-beli di masjid [707-707]
    23. Larangan mendendangkan syair-syair di masjid [708-708]
    24. Dirukhsahkan mendendangkan bait-bait syair menggugah di masjid [709-709]
    25. Larangan mengumumkan barang temuan di masjid [710-710]
    26. Mempertontonkan senjata di masjid [711-711]
    27. Menjalin jari-jemari di masjid [712-712]
    28. Telentang di masjid [713-713]
    29. Tidur di masjid [714-714]
    30. Membuang dahak di masjid [715-715]
    31. Larangan seseorang berdahak di arah kiblat masjid [716-716]
    32. Larangan Nabi Shallallahu'alaihiwasallam kepada seseorang berdahak di masjid [717-717]
    33. Rukhsah orang yang shalat berdahak di belakangnya atau ke arah kirinya [718-718]
    34. Dengan kaki mana menggosok dahaknya [719-719]
    35. Menjadikan masjid sebagai wewangian [720-720]
    36. Doa ketika masuk dan keluar masjid [721-721]
    37. Perintah shalat sebelum duduk di masjid [722-722]
    38. Rukhsah duduk dan keluar masjid bukan untuk shalat [723-723]
    39. Shalat seseorang yang melewati masjid [724-724]
    40. Anjuran atau motivasi duduk di masjid dan menunggu-nunggu shalat [725-726]
    41. Larangan Nabi Shallallahu'alaihiwasallam untuk shalat di kandang unta [727-727]
    42. Rukhsah dalam hal ini [728-728]
    43. Shalat diatas tikar [729-729]
    44. Shalat diatas kain atau kerudung [730-730]
    45. Shalat diatas minbar [731-731]
    46. Shalat diatas keledai [732-733]
  9. Kitab Kiblat
    1. Menghadap kiblat [734-734]
    2. Kondisi dibolehkan tidak menghadap kiblat [735-736]
    3. Sadar melakukan kesalahan setelah berusaha menghadap kiblat [737-737]
    4. Sutrah (Pembatas) orang yang shalat [738-739]
    5. Perintah untuk mendekati Sutrah [740-740]
    6. Ukurannya [741-741]
    7. Hal-hal yang membatalkan shalat atau tidak, jika tak ada sutrah [742-747]
    8. Teguran keras melewati antara orang yang shalat dan sutrahnya [748-749]
    9. Rukhsah dalam hal ini [750-750]
    10. Rukhsah shalat di belakang orang tidur [751-751]
    11. Larangan shalat menghadap kuburan [752-752]
    12. Shalat menghadap pakaian yang berisi gambar-gambar [753-753]
    13. Antara imam dan makmum ada sutrah [754-754]
    14. Shalat dengan satu kain [755-756]
    15. Shalat dengan satu gamis [757-757]
    16. Shalat dnegan sarung [758-759]
    17. Shalat laki-laki, sebagian bajunya mengenai isterinya [760-760]
    18. Shalat seseorang dengan satu kain dan tak ada sesuatupun di pundaknya [761-761]
    19. Shalat dengan sutera [762-762]
    20. Rukhsah shalat dengan kain berhias atau motif [763-763]
    21. Shalat dengan baju merah [764-764]
    22. Shalat dengan pakaian dalam [765-765]
    23. Shalat dnegan sepasang khuff [766-766]
    24. Shalat dengan sepasang sandal [767-767]
    25. Dimana imam meletakkan kedua sandalnya jika mengimami? [768-768]
  10. Kitab Keimaman
    1. Keimaman dan jamaah, yang menjadi imam orang berilmu dan berkualitas [769-769]
    2. Shalat bersama para pemimpin yang zhalim [770-771]
    3. Siapa yang berhak mengimami [772-772]
    4. Mendahulukan yang lebih dewasa [773-773]
    5. Manusia berkumpul di suatu tempat, dan kualitas mereka sama [774-774]
    6. Manusia berkumpul, dan pada mereka ada orang yang berwenang [775-775]
    7. Jika eseorang biasa menjadi imam lantas datang orang yang berwenang, apakah mundur? [776-776]
    8. Shalat imam di belakang seseorang yang menjadi rakyatnya [777-778]
    9. Keimaman orang yang berkunjung [779-779]
    10. Keimaman orang yang buta [780-780]
    11. Keimamman anak kecil yang belum baligh [781-781]
    12. Berdiri jika melihat imam [782-782]
    13. Imam ada perlu setelah dikumandangkan iqamat [783-783]
    14. Imam ingat belum bersuci padahal telah berdiri [784-784]
    15. Menunjuk seseorang menjadi imam jika iamm utama berhalangan [785-785]
    16. Mengikuti imam [786-786]
    17. Mengikuti orang yang mengikuti imam [787-789]
    18. Posisi imam jika hanya bertiga dan konflik dalam masalah ini [790-791]
    19. Jika ada orang tiga dan satu wanita [792-792]
    20. Jika ada dua laki-laki dan dua wanita [793-794]
    21. Posisi imam jika bersamanya anak kecil dan wanita [795-796]
    22. Posisi imam jika makmum anak kecil [797-797]
    23. Yang tepat berada di belakang imam dan selanjutnya [798-799]
    24. Membuat shaff sebelum imam muncul [800-800]
    25. Bagaimana imam berdiri diantara shaff [801-802]
    26. Yang diucapkan imam jika maju untuk meluruskan barisan [803-803]
    27. Berapa kali imam mengucapkan "Luruskan barisan" [804-804]
    28. Imam menganjurkan untuk merapatkan dan mendekatkan barisan [805-807]
    29. Keutamaan shaff pertama dan kedua [808-808]
    30. Shaf belakang [809-809]
    31. Siapa yang menyambung shaff [810-810]
    32. Sebaik-baik shaff perempuan dan sejelek-jelek shaff laki-laki [811-811]
    33. Shaff (Barisan) antara dua tiang [812-812]
    34. Tempat di barisan yang disunnahkan [813-813]
    35. Kewajiban Imam meringankan (menyederhanakan) shalat) [814-816]
    36. Rukhsah bagi imam memanjangkan shalat [817-817]
    37. Amalan-amalan yang tak bolehkan dilakukan imam saat shalat [818-818]
    38. Mendahului imam [819-821]
    39. Seseorang keluar dari shalat imam dan menarik diri [822-822]
    40. Mengikuti imam yang shalat dengan duduk [823-825]
    41. Perbedaan niyat antara imam dan makmum [826-827]
    42. Keutamaan jamaah [828-830]
    43. Jamaah jika tiga orang [831-831]
    44. Jamaah jika tiga orang, laki-laki, anak kecil dan wanita [832-832]
    45. Jamaah jika dua orang [833-834]
    46. Jamaah untuk shalat sunnah [835-835]
    47. Jamaah bagi yang ketinggalan shalat [836-837]
    48. Teguran keras meninggalkan jamaah [838-838]
    49. Teguran keras terlambat shalat jamaah [839-839]
    50. Menjaga semua shalat kapanpun dipanggil [840-842]
    51. Udzur meninggalkan shalat [843-845]
    52. Batasan menemukan jamaah [846-847]
    53. Mengulang shalat bersama jamaah setelah shalat sendiri [848-848]
    54. Mengulang shalat subuh bersama jamaah bagi yang shalat sendiri [849-849]
    55. Mengulang shalat setelah hilang waktunya bersama jamaah [850-850]
    56. Digugurkan shalat dari orang yang shalat bersama imam di masjid secara jamaah [851-851]
    57. Memenuhi panggilan shalat dengan berlari [852-852]
    58. Bersegera memenuhi panggilan shalat dengan tanpa berlari [853-853]
    59. Memenuhi panggilan shalat sedini mungkin [854-854]
    60. Shalat yang dimakruhkan ketika telah dikumandangkan iqamat [855-857]
    61. Melakukan dua rakaat fajar dan imam sedang mendirikan shalat [858-858]
    62. Shalat sendirian di belakang shaff [859-860]
    63. Ruku' di belakang shaff [861-862]
    64. Shalat setelah zhuhur [863-863]
    65. Shalat sebelum 'ashr dan konflik pengutip dari Abu ishaq [864-865]
  11. Kitab Iftitah (Pembukaan)
    1. Hal-hal yang harus diperhatikan ketika membuka shalat [866-866]
    2. Mengangkat kedua tangan sebelum takbir [867-867]
    3. Mengangkat kedua tangan sejajar kedua pundak [868-868]
    4. Mengangkat kedua tangan sejajar kedua telinga [869-871]
    5. Posisi kedua jempol ketika mengangkat kedua tangan [872-872]
    6. Mengangkat kedua tangan agak lama [873-873]
    7. Kewajiban takbir pertama-tama [874-874]
    8. Bacaan pembukaan shalat [875-876]
    9. Meletakkan tangan kanan diatas tangan kiri ketika shalat [877-877]
    10. Jika imam melihat seseorang meletakkan tangan kirinya diatas tangan kanannya [878-878]
    11. Letak tangan kanan dari tangan kiri saat shalat [879-879]
    12. Larangan meletakkan tangan diatas lambung ketika shalat [880-881]
    13. Baris antara kedua tumit ketika shalat [882-883]
    14. Imam diam sejenak setelah iftitah shalat [884-884]
    15. Doa antara takbiratul ihram dan alfatihah [885-885]
    16. Doa lain antara takbiratul ihram dan alfatihah [886-886]
    17. Doa lain antara takbiratul ihram dan alfatihah [887-888]
    18. Doa lain antara takbiratul ihram dan alfatihah [889-890]
    19. Doa lain antara takbiratul ihram dan alfatihah [891-891]
    20. Memulai alfatihah sebelum membaca surat [892-893]
    21. Perihal bacaan Bismillahirrohmaanirrahiim [894-895]
    22. Tidak menyaringkan bacaan bismillaahirrohmaanirrahim [896-898]
    23. Tidak membaca Bismillahirrohmanirrahim dalam alfatihah [899-900]
    24. Kewajiban membaca alfatihah ketika shalat [901-902]
    25. Keutamaan alfatihah [903-903]
    26. Penafsiran firman-Nya "Telah Kami beri kamu tujuh ayat yang berulang-ulang" [904-907]
    27. Tidak membaca alfatihah dibelakang imam yang tidak membaca secara nyaring [908-909]
    28. Tidak membaca alfatihah dibelakang imam yang membaca secara nyaring [910-910]
    29. Membaca alfatihah di belakang imam yang membaca secara nyaring [911-911]
    30. Firman-Nya "Jika alquran dibaca, maka dengarlah baik-baik dan diamlah" [912-913]
    31. Makmum cukup dengan bacaan imam [914-914]
    32. Bacaan bagi orang yang tidak bisa membaca alquran dengan baik [915-915]
    33. Imam menyaringkan bacaan "Aamiin" [916-919]
    34. Perintah membaca amin di belakang imam [920-920]
    35. Keutamaan membaca amin [921-921]
    36. Ucapan makmum jika bersin di belakang imam [922-923]
    37. Himpunan pengetahuan tentang Alquran [924-934]
    38. Bacaan dalam dua rakaat fajar [935-935]
    39. Bacaan dalam dua rakaat fajar dengan Alkafirun dan al-ikhlash [936-936]
    40. Meringankan dua rakaat fajar [937-937]
    41. Membaca ketika shubuh dengan surat Arrum [938-938]
    42. Membaca ketika subuh dengan enam puluh hingga seratus ayat [939-939]
    43. Membaca ketika subuh dengan surat Qaaf [940-941]
    44. Membaca ketika subuh dengan Attakwir [942-942]
    45. Membaca ketika subuh dengan alfalaq dan annas [943-943]
    46. Keutamaan membaca alfalaq dan annas [944-945]
    47. Bacaan waktu subuh khusus hari jumat [946-947]
    48. Sujud alquran (tilawah) pada shurat Shaad [948-948]
    49. Sujud alquran (tilawah) pada shurat Annajm [949-950]
    50. Tidak melakukan sujud tilawah dalam surat Annajm [951-951]
    51. Sujud dalam surat al-Insyiqaq [952-955]
    52. Sujud dalam surat al'alaq [956-957]
    53. Sujud ketika shalat fardhu [958-958]
    54. Bacaan ketika siang [959-960]
    55. Bacaan ketika zhuhur [961-962]
    56. Melamakan berdiri pada rakaat pertama shalat zhuhur [963-964]
    57. Imam membaca nyaring hingga terdengar makmum ketika zhuhur [965-965]
    58. Memendekkan rakaat kedua pada shalat zhuhur [966-966]
    59. Bacaan pada dua rakaat pertama shalat zhuhur [967-967]
    60. Bacaan pada dua rakaat pertama shalat ashar [968-970]
    61. Meringankan berdiri dan bacaan [971-972]
    62. Bacaan ketika maghrib dengan surat mufashshal yang pendek [973-973]
    63. Bacaan ketika maghrib dengan surat al-a'la [974-974]
    64. Bacaan ketika maghrib dengan almursalat [975-976]
    65. Bacaan ketika maghrib dengan surat Aththur [977-977]
    66. Bacaan ketika maghrib dengan surat Addukhan [978-978]
    67. Bacaan ketika maghrib dengan surat Alif Laam Miim Shaad (Surat Maryam) [979-981]
    68. Bacaan pada dua rakaat pertama shalat maghrib [982-982]
    69. Keutamaan surat al-ikhlash [983-986]
    70. Bacaan shalat isyak dengan surat al-a'la [987-987]
    71. Bacaan shalat isyak dengan Asysyams dan Adhdhuha [988-989]
    72. Bacaan shalat isyak dengan Wattin wazzaituun [990-990]
    73. Bacaan pada rakaat pertama ketika shalat isyak [991-991]
    74. Melamakan pada dua rakaat pertama shalat isyak [992-993]
    75. Membaca dua suarat dalam satu rakaat [994-996]
    76. Membaca sebagian surat [997-997]
    77. Pembaca meminta perlindungan jika melewati ayat-ayat yang berisi siksaan [998-998]
    78. Pembaca meminta permohonan jika melewati ayat-ayat rahmat [999-999]
    79. Mengulang-ulang bacaan ayat [1000-1000]
    80. Firman-Nya "Dangan engkau menyaringkan bacaanmu dan jangan pula melirihkan" [1001-1002]
    81. Menyaringkan bacaan alquran [1003-1003]
    82. Memanjangkan bacaan alquran [1004-1004]
    83. Melagukan alquran dengan kemerduan suara [1005-1012]
    84. Takbir ketika ruku' [1013-1013]
    85. Mengangkat kedua tangan ketika ruku' sejajar ujung kedua telinga [1014-1014]
    86. Mengangkat kedua tangan ketika ruku' sejajar dua bahu [1015-1015]
    87. Tidak mengangkat tangan ketika akan ruku' [1016-1016]
    88. Meluruskan tulang punggung ketika ruku' [1017-1017]
    89. Menegakkan kedua tangan ketika ruku' [1018-1023]
  12. Kitab Pelaksanaan
    1. Memegang lutut ketika ruku' [1024-1025]
    2. Posisi bagian dalam telapak tangan saat rukuk [1026-1026]
    3. Posisi jari jemari kedua tangan ketika ruku' [1027-1027]
    4. Merenggangkan kedua tangan dari pinggang ketika rukuk [1028-1028]
    5. Menyejajarkan antara kepala dan punggung ketika ruku' [1029-1029]
    6. Larangan membaca Al Quran ketika rukuk [1030-1034]
    7. Mengagungkan Rabb ketika rukuk [1035-1035]
    8. Dzikir (Bacaan) ketika ruku' [1036-1036]
    9. Bacaan lain dari dzikir yang di ucapkan ketika rukuk [1037-1037]
    10. Bacaan lain [1038-1038]
    11. Bacaan lain [1039-1039]
    12. Bacaan lain [1040-1040]
    13. Bacaan lain [1041-1042]
    14. Rukhsah tidak membaca bacaan ketika ruku' [1043-1043]
    15. Perintah menyempurnakan ruku' [1044-1044]
    16. Mengangkat kedua tangan ketika bangkit dari ruku' [1045-1045]
    17. Mengangkat kedua tangan sejajar ujung telinga ketika bangkit dari ruku' [1046-1046]
    18. Mengangkat kedua tangan sejajar kedua bahu ketika bangkit dari ruku' [1047-1047]
    19. Rukhsah tidak melakukan hal ini [1048-1048]
    20. Yang diucapkan imam ketika menagngkat kepalanya dari ruku' [1049-1050]
    21. Yang diucapkan makmum [1051-1052]
    22. Ucapan Robbanaa walakal hamdu [1053-1054]
    23. Lama berdiri antara bangkit dari ruku' dan sujud [1055-1055]
    24. Bacaan ketika berdiri dari ruku' [1056-1059]
    25. Qunut setelah ruku' [1060-1060]
    26. Qunut dalam shalat subuh [1061-1064]
    27. Qunut dalam shalat zhuhur [1065-1065]
    28. Qunut dalam shalat maghrib [1066-1066]
    29. Doa laknat ketika qunut [1067-1067]
    30. Melaknat orang munafik ketika qunut [1068-1068]
    31. Tidak melakukan qunut [1069-1070]
    32. Mendinginkan kerikil untuk sujud [1071-1071]
    33. Takbir untuk sujud [1072-1073]
    34. Bagaimana turun untuk sujud [1074-1074]
    35. Mengangkat kedua tangan untuk sujud [1075-1075]
    36. Tidak mengangkat kedua tangan ketika sujud [1076-1076]
    37. Anggota badan yang pertama-tama sampai ke tanah ketika sujud [1077-1079]
    38. Meletakkan kedua tangan beserta wajah ketika sujud [1080-1080]
    39. Berapa anggota badan yang diletakkan ketika sujud? [1081-1081]
    40. Tafsirannya [1082-1082]
    41. Sujud diatas kening [1083-1083]
    42. Sujud diatas hidung [1084-1084]
    43. Sujud diatas kedua telapak tangan [1085-1085]
    44. Sujud diatas kedua lutut [1086-1086]
    45. Sujud diatas kedua telapak kaki [1087-1087]
    46. Menegakkan kedua telapak kaki saat sujud [1088-1088]
    47. Membuka jari-jemari kaki ketika sujud [1089-1089]
    48. Posisi kedua tangan ketika sujud [1090-1090]
    49. Larangan menghamparkan kedua siku ketika sujud [1091-1091]
    50. Sifat sujud [1092-1096]
    51. Merenggangkan kedua tangan ketika sujud [1097-1097]
    52. Menegakkan kedua hasta ketika sujud [1098-1098]
    53. Meluruskan tulang punggung ketika sujud [1099-1099]
    54. Larangan mematuk seperti gagak [1100-1100]
    55. Larangan menahan rambut ketika sujud [1101-1101]
    56. Perumpamaan orang yang shalat dengan rambut dikucir [1102-1102]
    57. Larangan menahan pakaian ketika sujud [1103-1103]
    58. Sujud diatas kain [1104-1104]
    59. Perintah menyempurnakan sujud [1105-1105]
    60. Larangan membaca alquran ketika sujud [1106-1107]
    61. Perintah serius berdoa ketika sujud [1108-1108]
    62. Doa ketika sujud [1109-1109]
    63. Doa lain [1110-1122]
    64. Jumlah tasbih ketika sujud [1123-1123]
    65. Rukhsah tidak membaca dzikir ketika sujud [1124-1124]
    66. Sujud, saat terdekat antara seorang hamba dan Rabbi-Nya [1125-1125]
    67. Keutamaan sujud [1126-1126]
    68. Ganjaran sekali sujud kepada Allah 'Azza wa jalla [1127-1127]
    69. Tempat sujud [1128-1128]
    70. Bolehkan sujud berikutnya lebih lama daripada sujud sebelumnya? [1129-1129]
    71. Takbir ketika bangkit dari sujud [1130-1130]
    72. Mengangkat kedua tangan ketika bangkit dari sujud pertama [1131-1131]
    73. Tidak mengangkat kedua tangan diantara dua sujud [1132-1132]
    74. Doa diantara dua sujud [1133-1133]
    75. Mengangkat kedua tangan antara kedua sujud didepan wajahnya [1134-1134]
    76. Bagaimana duduk antara dua sujud [1135-1135]
    77. Lama duduk antara dua sujud [1136-1136]
    78. Takbir ketika sujud [1137-1138]
    79. Duduk dengan sempurna ketika bangkit dari kedua sujud [1139-1140]
    80. Bertumpu ke tanah ketika bangkit [1141-1141]
    81. Mengangkat kedua tangan dari tanah sebelum kedua lutut [1142-1142]
    82. Takbir untuk bangkit [1143-1144]
    83. Bagaimana duduk ketika tasyahhud pertama [1145-1145]
    84. Menghadapkan ujung jari telapak kaki ke arah kiblat ketika duduk tasyahhud [1146-1146]
    85. Posisi kedua tangan ketika duduk tasyahhud pertama [1147-1147]
    86. Posisi pandangan ketika tasyahhud [1148-1148]
    87. Memberi isyarat dengan jari ketika tasyahhud pertama [1149-1149]
    88. Bagaimana tasyahhud pertama [1150-1158]
    89. Cara lain tasyahhud [1159-1162]
    90. Memperingan pada tasyahhud pertama [1163-1163]
    91. Tidak melakukan tasyahhud pertama [1164-1165]
  13. Kitab Sahwi (Lupa)
    1. Takbir ketika bangkit dari dua rakaat pertama [1166-1167]
    2. Mengangkat kedua tangan ketika berdiri menuju dua rakaat akhir [1168-1168]
    3. Mengangkat kedua tangan untuk berdiri ke dua rakaat terakhir sejajar pundak [1169-1169]
    4. Mengangkat kedua tangan sambil memuji dan menyanjung Allah [1170-1170]
    5. Menyampaikan salam dengan tangan ketika shalat [1171-1172]
    6. Menjawab salam dengan isyarat ketika shalat [1173-1177]
    7. Larangan mengusap kerikil ketika shalat [1178-1178]
    8. Rukhsah mengusap kerikil satu kali [1179-1179]
    9. Larangan menagngkat pandangan ke langit saat shalat [1180-1181]
    10. Teguran keras untuk menoleh ketika shalat [1182-1184]
    11. Dirukhsahkan menolah ketika shalat ke arah kanan-kiri [1185-1186]
    12. Membunuh ular dan kalajengking ketika shalat [1187-1188]
    13. Menggendong anak kecil dalam shalat dan meletakkannya [1189-1190]
    14. Berjalan ke arah kiblat dengan langkah sederhana [1191-1191]
    15. Tashfiq ketika shalat [1192-1193]
    16. Tasbih ketika shalat [1194-1195]
    17. Berdehem ketika shalat [1196-1198]
    18. Menangis saat shalat [1199-1199]
    19. Melaknat Iblis dan meminta perlindungan kepada Allah saat shalat [1200-1200]
    20. Bicara saat shalat [1201-1206]
    21. Yang dilakukan ketika langsung berdiri pada dua rakaat pertama karena lupa [1207-1208]
    22. Yang dilakukan ketika langsung salam pada dua rakaat pertama karena lupa [1209-1215]
    23. Perselisihan Abu hurairah dalam dua sujud sahwi [1216-1220]
    24. Menyempurnakan shalat jika ragu [1221-1222]
    25. Mencari kemantapan [1223-1236]
    26. Apa yang seharusnya dilakukan jika shalat lima rakaat [1237-1242]
    27. Apa yang seharusnya dilakukan jika lupa diantara shalatnya [1243-1243]
    28. Takbir ketika melakukan dua sujud sahwi [1244-1244]
    29. Cara duduk pada rakaat ketika meng-qadha" shalat [1245-1246]
    30. Posisi kedua hasta [1247-1247]
    31. Posisi kedua siku [1248-1248]
    32. Posisi kedua telapak tangan [1249-1249]
    33. Semua jari tangan kanan menggenggam selain telunjuk [1250-1250]
    34. Dua jari tangan menggenggam, melingkarkan jari tengah dan jempol [1251-1251]
    35. Membuka telapak tangan kiri diatas lutut [1252-1253]
    36. Memberi isyarat dengan jempol ketika tasyahhud [1254-1254]
    37. Larangan memberi isyarat dengan dua jari, dan jari mana saja [1255-1256]
    38. Memiringkan telunjuk ketika memberi isyarat [1257-1257]
    39. Posisi pandangan ketika memberi isyarat dan menggerak-gerakkan telunjuk [1258-1258]
    40. Larangan mendongakkan pandangan ke langit ketika berdoa saat shalat [1259-1259]
    41. Kewajiban tasyahhud [1260-1260]
    42. Pengajaran tasyahhud sebagaimana pengajaran surat alquran [1261-1261]
    43. Bagaimana tasyahhud? [1262-1262]
    44. Macam Lainnya dari Tasyahhud [1263-1264]
    45. Bertaslim untuk nabi Shallallahu'alaihiwasallam [1265-1265]
    46. Keutamaan bertaslim untuk Nabi Shallallahu'alaihiwasallam [1266-1266]
    47. Memuji dan Bersalawat untuk Nabi Shallallahu'alaihiwasallam [1267-1267]
    48. Perintah shalawat untuk Nabi Shallallahu'alaihiwasallam [1268-1268]
    49. Bagaimana bersalawat untuk Nabi Shallallahu'alaihiwasallam [1269-1269]
    50. Macam Lainnya [1270-1277]
    51. Keutamaan mengucapkan shalawat Nabi Shallallahu'alaihiwasallam [1278-1280]
    52. Memilih doa setelah bershalawat untuk Nabi Shallallahu'alaihiwasallam [1281-1281]
    53. Dzikir setelah tasyahhud [1282-1282]
    54. Berdoa setelah dzikir [1283-1284]
    55. Macam Lainnya Dari Doa [1285-1287]
    56. Macam Lainnya [1288-1289]
    57. Meminta perlindungan ketika shalat [1290-1290]
    58. Macam Lainnya [1291-1293]
    59. Dzikir lain setelah tasyahhud [1294-1294]
    60. Mengurangi shalat [1295-1295]
    61. Batas minimal amaliah shalat [1296-1298]
    62. Salam [1299-1300]
    63. Posisi kedua tangan ketika salam [1301-1301]
    64. Bagaimana salam ke sebelah kanan [1302-1303]
    65. Bagaimana salam ke sebelah kiri [1304-1308]
    66. Salam dengan kedua tangan [1309-1309]
    67. Salam makmum ketika imam mengucapkan salam [1310-1310]
    68. Sujud ketika shalat telah selesai [1311-1311]
    69. Dua sujud sahwi setelah salam dan bicara [1312-1312]
    70. Salam setelah dua sujud sahwi [1313-1314]
    71. Duduk imam antara salam dan beranjak [1315-1316]
    72. Pergi setelah salam [1317-1317]
    73. Takbir setelah imam mengucapkan salam [1318-1318]
    74. Perintah membaca doa-doa perlindungan setelah salam dari shalat [1319-1319]
    75. istighfar setelah salam [1320-1320]
    76. Dzikir setelah istighfar [1321-1321]
    77. Bertahlil setelah mengucapkan salam [1322-1322]
    78. Jumlah tahlil dan dzikir setelah salam [1323-1323]
    79. Bacaan lain sehabis shalat [1324-1325]
    80. Berapa kali membaca [1326-1326]
    81. Dzikir lain setelah tasyahhud [1327-1327]
    82. Dzikir dan Doa lain [1328-1328]
    83. Dzikir dan Doa lain [1329-1329]
    84. Meminta perlindungan sehabis shalat [1330-1330]
    85. Jumlah tasbih sehabis shalat [1331-1331]
    86. Jumlah tasbih versi lain [1332-1335]
    87. Macam Lainnya [1336-1337]
    88. Menghitung tasbih [1338-1338]
    89. Tidak mengusap kening setelah salam [1339-1339]
    90. Duduk imam di tempat shalatnya setelah salam [1340-1341]
    91. Beranjak dari tempat shalat [1342-1344]
    92. Waktu yang seharusnya wanita lakukan untuk beranjak shalat [1345-1345]
    93. Larangan mendahului imam ketika pergi meninggalkan shalat [1346-1346]
    94. Ganjaran yang shalat bersama imam hingga imam pergi [1347-1347]
    95. Rukhsah bagi imam melangkahi leher-leher manusia [1348-1348]
    96. Jika seseorang ditanya "Sudahkah anda shalat?" [1349-1349]
  14. Kitab Jum'at
    1. Kewajiban menunaikan jumatan [1350-1351]
    2. Teguran keras meninggalkan jumatan [1352-1354]
    3. Kaffarat bagi yang meninggalkan jumatan tanpa udzur [1355-1355]
    4. Fadhilah hari jumat [1356-1356]
    5. Memperbanyak shalawat untuk Nabi pada hari jumat [1357-1357]
    6. Perintah bersiwak ketika jumat [1358-1358]
    7. Perintah amndi hari jumat [1359-1359]
    8. Kewajiban mandi hari jumat [1360-1361]
    9. Rukhsah tidak mandi ketika jumat [1362-1363]
    10. Keutamaan mandi jumat [1364-1364]
    11. Berpenampilan untuk jumatan [1365-1366]
    12. Keutamaan berjalan ke masjid [1367-1367]
    13. Pergi jumatan "semenjak dini" [1368-1370]
    14. Waktu jumat [1371-1374]
    15. Adzan jumat [1375-1377]
    16. Shalat hari jumat padahal imam telah muncul [1378-1378]
    17. Tempat duduk imam ketika jumat [1379-1379]
    18. Imam berdiri ketika khutbah [1380-1380]
    19. Keutamaan berusaha sedekat mungkin dengan imam [1381-1381]
    20. Larangan melangkahi orang-orang ketika imam sudah di minbar hari jumat [1382-1382]
    21. Shalat bagi yang datang saat imam sedang berkhutbah [1383-1383]
    22. Diam hari jumat untuk mendengar khutbah [1384-1385]
    23. Keutamaan diam dan meninggalkan senda gurau hari jumat [1386-1386]
    24. Tekhnik khutbah [1387-1387]
    25. Imam menyuruh mandi ketika khutbah jumat [1388-1390]
    26. Imam menyuruh sedekah ketika khutbah jumatnya [1391-1391]
    27. Imam menyampaikan berita dan kritik ketika di minbar [1392-1393]
    28. Bacaan ketika khutbah [1394-1394]
    29. Memberi isyarat ketika khutbah [1395-1395]
    30. Imam turun dari minbar sebelum selesai khutbah dan memutusnya [1396-1396]
    31. Disunnahkan meringkas khutbah [1397-1397]
    32. Berapa kali berkhutbah? [1398-1398]
    33. Memberi jeda antara dua khutbah dengan duduk [1399-1399]
    34. Diam ketika duduk antara dua khutbah [1400-1400]
    35. Membaca beberapa ayat alquran dalam khutbah kedua dan mengingat Allah [1401-1401]
    36. Bicara dan berdiri setelah tuurn dari minbar [1402-1402]
    37. Jumlah shalat jumat [1403-1403]
    38. Bacaan shalat jumat dengan surat jumat dan almunafiqun [1404-1404]
    39. Bacaan shalat jumat dengan al-a'la dan alghasyiyah [1405-1405]
    40. Perbedaan Nu'man bin busyair tentang bacaan shalat jumat [1406-1407]
    41. Yang mendapat satu rakaat pada shalat jumat [1408-1408]
    42. Jumlah shalat setelah jumat di masjid [1409-1409]
    43. Shalat imam setelah jumat [1410-1411]
    44. Memanjangkan dua rakaat setelah jumat [1412-1412]
    45. Waktu-waktu yang dimungkinkan doa dimakbulkan saat hari jumat [1413-1415]
  15. Kitab Mengqoshor Sholat Saat Safar
    1. Bab [1416-1425]
    2. Shalat di Makkah [1426-1427]
    3. Shalat di Mina [1428-1434]
    4. Lama kepergian sehingga meng-qashar shalat [1435-1439]
    5. Tidak melakukan shalat sunnah ketika safar [1440-1441]
  16. Kitab Sholat Kusuf (Gerhana)
    1. Gerhana matahari dan bulan [1442-1442]
    2. Tasbih, takbir, dan doa ketika gerhana matahari [1443-1443]
    3. Perintah shalat ketika gerhana matahari [1444-1444]
    4. Perintah shalat ketika gerhana bulan [1445-1445]
    5. Perintah shalat ketika gerhana hingga muncul kembali [1446-1447]
    6. Perintah untuk mengumumkan shalat gerhana [1448-1448]
    7. Barisan shalat gerhana [1449-1449]
    8. Bagaimana shalat gerhana [1450-1451]
    9. Tekhnik lain shalat gerhana versi Ibn Abbas [1452-1452]
    10. Versi lain [1453-1454]
    11. Versi lain [1455-1458]
    12. Versi lain [1459-1475]
    13. Kisaran bacaan shalat gerhana [1476-1476]
    14. Menyaringkan bacana ketika shalat gerhana [1477-1477]
    15. Tidak menyaringkan bacaan [1478-1478]
    16. Bacaan sujud ketika shalat gerhana [1479-1479]
    17. Tasyahhud dan salam dalam shalat gerhana [1480-1481]
    18. Duduk diatas minbar setelah shalat gerhana [1482-1482]
    19. Bagaimana khutbah shalat gerhana [1483-1484]
    20. Perintah berdoa ketika gerhana [1485-1485]
    21. Perintah banyak istighfar ketika gerhana [1486-1486]
  17. Kitab Istisqo (Meminta Hujan)
    1. Kapan imam meminta hujan (ISTISQA"); [1487-1487]
    2. Imam pergi ke tanah lapang untuk shalat istisqa' [1488-1488]
    3. Yang disunnahkan dilakukan imam ketika berangkat [1489-1490]
    4. Duduk imam diatas minbar ntuk meminta hujan [1491-1491]
    5. Imam membalikkan punggung menghadap hadirin ketika doa minta hujan [1492-1492]
    6. Imam membolak-balikkan selendang (sorban) ketika minta hujan [1493-1493]
    7. Kapan imam mengalihkan selendangnya [1494-1494]
    8. Imam mengangkat tangannya [1495-1495]
    9. Bagaimana mengangkat [1496-1498]
    10. Doa-doa istisqo" [1499-1501]
    11. Shalat setelah berdoa [1502-1502]
    12. Berapa rakaat shalat istisqa" [1503-1503]
    13. Bagaimana shalat istisqa" [1504-1504]
    14. Menyaringkan bacaan ketika shalat istisqa" [1505-1505]
    15. Doa saat hujan [1506-1506]
    16. Dimakruhkan meminta hujan dengan ramalan bintang [1507-1509]
    17. Imam meminta hujan dihentikan jika mendatangkan mara bahaya [1510-1510]
    18. Imam mengangkat kedua tangan ketika meminta hujan dihentikan [1511-1511]
  18. Kitab Sholat Khouf (Dalam Kondisi Takut)
    1. Bab [1512-1537]
  19. Kitab Sholat Idul Adha dan Idul Fithri
    1. Bab [1538-1538]
    2. Berangkat Idul Fithri-Idul Adlha [1539-1539]
    3. Hamba sahaya dan wanita yang berhalangan ikut berangkat pada idul fitri-adlha [1540-1540]
    4. Wanita haidh menghindari tempat shalat [1541-1541]
    5. Berhias untuk idul fithri-adha [1542-1542]
    6. Shalat sebelum imam hari raya ied [1543-1543]
    7. Tidak adzan ketika idul fithri-idul adha [1544-1544]
    8. Khutbah pada hari 'ied [1545-1545]
    9. Shalat idul fithri-idul adha sebelum khutbah [1546-1546]
    10. Shalat idul fithri-idul adha menghadap tongkat [1547-1547]
    11. Jumlah shalat idul fithri-adha [1548-1548]
    12. Bacaan idul fithri-adha dengan surat Qaaf dan alqamar [1549-1549]
    13. Bacaan idul fithri-adha dengan al-a'la dan alghasyiyah [1550-1550]
    14. Khutbah idul fihtri-adha setelah shalat [1551-1552]
    15. Hak pilih antara tetap duduk atau pulang pada khutbah kedua [1553-1553]
    16. Berhias untuk khutbah pada khutbah idul fithri-adha [1554-1554]
    17. Khutbah diatas unta [1555-1555]
    18. Imam berdiri ketika khutbah [1556-1556]
    19. Imam berdiri dan bersandar kepada manusia [1557-1557]
    20. Imam menghadap hadirin ketika khutbah [1558-1558]
    21. Menyuruh diam ketika khutbah [1559-1559]
    22. Cara khutbah [1560-1560]
    23. Imam menganjurkan sedekah ketika khutbah [1561-1563]
    24. Khutbah secara wajar [1564-1564]
    25. Duduk antara dua khutbah dengan diam [1565-1565]
    26. Bacaan pada khutbah kedua disertai mengingat Allah [1566-1566]
    27. Imam turun dari minbar sebelum selesai khutbah [1567-1567]
    28. Imam menasehati wanita setelah selesai khutbah dan memberi motivasi [1568-1568]
    29. Shalat sebelum dan sesudah ied [1569-1569]
    30. Imam menyembelih pada hari ied dan jumlah yang disembelih [1570-1571]
    31. Dua ied bertemu dalam sehari dan menghadiri keduanya [1572-1572]
    32. Dirukhsahkan tidak menghadiri jumatan bagi yang menyertai ied [1573-1574]
    33. Memukul rebana ketika ied [1575-1575]
    34. Bermain di hadapan imam ketka hari ied [1576-1576]
    35. Bermain di masjid pada hari ied dan wanita menonton [1577-1578]
    36. Dirukhsahkan mendengar nyanyian dan memukul rebana hari ied [1579-1579]
  20. Kitab Qiyamul Lail dan Sholat Sunnah Siang Hari
    1. Mendorong shalat di rumah dan keutamaannya [1580-1582]
    2. Shalat malam [1583-1583]
    3. Ganjaran yang shalat malam pada bulan Ramadhan karena dorongan iman dan memburu pahala [1584-1585]
    4. Shalat malam Ramadhan [1586-1588]
    5. Motivasi shalat malam [1589-1594]
    6. Keutamaan shalat malam [1595-1596]
    7. Keutamaan shalat malam ketika safar [1597-1597]
    8. Waktu shalat malam [1598-1598]
    9. Bacaan pembuka shalat malam [1599-1602]
    10. Bersiwak ketika shalat malam [1603-1604]
    11. Perselisihan Abu hashin Usman bin 'Ashim dalam masalah ini [1605-1606]
    12. Bacaan pembuka shalat malam [1607-1608]
    13. Shalat Rasulullah ketika malam [1609-1611]
    14. Shalat nabiyulah Dawud ketika malam [1612-1612]
    15. Shalat nabiyullah Musa dan perselisihan Sulaiman Attamimi [1613-1619]
    16. Menghidupkan malam [1620-1620]
    17. Perselisihan Aisyah dalam menghidupkan malam [1621-1627]
    18. Bagaimana yang dilakukan jika membuka shalat dengan berdiri dan perselisihan para pengutip [1628-1633]
    19. Shalat dengan duduk pada shalat sunnah dan perselisihan pada Abu Ishaq [1634-1640]
    20. Keutamaan shalat berdiri daripada shalat duudk [1641-1641]
    21. Keutamaan shalat sambil duduk daripada tidur [1642-1642]
    22. Bagaimana shalat dengan duduk [1643-1643]
    23. Bagaimana bacaan malam [1644-1644]
    24. Keutamaan membaca dengan lirih daripada dengan nyaring [1645-1645]
    25. Menyamakan antara berdiri, ruku', berdiri setelah ruku', sujud dan duduk [1646-1647]
    26. Bagaimana shalat malam [1648-1656]
    27. Perintah witir [1657-1658]
    28. Dorongan melakukan witr sebelum tidur [1659-1660]
    29. Larangan Nabi Shallallahu'alaihiwasallam perihal dua witr dalam semalam [1661-1661]
    30. Waktu witr [1662-1664]
    31. Perintah witr sebelum subuh [1665-1666]
    32. Witr setelah adzan [1667-1667]
    33. Witir diatas hewan tunggangan [1668-1670]
    34. Berapa rakaat shalat witr? [1671-1673]
    35. Bagaimana berwitir dengan satu rakaat? [1674-1678]
    36. Bagaimana berwitir dengan tiga ? [1679-1680]
    37. Perselisihan lafadz pengutip berita Ubbay bin Ka'b tentang witir [1681-1683]
    38. Perselisihan Abu Ishaq tentang hadis Sa'id bin Jubair [1684-1685]
    39. Perselisihan Hubaib bin Abi tsabit tentang hadis ibn Abbas [1686-1690]
    40. Perselisihan Azzuhri tentang hadis Abu Ayyub tentang witr [1691-1694]
    41. Bagaimana witir dengan lima, dan perselisihan Hakam tentang hadis witir [1695-1698]
    42. Bagaimana witir dengan tujuh [1699-1700]
    43. Bagaimana witr dengan sembilan [1701-1706]
    44. Bagaimana witr dengan sebelas rakaat [1707-1707]
    45. Witr dengan tiga belas rakaat [1708-1708]
    46. Bacaan witir [1709-1709]
    47. Bacaan lain [1710-1712]
    48. Perselisihan Syu'bah [1713-1717]
    49. Perselisihan Malik bin Mighwal+I1127 [1718-1719]
    50. Perselisihan Syu'bah dari Qatadah dalam hadis ini [1720-1724]
    51. Doa ketika witr [1725-1727]
    52. Tidak mengangkat kedua tangan ketika witir [1728-1728]
    53. Lama sujud setelah witr [1729-1729]
    54. Tasbih setelah selesai witr perselisihan Sofyan [1730-1734]
    55. Dibolehkan shalat antara witir dan dua rakaat fajar [1735-1735]
    56. Menjaga dua rakaat fajar [1736-1738]
    57. Waktu dua rakaat fajar [1739-1740]
    58. Tidur setelah dua rakaat fajar ditas bagian badan sebelah kanan [1741-1741]
    59. Celaan bagi yang tidak melaksanakan shalat malam [1742-1743]
    60. Waktu dua rakaat fajar dan perselisihan Nafi' [1744-1762]
    61. Yang berkebiasaan shalat malam lantas ketiduran [1763-1763]
    62. Nama si laki-laki Ridha [1764-1764]
    63. Mendatangi kasur dengan berniyat shalat malam, lantas ketiduran [1765-1765]
    64. Berapa rakaat orang yang ketiduran waktu malamnya, atau karena sakit ? [1766-1766]
    65. Orang yang ketiduran dari hizib (bacaan alquran), kapan melunasi? [1767-1770]
    66. Pahala orang yang shalat dua belas rakaat sehari-semalam [1771-1780]
    67. Perbedaan pada Ismail bin Khalid [1781-1794]
  21. Kitab Jenazah
    1. Mengimpikan kematian [1795-1798]
    2. Berdoa meminta kematian [1799-1800]
    3. Banyak mengingat mati [1801-1802]
    4. Mentalqin orang yang diprediksikan akan mati [1803-1804]
    5. Tanda-tanda kematian mukmin [1805-1806]
    6. Kedahsyatan kematian [1807-1807]
    7. Mati hari Senin [1808-1808]
    8. Mati bukan di tempat kelahirannya [1809-1809]
    9. Karamat yang diterima seorang mukmin ketika nyawanya menghilang [1810-1810]
    10. Yang mencintai perjumpaan Allah [1811-1815]
    11. Mencium mayyit [1816-1818]
    12. Menutupi mayyit dengan kain [1819-1819]
    13. Menangisi mayyit [1820-1822]
    14. Larangan menangisi mayyit [1823-1827]
    15. Meratapi mayyit [1828-1835]
    16. Rukhsah menangisi mayyit [1836-1836]
    17. Seruan-seruan jahiliyah [1837-1837]
    18. Meraung-raung ketika terjadi musibah [1838-1838]
    19. Menapuk-napuk pipi [1839-1839]
    20. Memangkas rambut [1840-1840]
    21. Merobek-robek baju [1841-1844]
    22. Perintah mengharap-harap ganjaran dan sabar ketika musibah [1845-1847]
    23. Ganjaran bagi yang bersabar dan mengharap-harap ganjaran [1848-1848]
    24. Ganjaran bagi yang mengharap-harap ganjaran karena kematian tiga keturunan [1849-1849]
    25. Yang ditinggal wafat tiga orang anaknya [1850-1853]
    26. Yang mempersembahkan ketiga anaknya [1854-1854]
    27. Mengumumkan kematian [1855-1857]
    28. Memandikan mayyit dengan air dan sidir [1858-1858]
    29. Memandikan mayyit dengan air panas [1859-1859]
    30. Melepas kepang rambut mayyit [1860-1860]
    31. Bagian kanan anggota tubuh mayyit dan organ-organ Wudlu' [1861-1861]
    32. Memandikan mayyit dengan ganjil [1862-1862]
    33. Memandikan mayyit lebih dari lima [1863-1863]
    34. Memandikan mayyit lebih dari tujuh [1864-1865]
    35. Menggunakan wewangian saat memandikan mayyit [1866-1866]
    36. Memakaian pakaian dalam [1867-1868]
    37. Perintahkan memberi kafan yang baik [1869-1869]
    38. Mana kafan yang lebih baik? [1870-1870]
    39. Kafan Nabi Shallallahu'alaihiwasallam [1871-1873]
    40. Menggunakan gamis dengan kafan [1874-1877]
    41. Bagaimana orang yang sedang berihram dikafani [1878-1878]
    42. Wewangian misik [1879-1880]
    43. Memberitahu kematian jenazah [1881-1881]
    44. Membawa jenazah dengan sedikit cepat [1882-1888]
    45. Perintah berdiri ketika menghadapi jenazah [1889-1894]
    46. Berdiri untuk jenazah ahli syirik [1895-1896]
    47. Rukhsah tidak berdiri [1897-1903]
    48. Orang mukmin beristirahat dengan kematian [1904-1904]
    49. Merasa aman (istirahat) dari kematian orang kafir [1905-1905]
    50. Pujian [1906-1908]
    51. Larangan menyebut orang yang telah mati kecuali kebaikan [1909-1909]
    52. Larangan mencaci maki mayyit [1910-1912]
    53. Perintah mengikuti jenazah [1913-1913]
    54. Keutamaan mengiringi jenazah [1914-1915]
    55. Posisi orang yang berjalan dari jenazah [1916-1916]
    56. Posisi orang yang berjalan dari jenazah [1917-1919]
    57. Perintah menyalatkan mayyit [1920-1920]
    58. Menyalatkan bayi [1921-1921]
    59. Menyalatkan anak-anak kecil [1922-1922]
    60. Anak orang-orang musyrik [1923-1926]
    61. Shalat untuk para syuhada" [1927-1928]
    62. Tidak menyalatkan mereka [1929-1929]
    63. Tidak menyalatkan orang yang dirajam [1930-1930]
    64. Menyalatkan orang yang dirajam [1931-1931]
    65. Menyalatkan orang yang berbuat zhalim ketika berwasiat [1932-1932]
    66. Menyalatkan orang yang ghulul (mengambil harta ghanimah sebelum resmi dibagi) [1933-1933]
    67. Menyalatkan orang yang berhutang [1934-1937]
    68. Menyalatkan orang yang bunuh diri [1938-1939]
    69. Menyalatkan orang munafik [1940-1940]
    70. Menyalatkan jenazah di masjid [1941-1942]
    71. Menyalatkan jenazah malam hari [1943-1943]
    72. Shaff ketika shalat jenazah [1944-1949]
    73. Menyalatkan jenazah dengan berdiri [1950-1950]
    74. Menyatukan jenazah, bayi dan wanita [1951-1951]
    75. Menyatukan jenazah, laki-laki dan wanita [1952-1953]
    76. Jumlah takbir untuk jenazah [1954-1956]
    77. Doa [1957-1963]
    78. Keutamaan jenazah yang dishalatkan oleh seratus orang [1964-1966]
    79. Ganjaran bagi yang menyalatkan jenazah [1967-1970]
    80. Duduk sebelum jenazah diletakkan [1971-1971]
    81. Berhenti untuk menyambut jenazah [1972-1974]
    82. Menimbun orang yang syahid dengan darahnya [1975-1975]
    83. Dimana orang syahid dimakamkan [1976-1978]
    84. Menimbun orang musyrik [1979-1979]
    85. Antara Lahad dan Syiqq [1980-1982]
    86. Disunnahkan mendalamkan kubur [1983-1983]
    87. Disunnahkan meluaskan kubur [1984-1984]
    88. Meletakkan baju di lahad [1985-1985]
    89. Waktu-waktu yang dilarang untuk mengubur mayyit [1986-1987]
    90. Sejumlah orang dimakamkan dalam satu liang [1988-1990]
    91. Siapa yang lebih didahulukan? [1991-1991]
    92. Mengeluarkan mayyit dari liang lahad setelah diletakkan [1992-1993]
    93. Mengeluarkan mayyit dari kubur setelah dimakamkan [1994-1994]
    94. Shalat diatas kuburan [1995-1998]
    95. Berkendara setelah selesai dari jenazah [1999-1999]
    96. Menambah-nambahi kuburan [2000-2000]
    97. Membangun kuburan [2001-2001]
    98. Mencat kuburan [2002-2002]
    99. Meratakan kubur jika ditinggikan [2003-2004]
    100. Mengunjungi kuburan [2005-2006]
    101. Mengunjungi kuburan orang musyrik [2007-2007]
    102. Larangan memintakan ampunan untuk orang musyrik [2008-2009]
    103. Perintah memintakan ampunan untuk orang mukmin [2010-2015]
    104. Teguran keras memberi lampu-lampu pada kuburan [2016-2016]
    105. Teguran keras duduk diatas pekuburan [2017-2018]
    106. Menjadikan kuburan sebagai masjid [2019-2020]
    107. Dimakruhkan berjalan antara pekuburan dengan sandal tak berbulu [2021-2021]
    108. Memberi kemudahan untuk sandal tak berbulu [2022-2022]
    109. Pertanyaan dalam kubur [2023-2023]
    110. Pertanyaan orang kafir [2024-2024]
    111. Yang meninggal karena sakit perut [2025-2025]
    112. Syahid [2026-2027]
    113. Kuburan menyempit dan menekan [2028-2028]
    114. Siksa kubur [2029-2032]
    115. Meminta perlindungan dari siksa kubur [2033-2040]
    116. Meletakkan pelepah kurma diatas kubur [2041-2045]
    117. Roh orang mukmin [2046-2053]
    118. Kebangkitan [2054-2059]
    119. Orang pertama-tama yang diberi pakaian [2060-2060]
    120. Takziyah (menghibur keluarga yang meninggal) [2061-2061]
    121. Musa menempeleng malaikat pencabut nyawa [2062-2062]
  22. Kitab Puasa
    1. Kewajiban puasa [2063-2067]
    2. Bermurah hati dan dermawan di bulan Ramadhan [2068-2069]
    3. Keutamaan bulan ramadhan [2070-2071]
    4. Perbedaan pada Azzuhri [2072-2076]
    5. Perbedaan pada Ma'mar [2077-2081]
    6. Rukhsah menyebut "Bulan ramadhan" dengan "Ramadhan" saja [2082-2083]
    7. Perbedaan penduduk bumi tentang ru"yah (melihat hilal) [2084-2084]
    8. Kesaksian satu orang melihat hilal dianggap cukup, dan perbedaan masalah ini [2085-2087]
    9. Menyempurnakan bulan Sya'ban tiga puluh hari jika ada awan dan perbedaan hal ini [2088-2089]
    10. Perbedaan pada Azzuhri dalam hadis ini [2090-2092]
    11. Perbedaan pada Ubaidullah bin Umar dalam hadis ini [2093-2094]
    12. Perbedaan pada Amru bin Dinar pada masalah ini [2095-2096]
    13. Perbedaan pada Manshur pada hadis Rubai [2097-2101]
    14. Berapa lama waktu sebulan, dan perbedaan pada Azzuhri pada berita dari Aisyah [2102-2103]
    15. Berita Ibn Abbas [2104-2105]
    16. Perbedaan pada Ismail pada tentang berita Sa'd bin Malik [2106-2108]
    17. Perbedaan pada Yahya bin Abi Katsir tentang berita Abu Salmah [2109-2114]
    18. Dorongan sahur [2115-2117]
    19. Perbedaan pada Abdul Malik bin Abu Sulaiman tentang hadis ini [2118-2122]
    20. Mengakhirkan sahur dan perbedaan pada Zirr [2123-2125]
    21. Jarak antara sahur dan sholat subuh [2126-2126]
    22. Perbedaan Hisyam dan Sa'id terhadap Qatadah [2127-2128]
    23. Perbedaan pada Sulaeman bin Mihran tentang hadis 'Aisyah dalam masalah mengakhirkan [2129-2132]
    24. Keutamaan sahur [2133-2133]
    25. Doa sahur [2134-2134]
    26. Menamakan sahur dengan makan pagi [2135-2136]
    27. Perbedaan antara puasa kami dengan puasa ahli kitab [2137-2137]
    28. Sahur dengan sawiq dan kurma [2138-2138]
    29. Tafsir firman-Nya "Makan dan minumlah hingga jelas bagi kalian" [2139-2140]
    30. Bagaimana fajar [2141-2142]
    31. Mengajukan sebelum bulan Ramadhan [2143-2143]
    32. Perbedaan pada Yahya bin Abi Katsir dan Muhammad bin Amru Ali [2144-2145]
    33. Hadis Abu Salmah dalam masalah ini [2146-2146]
    34. Perbedaan pada Muhammad bin Ibrahim [2147-2149]
    35. Perbedaan redaksi pengutip berita Aisyah [2150-2156]
    36. Perbedaan pada Khalid bin Ma'dan dalam hadis ini [2157-2158]
    37. Puasa pada hari yang diragukan [2159-2160]
    38. Memberi kemudahan pada hari yang diragukan [2161-2161]
    39. Ganjaran bagi yang shalat malam ramadhan dan puasa karena iman dan ihtisab [2162-2176]
    40. Perbedaan pada Yahya bin Abu katsir dan Nadhr bin Syaiban tentangnya [2177-2180]
    41. Keutamaan puasa dan perbedaan pada Abu ishaq tentang hadis Ali [2181-2182]
    42. Perbedaan pada Abu Shalih tentang hadis ini [2183-2189]
    43. Perbedaan pada Muhammad bin Abu ya'kub tentang hadis Umamah [2190-2211]
    44. Ganjaran puasa sehari fii sabilillah dan perbedaan [2212-2218]
    45. Perbedaan pada Sofyan atstsauri [2219-2222]
    46. Dimakruhkan puasa saat bepergian (Safar) [2223-2224]
    47. Alasan dimkaruhkan dan Perbedaan pada Muhammad [2225-2226]
    48. Perbedaan pada Ali bin Mubarak [2227-2228]
    49. Nama si laki-laki [2229-2231]
    50. Orang yang safar tidak dikenai puasa dan perbedaan pada Auza'i [2232-2235]
    51. Perbedaan Muawiyah bin Salam dan Ali bin Mubarak dalam hal ini [2236-2244]
    52. Keutamaan "Tidak puasa" saat safar (bepergian) daripada puasa [2245-2245]
    53. Sabdanya ; "Puasa saat safar bagaikan tidak puasa ketika di rumah" [2246-2248]
    54. Puasa ketika safar dan Perbedaan berita Ibn abbas [2249-2251]
    55. Perbedaan pada Manshur [2252-2255]
    56. Perbedaan pada Sulaeman bin yasar tentang hadis Hamzah bin Amru [2256-2263]
    57. Perbedaan pada Urwah tentang hadis Hamzah [2264-2264]
    58. Perbedaan pada Hisyam bin Urwah [2265-2269]
    59. Perbedaan pada Abu Nadhrah almundzir bin Malik bin Qatha'ah [2270-2273]
    60. Rukhsah bagi musafir untuk puasa beberapa hari dan tidak puasa beberapa hari [2274-2274]
    61. Rukhsah tidak puasa bagi yang menemui bulan Ramadhan, lantas puasa dan safar [2275-2275]
    62. Tidak dikenai kewajiban puasa bagi wanita hamil dan menyusui [2276-2276]
    63. Tafsir firman-Nya "Siapa yang tidak mampu puasa, membayar fidyah" [2277-2278]
    64. Tidak dikenai kewajiban puasa bagi wanita haidh [2279-2280]
    65. Jika wanita haidh telah suci atau musafir telah tiba di bulan Ramadhan, apa berpuasa pada sisa harinya ? [2281-2281]
    66. Jika tidak berniyat semenjak malam, apakah dihitung puasa sunnah? [2282-2282]
    67. Niyat puasa, dan perbedaan pada Abu tolhah bin yahya bin Tolhah [2283-2290]
    68. Perbedaan pengutip berita Hafsah [2291-2303]
    69. Puasa nabiyullah Dawud 'alaihissalam [2304-2304]
    70. Puasa Nabi Shallallahu'alaihiwasallam [2305-2332]
    71. Perbedaan pada Atho" pada berita tentangnya [2333-2337]
    72. Larangan puasa sepanjang masa dan Perbedaan pada Mutharrif [2338-2340]
    73. Perbedaan pada Ghailan [2341-2342]
    74. Menyusul puasa dengan puasa berikutnya [2343-2343]
    75. Puasa sepertiga masa dan perbedaan pada pengutip berita tentangnya [2344-2346]
    76. Sehari puasa dan sehari tidak, dan perbedaan lafadz pengutip [2347-2352]
    77. Menambah atau mengurangi puasa dan Perbedaan pengutip [2353-2355]
    78. Puasa sepuluh hari setiap bulan dan perbedaan pengutip [2356-2359]
    79. Puasa lima hari setiap bulan [2360-2360]
    80. Puasa empat hari setiap bulan [2361-2361]
    81. Puasa tiga hari setiap bulan [2362-2365]
    82. Perbedaan pada Abu Usman tentang hadis Abu hurairah dalam masalah puasa [2366-2370]
    83. Bagaimana puasa tiga hari setiap bulan dan perbedaan para pengutip [2371-2377]
    84. Perbedaan pada Abu Musa tentang berita puasa tiga hari [2378-2389]
    85. Puasa dua hari tiap bulan [2390-2391]
  23. Kitab Zakat
    1. Kewajiban zakat [2392-2396]
    2. Teguran keras tidak membayar zakat [2397-2399]
    3. Orang-orang yang tidak mau membayar zakat [2400-2400]
    4. Hukuman bagi yang tidak mau membayar zakat [2401-2401]
    5. Zakat unta [2402-2404]
    6. Tidak mau membayar zakat unta [2405-2405]
    7. Tidak dikenai zakat unta jika digunakan untuk angkutan (transportasi) [2406-2406]
    8. Zakat sapi [2407-2410]
    9. Tidak mau membayar zakat sapi [2411-2411]
    10. Zakat kambing [2412-2412]
    11. Tidak mau membayar zakat kambing [2413-2413]
    12. Menyatukan hewan yang terpisah dan memisah hewan yang menyatu [2414-2415]
    13. Doa imam untuk pemilik zakat [2416-2416]
    14. Jika penarik zakat melakukan kezhaliman dalam masalah zakat [2417-2418]
    15. Pemilik harta menyerahkan harta dengan tanpa pilihan penarik zakat [2419-2421]
    16. Zakat kuda [2422-2425]
    17. Zakat budak [2426-2427]
    18. Zakat uang perak [2428-2433]
    19. Zakat perhiasan [2434-2434]
    20. Tidak mau membayar zakat [2435-2436]
    21. Zakat kurma [2437-2437]
    22. Zakat gandum [2438-2438]
    23. Zakat biji-bijian [2439-2439]
    24. Ukuran dikenaik kewajiban zakat [2440-2441]
    25. Yang terkena kewajiban sepersepuluh dan seperdua puluh [2442-2444]
    26. Berapa tukang taksir membiarkan buah-buahan dalam pohon [2445-2445]
    27. Firman-Nya "Jangan kau pilih yang buruk untuk kalian infakkan" [2446-2447]
    28. Tambang [2448-2451]
    29. Zakat madu [2452-2452]
    30. Kewajiban zakat Ramadhan [2453-2453]
    31. Kewajiban zakat Ramadhan untuk budak [2454-2454]
    32. Kewajiban zakat Ramadhan untuk anak kecil [2455-2455]
    33. Kewajiban zakat Ramadlan untuk muslimin, bukan orang kafir yang mengikat perjanjian [2456-2457]
    34. Berapa takaran diwajibkan? [2458-2458]
    35. Kewajiban zakat fithri sebelum diturunkan ayat zakat [2459-2460]
    36. Takaran zakat fithri [2461-2463]
    37. Kurma dalam zakat fitri [2464-2464]
    38. Kismis [2465-2466]
    39. (Daqiq) Gandum yang sudah halus [2467-2467]
    40. (Hintah) Biji gandum [2468-2468]
    41. (Salat) Gandum yang kulitnya sudah dihilangkan [2469-2469]
    42. (Sya'ir) Gandum yang sudah ditapis [2470-2470]
    43. Keju (Susu dikeringkan) [2471-2471]
    44. Berapa sha' [2472-2473]
    45. Waktu yang disunnahkan membayar zakat fitri [2474-2474]
    46. Mengeluarkan zakat dari suatu negeri ke negeri lain [2475-2475]
    47. Jika memberikan zakat kepada orang kaya diluar perkiraan [2476-2476]
    48. Sedekah dari rampasan yang belum dibagi secara resmi [2477-2478]
    49. Kesungguhan ketika dalam keterbatasan [2479-2483]
    50. Tangan diatas [2484-2484]
    51. Mana yang disebut tangn diatas [2485-2485]
    52. Tangan dibawah [2486-2486]
    53. Sedekah ketika kebutuhan telah terpenuhi [2487-2487]
    54. Penafsiran [2488-2488]
    55. Jika seseorang bersedekah padahal dirinya perlu, apa ditolak? [2489-2489]
    56. Sedekah budak [2490-2491]
    57. Sedekah wanita dari rumah suaminya [2492-2492]
    58. Pemberian isteri tanpa sepengetahuan suaminya [2493-2493]
    59. Keutamaan sedekah [2494-2494]
    60. Sedekah mana paling utama? [2495-2499]
    61. Sedekah bakhil [2500-2501]
    62. Menghitung sedekah [2502-2504]
    63. Sedekah sekalipun sedikit [2505-2506]
    64. Anjuran bersedekah [2507-2508]
    65. Sedekah mendatangkan pertolongan [2509-2510]
    66. Sedekah diertai kebanggaan [2511-2512]
    67. Pahala penjaga kas jika bersedekah seijin majikannya [2513-2513]
    68. Sedekah secara rahasia [2514-2514]
    69. Mengungkit-ungkit pemberian [2515-2517]
    70. Menolak peminta-minta [2518-2518]
    71. Siapa meminta dan tidak diberi [2519-2519]
    72. Meminta dengan menyebut nama Allah [2520-2520]
    73. Meminta dengan menyebuat "Atas nama wajah Allah" [2521-2521]
    74. Siapa yang meminta dengan menyebut nama Allah dan tidak diberi [2522-2522]
    75. Ganjaran si pemberi [2523-2523]
    76. Tafsir istilah miskin [2524-2527]
    77. Fakir yang sombong [2528-2529]
    78. Keutamaan menyantuni janda [2530-2530]
    79. Mu'allaf [2531-2531]
    80. Bersedekah kepada orang yang menanggung beban hutang, diyat, atau lainnya [2532-2533]
    81. Sedekah kepada anak yatim [2534-2534]
    82. Sedekah kepada kerabat [2535-2536]
    83. Meminta-minta [2537-2539]
    84. Meminta orang shalih [2540-2540]
    85. Menahan diri untuk tidak meminta [2541-2542]
    86. Keutamaan orang yang tidak meminta [2543-2544]
    87. Batasan kaya [2545-2545]
    88. Meminta dengan cara menekan (setengah memaksa) [2546-2546]
    89. Siapa yang dikatakan menekan (setengah memaksa?) [2547-2548]
    90. Jika seseorang tidak mempunyai dirham namun mempunyai yang setara [2549-2550]
    91. Orang kuat dan mampu bekerja namun meminta [2551-2551]
    92. Seseorang meminta penguasa (pejabat) [2552-2552]
    93. Seseorang meminta ketika kondisi mengharuskan [2553-2556]
    94. Siapa yang Allah beri harta dengan tanpa meminta [2557-2561]
    95. Keluarga Nabi Shallallahu'alaihiwasallam meminta untuk mengelola sedekah [2562-2562]
    96. Anak saudara perempuan suatu kaum adalah bagian dari mereka [2563-2564]
    97. Budak suatu kaum adalah bagian dari mereka [2565-2565]
    98. Sedekah tidak dihalalkan bagi Nabi Shallallahu'alaihiwasallam [2566-2566]
    99. Jika sedekah berubah [2567-2567]
    100. Membeli sedekah [2568-2571]
  24. Kitab Manasik Haji
    1. Kewajiban haji [2572-2573]
    2. Kewajiban Umrah [2574-2574]
    3. Keutamaan haji mabrur [2575-2576]
    4. Keutamaan haji [2577-2581]
    5. Keutamaan Umrah [2582-2582]
    6. Keutamaan mengikutsertakan antara haji dan umrah [2583-2584]
    7. Menghajikan mayyit yang bernadzar untuk haji [2585-2585]
    8. Menghajikan mayyit yang belum berhaji [2586-2587]
    9. Menghajikan orang yang masih hidup yang tak mampu berkendara [2588-2588]
    10. Menggantikan umrah seseorang yang tidak mampu [2589-2589]
    11. Melunasi haji serupa dengan melunasi hutang [2590-2592]
    12. Haji wanita atas nama laki-laki [2593-2594]
    13. Haji laki-laki atas nama wanita [2595-2595]
    14. Yang disunnahkan untuk menghajikan seseorang adalah laki-laki paling dewasa [2596-2596]
    15. Haji dengan anak kecil (bawah umur) [2597-2601]
    16. Waktu keberangkatan Nabi Shallallahu'alaihiwasallam [2602-2602]
    17. Miqat untuk penduduk Madinah, ada beberapa miqat [2603-2603]
    18. Miqat penduduk Syam [2604-2604]
    19. Miqat penduduk Meshir [2605-2605]
    20. Miqat penduduk Yaman [2606-2606]
    21. Miqat penduduk Nejed [2607-2607]
    22. Miqat penduduk Irak [2608-2608]
    23. Yang penduduknya tidak mempunyai miqat [2609-2610]
    24. Singgah malam hari di Dzul Hulaifah [2611-2613]
    25. Baida' [2614-2614]
    26. Mandi untuk berihram [2615-2616]
    27. Orang yang berihram mandi [2617-2617]
    28. Larangan memakai pakaian yang dicelup waras dan za'faran [2618-2619]
    29. Jubah ketika ihram [2620-2620]
    30. Larangan memakai gamis untuk orang berihram [2621-2621]
    31. Larangan memakai celana ketika ihram [2622-2622]
    32. Rukhsah memakai celana bagi yang tak mendapatkan sarung [2623-2624]
    33. Larangan wanita memakai cadar [2625-2625]
    34. Larangan memakai peci [2626-2627]
    35. Larangan memakai sorban [2628-2629]
    36. Larangan memakai khuff [2630-2630]
    37. Rukhsah memakai khuff bagi yang tak menemukan sandal [2631-2631]
    38. Memotong khuff dibawah mata kaki [2632-2632]
    39. Larangan memakai sarung tangan [2633-2633]
    40. Memakai ikat kepala [2634-2635]
    41. Dibolehkan berwewangian ketika ihram [2636-2646]
    42. Letak wewangian [2647-2657]
    43. Za'faran bagi orang yang berihram [2658-2660]
    44. Minyak wnagi khaluq bagi yang berihram [2661-2662]
    45. Celak [2663-2663]
    46. Dimakruhkan memakai pakaian yang dicelup [2664-2664]
    47. Orang berihram menutup wajah dan kepala [2665-2666]
    48. Haji Ifrad [2667-2670]
    49. Haji Qiran [2671-2681]
    50. Haji tamattu' [2682-2689]
    51. Tidak menyebut nama Allah ketika niyat dan bertalbiyah [2690-2691]
    52. Haji tanpa disertai niyat [2692-2695]
    53. Jika bertalbiyah untuk Umrah, apakah sekaligus menyertakan haji? [2696-2696]
    54. Bagaimana bertalbiyah [2697-2702]
    55. Meninggikan suara ketika bertalbiyah [2703-2703]
    56. Beberapa hal yang harus dilakukan ketika bertalbiyah [2704-2710]
    57. Niyat dan talbiyah wanita nifas [2711-2712]
    58. Wanita yang berniyat untuk umrah kedatangan haid, dan khawatir kehilangan haji [2713-2714]
    59. Menyertakan syarat ketika haji [2715-2715]
    60. Bagaimana yag harus diucapkan jika menyertakan syarat [2716-2718]
    61. Apa yang harus dilakukan yang tertahan untuk haji dan belum menyertakan syarat [2719-2720]
    62. Menusuk hewan sembelihan sampai mengalirkan darah [2721-2722]
    63. Bagaian mana yang ditusuk? [2723-2723]
    64. Menghilangkan darah dari hewan sembelihan [2724-2724]
    65. Menganyam kalung sembelihan [2725-2729]
    66. Bahan kalung yang dianyam [2730-2730]
    67. Mengalungi sembelihan [2731-2732]
    68. Mengalungi unta [2733-2734]
    69. Mengalungi kambing [2735-2740]
    70. Mengalungi hewan sembelihan dengan dua sandal [2741-2741]
    71. Apakah jika mengalungi berarti sedang berihram? [2742-2742]
    72. Apakah mengalungi hewan sembelihan mengharuskan ihram? [2743-2747]
    73. Menuntun hewan sembelihan [2748-2748]
    74. Mengendarai hewan sembelihan [2749-2750]
    75. Mengendarai hewan sembelihan bagi yang kepayahan karena berjalan [2751-2751]
    76. Mengendarai hewan sembelihan secara wajar [2752-2752]
    77. Dibolehkan membatalkan haji dengan umrah bagi yang telah menuntun sembelihan [2753-2765]
    78. Buruan yang boleh dimakan orang berihram [2766-2768]
    79. Buruan yang tidak boleh dimakan orang berihram [2769-2774]
    80. Jika orang berihram tertawa dan menyatakan halal berburu dan membunuhnya, ia makan ataukah tidak? [2775-2776]
    81. Jika seorang berihram memberi isyarat buruan, makan pembunuhannya dihalalkan [2777-2778]
    82. Diantara hewan yang boleh dibunuh orang berihram, membunuh anjing galak [2779-2779]
    83. Membunuh ular [2780-2780]
    84. Membunuh tikus [2781-2781]
    85. Membunuh cicak [2782-2782]
    86. Membunuh kalajengking [2783-2783]
    87. Membunuh gagak [2784-2784]
    88. Membunuh elang [2785-2786]
    89. Hewan yang tidak dibunuh orang berihram [2787-2787]
    90. Rukhsah menikah bagi orang yang berihram [2788-2792]
    91. Larangan menikah [2793-2795]
    92. Bekam bagi orang berihram [2796-2798]
    93. Bekam bagi orang berihram karena kesakitan [2799-2799]
    94. Bekam bagi orang berihram di punggung telapak kaki [2800-2800]
    95. Bekam bagi orang berihram di tengah kepala [2801-2801]
    96. Orang berihram di ganggu kutu kepala [2802-2803]
    97. Orang berihram dimandikan dengan daun sidr jika meninggal [2804-2804]
    98. Berapa helai untuk menganai orang berihram [2805-2805]
    99. Larangan memberi kapur barus orang berihram jika meninggal [2806-2807]
    100. Larangan menutup kepala dan wajah orang berihram jika meninggal [2808-2808]
    101. Larangan menutup kepala orang berihram jika meninggal [2809-2809]
    102. Yang terkepung musuh [2810-2812]
    103. Masuk Makkah [2813-2813]
    104. Masuk Makkah malam hari [2814-2815]
    105. Dari mana masuk Makah [2816-2816]
    106. Masuk Makkah dengan bendera [2817-2817]
    107. Masuk Makkah dengan tidak berihram [2818-2820]
    108. Waktu yang dipergunakan Nabi ketika masuk Makkah [2821-2823]
    109. Mendendangkan syair (pantun) di tanah haram dan berjalan di depan imam [2824-2824]
    110. Kesucian Makkah [2825-2825]
    111. Diharamkan perang di Makkah [2826-2827]
    112. Kesucian tanah haram [2828-2831]
    113. Binatang yang boleh dibunuh ditanah haram [2832-2832]
    114. Membunuh ular di tanah haram [2833-2835]
    115. Membunuh cicak [2836-2837]
    116. Membunuh kalajengking [2838-2838]
    117. Membunuh tikus [2839-2840]
    118. Membunuh gagak [2841-2841]
    119. Membunuh elang [2842-2842]
    120. Larangan mengusir buruan tanah haram [2843-2843]
    121. Menyongsong haji [2844-2845]
    122. Tidak mengangkat kedua tangan ketika melihat baitullah [2846-2846]
    123. Doa ketika melihat baitullah [2847-2847]
    124. Keutamaan shalat di masjidil haram [2848-2850]
    125. Membangun ka'bah [2851-2855]
    126. Masuk baitullah [2856-2857]
    127. Posisi shalat di baitullah [2858-2860]
    128. Hijir Ismail [2861-2862]
    129. Shalat di hijir Ismail [2863-2863]
    130. Takbir di setiap sudut masjid [2864-2864]
    131. Dzikir dan doa di baitullah [2865-2865]
    132. Meletakkan dada dan wajah ke dinding ka'bah sebelah dalam [2866-2866]
    133. Posisi shalat dari ka'bah [2867-2869]
    134. Keutamaan thawaf di baitullah [2870-2870]
    135. Himpunan pengetahuan tentang thawaf [2871-2872]
    136. Boleh bicara ketika thawaf [2873-2874]
    137. Boleh thawaf setiap waktu [2875-2875]
    138. Bagaimana orang sakit melakukan thawaf [2876-2876]
    139. Thwaf laki-laki bersama wanita [2877-2878]
    140. Thawaf di baitullah diatas kendaraan [2879-2879]
    141. Thawaf bagi yang haji ifrad [2880-2880]
    142. Thawaf bagi yang berniyat umrah [2881-2881]
    143. Apa yang dilakukan orang yang berniyat haji dan umrah dan belum membawa sembelihan [2882-2882]
    144. Thawaf haji qiran [2883-2885]
    145. Hajar aswad [2886-2886]
    146. Meng-istilami hajar aswad [2887-2887]
    147. Mencium hajar aswad [2888-2888]
    148. Bagaimana mencium [2889-2889]
    149. Bagaimana thawaf ketika tiba pertama kali, dan sisi mana yang ia pegang ketika mengistilami [2890-2890]
    150. Berapa kali melakukan sa'i [2891-2891]
    151. Berapa kali berjalan [2892-2892]
    152. Berjalan lebih cepat pada tiga putaran pertama [2893-2893]
    153. Lari-lari kecil saat haji dan umrah [2894-2894]
    154. Lari-lari kecil dari dan ke hajar aswad [2895-2895]
    155. Alasan nabi Shallallahu'alaihiwasallam melakukan sa'i [2896-2897]
    156. Mengistilami dua rukun yamani ketika thawaf [2898-2899]
    157. Mengusap dua rukun yamani [2900-2900]
    158. Tidak mengistilami dua rukun yamani yang lain [2901-2904]
    159. Mengistilami rukun yamani dengan tongkat [2905-2905]
    160. Sekedar memberi isyarat [2906-2906]
    161. Firman-Nya "Pakailah perhiasan kalian setiap ke masjid" [2907-2909]
    162. Dimana shalat pada dua rakaat thawaf [2910-2911]
    163. Bacaan setelah dua rakaat thawaf [2912-2913]
    164. Bacaan dalam dua rakaat thawaf [2914-2914]
    165. Minum air zamzam [2915-2915]
    166. minum air zamzam dengan berdiri [2916-2916]
    167. Keberangkatan Nabi Shallallahu'alaihiwasallam ke Shafa melalui pintu [2917-2917]
    168. Hal ihwal Shafa dan marwa [2918-2921]
    169. Lokasi berdiri diatas bukit Shafa [2922-2922]
    170. Takbir ketika di bukit Shafa [2923-2923]
    171. Tahlil ketika di bukit Shafa [2924-2924]
    172. Dzikir dan doa di bukit Shafa [2925-2925]
    173. Thawaf antara Shafa dan marwa diatas hewan tunggangan [2926-2926]
    174. Berjalan diantara keduanya [2927-2927]
    175. Berjalan agak cepat antara keduanya [2928-2928]
    176. Lari-lari kecil antara Shafa dan marwa [2929-2929]
    177. Berlari-lari kecil di lembah Masil [2930-2930]
    178. Lokasi berjalan [2931-2931]
    179. Lokasi berjalan cepat [2932-2933]
    180. Lokasi berdiri diatas Marwa [2934-2934]
    181. Takbir diatasnya [2935-2935]
    182. Berapa kali thawaf orang yang haji qiran dan tamattu' antara Shafa dan marwa [2936-2936]
    183. Dimana orang berumrah memendekkan rambut? [2937-2938]
    184. Bagaimana memendekkan rambut ? [2939-2939]
    185. Apa yang harus dilakukan siapa yang berniyat haji dan membawa sembelihan [2940-2940]
    186. Apa yang harus dilakukan siapa yang berniyat umrah dan membawa sembelihan [2941-2942]
    187. Khutbah sebelum hari tarwiyah [2943-2943]
    188. Yang berniyat haji tamattu', kapan berniyat haji? [2944-2944]
    189. Perihal tentang Mina [2945-2946]
    190. Dimana imam shalat zhuhur ketika hari tarwiyah [2947-2947]
    191. Berangkat dari Mina ke Arafah [2948-2949]
    192. Takbir ketika berjalan ke Arafah [2950-2950]
    193. Talbiyah ketika berjalan Arafah [2951-2951]
    194. Penjelasan mengenai hari Arafah [2952-2953]
    195. Larangan puasa hari Arafah [2954-2954]
    196. Keberangkatan di harai Arafah [2955-2955]
    197. Bertalbiyah di Arafah [2956-2956]
    198. Khutbah di Arafah sebelum shalat [2957-2957]
    199. Khutbah di hari Arafah diatas nta [2958-2958]
    200. Meringkas khutbah di Arafah [2959-2959]
    201. Menjamak antara zhuhur dan ashar di Arafah [2960-2960]
    202. Mengangkat kedua tangan ketika berdoa di Arafah [2961-2965]
    203. Kewajiban wuquf di Arafah [2966-2968]
    204. Perintah tenang ketika bertolak dari Arafah [2969-2972]
    205. Bagaimana berjalan dari Arafah [2973-2973]
    206. Singgah setelah berjalan cepat dari Arafah [2974-2975]
    207. Menjamak kedua shalat di Muzdalifah [2976-2981]
    208. Mendahulukan wanita dan anak-anak ke persingghan mereka di Muzdalifah [2982-2986]
    209. Rukhsah bagi wanita untuk bertolak dari Muzdalifah sebelum subuh [2987-2987]
    210. Waktu yang digunakan untuk shalat subuh di Muzdalifah [2988-2988]
    211. Yang tidak menemukan shalat shubuh bersama imam di Muzdalifah [2989-2995]
    212. Bertalbiyah di Muzdalifah [2996-2996]
    213. Waktu bertolak dari Muzdalifah [2997-2997]
    214. Rukhsah bagi orang-orang lemah untuk shalat subuh di hari sembelihan di Mina [2998-3002]
    215. Memacu kendaraan agar cepat di lembah Muhassir [3003-3004]
    216. Bertalbiyah saat berjalan [3005-3006]
    217. Memungut kerikil [3007-3007]
    218. Darimana memungut kerikil [3008-3008]
    219. Ukuran kerikil untuk melempar [3009-3009]
    220. Berkendara ketika pergi untuk melempar jumrah dan meminta dinaungi [3010-3012]
    221. Waktu melempar jumrah 'aqabah pada hari sembelihan [3013-3013]
    222. Larangan melempar jumrah 'Aqabah sebelum terbit matahari [3014-3015]
    223. Rukhsah bagi anak-anak [3016-3016]
    224. Melempar setelah sore [3017-3017]
    225. Penggembala melempar [3018-3019]
    226. Tempat yang digunakan untuk melempar jumrah Aqabah [3020-3025]
    227. Jumlah kerikil untuk melempar [3026-3028]
    228. Bertakbir pada setiap kerikil [3029-3029]
    229. Memutus talbiyah jika melempar jumrah Aqabah [3030-3032]
    230. Berdoa setelah melempar jumrah [3033-3033]
    231. Yang dihalalkan setelah melempar jumrah [3034-3034]
  25. Kitab Jihad
    1. Kewajiban jihad [3035-3045]
    2. Teguran keras meninggalkan jihad [3046-3046]
    3. Rukhsah tidak menyertai pasukan perang [3047-3047]
    4. Keutamaan mujahidin dibandingkan yang tidak berangkat [3048-3051]
    5. Rukhsah tidak berangkat bagi yang punya dua anak [3052-3052]
    6. Rukhsah tidak berangkat bagi yang punya ibu [3053-3053]
    7. Keutamaan orang yang berjihad fi sabilillah dengan nyawa dan hartanya [3054-3054]
    8. Keutamaan yang beramal fi sabillah dengan berjalan kaki [3055-3064]
    9. Keutamaan yang kedua kakinya berdebu fi sabilillah [3065-3065]
    10. Keutamaan yang matanya begadang fi sabilillah [3066-3066]
    11. Keutamaan berpagi hari fi sabilillah [3067-3067]
    12. Keutamaan bersore hari fi sabilillah [3068-3069]
    13. Orang yang berperang adalah utusan Allah ta'ala [3070-3070]
    14. Allah menjamin siapa saja yang berjihad di jalan-Nya [3071-3073]
    15. Keutamaan pasukan pengintai atau ekspedisi militer [3074-3075]
    16. Perumpamaan mujahid fi sabilillah [3076-3076]
    17. Amalan yang menandingi atau menyeimbangi jihad [3077-3079]
    18. Derajat mujahid fi sabilillah [3080-3081]
    19. Pahala bagi yang masuk Islam, hijrah dan jihad [3082-3083]
    20. Keutamaan yang mendermakan sepasang harta fi sabilillah [3084-3084]
    21. Siapa yang berparang dengan niyat kalimatullah tinggi [3085-3085]
    22. Yang berperang agar memperoleh julukan "Si pemberani" [3086-3086]
    23. Berperang fi sabilillah dan tidak berniyat kecuali memperoleh tali kendaraan [3087-3088]
    24. Berperang untuk memperoleh pahala sekaligus julukan-julukan [3089-3089]
    25. Pahala yang berperang fi sabilillah selama memerah susu [3090-3090]
    26. Ganjaran yang melempar dengan panah fi sabilillah [3091-3095]
    27. Yang terluka fi sabilillah [3096-3097]
    28. Bacaan jika diserang musuh [3098-3098]
    29. Bereparang fi sabilillah lantas terbunuh oleh senjatanya sendiri [3099-3099]
    30. Mengimpikan kematian fi sabilillah [3100-3102]
    31. Ganjaran bagi yang terbunuh fi sabilillah [3103-3103]
    32. Yang berperang fi sabilillah dan mempunyai hutang [3104-3107]
    33. Impian pejuang fi sabilillah yang terbunuh [3108-3108]
    34. Impian penghuni surga dari pejuang fi sabilillah [3109-3109]
    35. Sakit yang dirasakan syahid [3110-3110]
    36. Minta kesyahidan [3111-3113]
    37. Yang terbunuh dan dibunuh ketemu di surga [3114-3114]
    38. Penafsiran masalah ini [3115-3115]
    39. Keutamaan Ribath [3116-3119]
    40. Keutamaan jihad di lautan [3120-3121]
    41. Memerangi India [3122-3124]
    42. Memerangi Turki dan Habasyah [3125-3126]
    43. Meminta pertolongan dengan orang-orang tertindas [3127-3128]
    44. Keutamaan bagi yang membekali pejuang [3129-3131]
    45. Keutamaan derma fi sabilillah [3132-3135]
    46. Keutamaan sedekah fi sabilillah [3136-3137]
    47. Kehormati isteri mujahid [3138-3138]
    48. Yang mengkhianati keluarja pejuang fi sabilillah [3139-3144]
  26. Kitab Pernikahaan
    1. Perintah Rasulullah untuk membangun Pernikahan [3145-3149]
    2. Yang Allah wajibkan kepada rasul-Nya dan diharamkan-Nya untuk selainnya [3150-3154]
    3. Motivasi pernikahan [3155-3159]
    4. Larangan membujang ("jomblo"); [3160-3165]
    5. Pertolongan Allah kepada yang menikah untuk menjaga kesucian [3166-3166]
    6. Pernikahan anak gadis [3167-3168]
    7. Menikahi wanita yang umurnya sepadan [3169-3169]
    8. Menikahi hamba sahaya yang telah dimerdekakan [3170-3172]
    9. Keutamaan mempunyai harta [3173-3173]
    10. Dorongan menikahi wanita [3174-3174]
    11. Dimakruhkan menikahi wanita mandul [3175-3175]
    12. Menikahi wanita pezina [3176-3177]
    13. Dimakruhkan menikahkan laki-laki pezina [3178-3178]
    14. Wanita mana paling utama [3179-3179]
    15. Wanita shalihah [3180-3180]
    16. Wanita pencemburu [3181-3181]
    17. Dibolehkan memandang sebelum menikah [3182-3183]
    18. Menikahi bulan Syawal [3184-3184]
    19. Pinangan [3185-3185]
    20. Larangan meminang wanita yang telah dipinang [3186-3190]
    21. Meminang wanita jika peminang pertama meninggalkan [3191-3192]
    22. Jika wanita meminta pendapat mengenai laki-laki peminang [3193-3193]
    23. Jika seorang laki-laki meminta pendapat mengenai wanita yang akan dinikahi [3194-3195]
    24. Menawarkan anak gadisnya kepada laki-laki yang diyakini kapastitas agamanya [3196-3196]
    25. Wanita menawarkan dirinya [3197-3198]
    26. Shalat wanita jika dipinang dan istikharah [3199-3200]
    27. Bagaimana istikharah [3201-3201]
    28. Anak laki-laki menikahkan ibunya [3202-3202]
    29. Laki-laki menikahkan anak perempuan yang masih belia [3203-3206]
    30. Laki-laki menikahkan anak perempuannya yang dewasa [3207-3207]
    31. Meminta persetujuan gadis [3208-3211]
    32. Ayah meminta persetujuan anak gadisnya [3212-3212]
    33. Wanita janda menentukan peretujuan dirinya [3213-3213]
    34. Ijin gadis [3214-3215]
    35. Janda dinikahkan ayahnya dengan laki-laki yang tak disukai [3216-3216]
    36. Gadis dinikahkan ayahnya dengan laki-laki yang tak disukai [3217-3218]
    37. Rukhsah orang yang berihram [3219-3222]
    38. Larangan menikah ketika berihram [3223-3224]
    39. Bacaan-bacaan pernikahan [3225-3226]
    40. Khutbah yang dimakruhkan [3227-3227]
    41. Bacaan yang menjadikan pernikahan menjadi resmi [3228-3228]
    42. Syarat-syarat pernikahan [3229-3230]
    43. Pernikahan wanita yang telah dithalak tiga kali [3231-3231]
    44. Keharaman anak perempuan isteri dari suami sebelumnya [3232-3232]
    45. Keharaman menyatukan antara ibu dan anak perempuan [3233-3234]
    46. Diharamkan menyatukan antara dua saudara perempuan [3235-3235]
    47. Menyatukan antara wanita dan bibi jalur ayah [3236-3242]
    48. Keharaman menyatukan antara wanita dan bibi jalur ibu [3243-3247]
    49. Yang diharamkan karena sepersusuan [3248-3251]
    50. Keharaman anak perempuan saudara laki-laki sepersusuan [3252-3254]
    51. Ukuran penyusuan yang mengharamkan [3255-3260]
    52. Suami wanita yang menyusui [3261-3266]
    53. Menyusui anak dewasa [3267-3273]
    54. Ghilah [3274-3274]
    55. Azl [3275-3276]
    56. Hak penyusuan dan kehormatannya [3277-3277]
    57. Kesaksian menyusui [3278-3278]
    58. Menikahi wanita yang dinikahi ayahnya [3279-3280]
    59. Tafsiran firman Allah " Dan wanita-wanita muhshan selain" [3281-3281]
    60. Syighar [3282-3284]
    61. Tafsir istilah Syighar [3285-3286]
    62. Menikah dengan beberapa surat Alquran [3287-3287]
    63. Menikah dengan keislaman [3288-3289]
    64. Menikah dengan memerdekakan [3290-3291]
    65. Membebaskan hamba sahaya lantas menikahinya [3292-3293]
    66. Memberi maskawin yang pantas [3294-3298]
    67. Menikah dengan satu nawat emas [3299-3301]
    68. Dibolehkan pernikahan tanpa maskawin tunai [3302-3305]
    69. Wanita menawarkan diri dengan tanpa mahar [3306-3306]
    70. Dihalalkan farji [3307-3311]
    71. Diharamkan nikah mut'ah [3312-3315]
    72. Mengumumkan pernikahan dengan suara dan tabuhan rebana [3316-3317]
    73. Bagaimana doa untuk pengantin laki-laki jika menikah [3318-3318]
    74. Doa bagi yang tidak menyaksikan pernikahan [3319-3319]
    75. Rukhsah memakai minyak wangi kuning norak (Shufrah) ketika pernikahan [3320-3321]
    76. Menunaikan berumah tangga [3322-3323]
    77. Memulai berumah tangga pada bulan Syawal [3324-3324]
    78. Berumah tangga dengan gadis berusia sembilan tahun [3325-3326]
    79. Berumah tangga ketika safar [3327-3329]
    80. Hiburan dan nyanyian ketika resepsi [3330-3330]
    81. Ayah membekali anak gadisnya [3331-3331]
    82. Kasur [3332-3332]
    83. Permadani atau karpet [3333-3333]
    84. Hadiah untuk pengantin [3334-3335]
  27. Kitab Talak
    1. Waktu thalak sesuai iddah yang Allah perintahkan [3336-3340]
    2. Thalak sunnah [3341-3342]
    3. Apa yang harus dilakukan jika mencerai sekali ketika isterinya haidh [3343-3344]
    4. Thalak diluar masa iddah [3345-3345]
    5. Thalak diluar masa iddah dan perhitungan untuk suami yang menthalak [3346-3347]
    6. Larangan keras mencerai tiga kali sekaligus [3348-3348]
    7. Rukhsah dalam hal ini [3349-3352]
    8. Thalak tiga kali yang terpencar-pencar sebelum berhubungan suami isteri [3353-3353]
    9. Thalak wanita yang dinikahi kemudian suami belum berhubungan suami-isteri [3354-3355]
    10. Thalak sekaligus [3356-3356]
    11. Ucapan, "Terserah urusanmu di tanganmu" [3357-3357]
    12. Kapan dihalalkan menikahi kembali Wanita yang telah dithalak tiga [3358-3362]
    13. Larangan keras mencari siasat untuk menikahi kembali wanita yang telah ditalak tiga [3363-3363]
    14. Laki-laki dihadapkan perceraian karena ucapan isteri [3364-3364]
    15. Laki-laki mengutus seseorang yang menyampaikan cerai [3365-3365]
    16. Tafsiran firman Allah "Wahai nabi mengapa engkau haramkan" [3366-3366]
    17. Penafsiran lain [3367-3367]
    18. Ucapan "Sana, kembalilah kepada keluargamu" [3368-3372]
    19. Thalak budak [3373-3374]
    20. Kapan thalak anak-anak berlaku [3375-3377]
    21. Thalak suami yang tak berlaku [3378-3378]
    22. Mencerai masih dalam hati [3379-3381]
    23. Thalak dengan isyarat yang bisa dimenegrti [3382-3382]
    24. Ucapan yang digunakan untuk menyatakan maksud dan maknanya mewakili [3383-3383]
    25. Ucapan yang digunakan untuk menyatakan maksud dan tak bisa dipahami [3384-3384]
    26. Memberi batasan untuk memilih [3385-3386]
    27. Wanita yang diberi pilihan memilih suaminya [3387-3391]
    28. Budak laki-laki dan perempuan dimerdekakan, mana yang didahulukan? [3392-3392]
    29. Piihan hamba sahaya [3393-3394]
    30. Pilihan hamba sahaya yang dimerdekakan dan suaminya merdeka [3395-3396]
    31. Pilihan hamba sahaya yang dimerdekakan dan suaminya budak [3397-3400]
    32. Ila' [3401-3402]
    33. Zhihar [3403-3406]
    34. Khulu' [3407-3411]
    35. Sejarah li'an [3412-3412]
    36. Li'an karena kehamilan [3413-3413]
    37. Li'an dengan suami menuduh isterinya selingkuh [3414-3414]
    38. Bagaimana li'an [3415-3415]
    39. Ucapan imam "Ya Alalh, jelaskanlah!" [3416-3417]
    40. Perintah meletakkan tangan pada suami-isteri yang meli'an pada sumpah kelima [3418-3418]
    41. Imam menasehati suami-isteri yang meli'an [3419-3419]
    42. Memisah suami-isteri yang melian [3420-3420]
    43. Suami-isteri bertaubat setelah li'an [3421-3421]
    44. Menyatukan kembali suami-isteri yang telah meli'an [3422-3422]
    45. Tidak menasabkan anak li'an kepada ayahnya dan diserahkan ibunya [3423-3423]
    46. Menyindir isteri, lantas isteri meragukan anaknya dan suami ingin menolak [3424-3426]
    47. Teguran keras tidak mengakui anak [3427-3427]
    48. Anak diserahkan pemilik kasur, jika pemilik kasur tidak menolak [3428-3432]
    49. Kasur hamba sahaya [3433-3433]
    50. Undian masalah anak jika diperselisihkan, dan perbedaan pada Asysya'bi [3434-3435]
    51. Kemiripan (Ilmu keturunan) [3436-3437]
    52. Salah seorang suami isteri masuk Islam dan meminta anak untuk memilih [3438-3439]
    53. Lama iddah wanita yang dikhulu' [3440-3441]
    54. Pengecualian masa iddah wanita yang dicerai [3442-3442]
    55. Iddah isteri yang ditinggal mati suaminya [3443-3447]
    56. Iddah wanita hamil yang ditinggal mati suaminya [3448-3465]
    57. Iddah wanita yang diitnggal mati suaminya dan belum bersetubuh [3466-3466]
    58. Berkabung [3467-3468]
    59. Berkabung tiga hari tak berlaku bagi isteri yang ditinggal mati suaminya [3469-3469]
    60. Wanita yang ditinggal mati suami berdiam diri di rumah hingga halal menikah [3470-3472]
    61. Rukhsah wanita yang ditinggal mati suaminya untuk beriddah sesukanya [3473-3473]
    62. Iddah wanita yang ditinggal mati suaminya semenjak berita kematian [3474-3474]
    63. Wanita muslimah berkabung dengan tidak berhias, menyelisihi yahudi-nashrani [3475-3477]
    64. Wanita yang berkabung menjauhi baju yang dicelup [3478-3479]
    65. Memakai pacar (hena) bagi wanita yang berkabung [3480-3480]
    66. Wanita yang berkabung dirukhsahkan bersisir dengan daun sidr [3481-3481]
    67. Larangan bercelak bagi wanita yang berkabung [3482-3485]
    68. Qusthul hindi dan minyakwangi azhfar bagi wanita berkabung [3486-3486]
    69. Wasiat pemberian untuk wanita yang ditinggal mati suaminya, dihapus oleh ayat warisan [3487-3488]
    70. Rukhsah bagi wanita yang telah dithalak tiga untuk keluar dari rumahnya dalam masa iddahnya [3489-3493]
    71. Wanita yang ditinggal mati suaminya keluar siang hari [3494-3494]
    72. Nafkah wanita yang dithalak bain [3495-3495]
    73. Nafkah wanita hamil yang dithalak bain [3496-3496]
    74. Quru' [3497-3497]
    75. Rujuk dihapus setelah thalak tiga [3498-3498]
    76. Rujuk dihapus setelah thalak tiga [3499-3504]
  28. Kitab Kuda Perang
    1. Bab [3505-3507]
    2. Menyukai kuda perang [3508-3508]
    3. Ciri kuda perang yang disunnahkan [3509-3509]
    4. Warna putih pada kuda perang [3510-3511]
    5. Rasa sial pada kuda [3512-3514]
    6. Barakah kuda perang [3515-3515]
    7. Memintal (menganyam) rambut kuda [3516-3521]
    8. Seseorang merawat kudanya [3522-3522]
    9. Doa kuda perang [3523-3523]
    10. Larangan keras mengawinkan keledai dengan kuda [3524-3525]
    11. Memberi makan kuda perang [3526-3526]
    12. Jarak perlombaan kuda yang tidak dipersiapkan [3527-3527]
    13. Mempersiapkan kuda untuk perlombaan [3528-3528]
    14. Perlombaan [3529-3533]
    15. Jalab [3534-3534]
    16. Janab [3535-3536]
    17. Dua bagian untuk kuda perang [3537-3537]
  29. Kitab Waqaf
    1. Bab [3538-3540]
    2. Waqaf, bagaimana waqf ditulis, dan perbedaan pada Ibn Aun [3541-3545]
    3. Waqaf barang atau lahan yang belum ditentukan nama pemilknya [3546-3548]
    4. Waqaf masjid [3549-3552]
  30. Kitab Wasiat
    1. Dimakruhkan menunda-nunda washiat [3553-3560]
    2. Apakah Nabi Shallallahu'alaihiwasallam meninggalkan wasiat? [3561-3566]
    3. Wasiat sepertiga [3567-3576]
    4. Melunasi hutang sebelum warisan dibagi dan perbedaan redaksi pengutip [3577-3580]
    5. Wasiat tak berlaku bagi orang yang memperoleh warisan [3581-3583]
    6. Jika berwasiat untuk kerabat yang paling dekat [3584-3588]
    7. Jika seseorang meninggal secara mendadak, apakah disunnahkan keluarganya menyedekahkan atas namanya? [3589-3590]
    8. Keutamaan sedekah atas nama mayyit [3591-3599]
    9. Perbedaan pada Sofyan [3600-3606]
    10. Larangan mengeksploitasi harta anak yatim [3607-3607]
    11. Yang dibolehkan bagi yang diwasiati harta anak yatim jika mengelolanya [3608-3610]
    12. Menjauhi memakan harta anak yatim [3611-3611]
  31. Kitab Pemberian
    1. Perbedaan lafadz pengutip berita Nu'man bin Basyir [3612-3627]
  32. Kitab Hibah
    1. Hibah barang atau lahan yang belum ditentukan pemiliknya [3628-3628]
    2. Orangtua menarik kembali pemberian kepada anaknya dan perbedaan pengutip berita [3629-3632]
    3. Perbedaan berita Abdullah bin Abbas [3633-3640]
    4. Perbedaan pada Thawus tentang menarik kembali pemberian [3641-3645]
  33. Kitab Ruqba
    1. Perbedaan pada Ibn Najih tentang berita Zaid bin Tsabit [3646-3648]
    2. Perbedaan pada Abu Zubair [3649-3659]
  34. Kitab Umra
    1. Bab [3660-3666]
    2. Perbedaan lafadz pengutip berita Jabir tentang 'umra [3667-3679]
    3. Perbedaan pada Azzuhri [3680-3689]
    4. Perbedaan Yahya bin Abu katsir dan Muhammad bin Amru Ali [3690-3695]
    5. Pemberian isteri tanpa seijin suaminya [3696-3700]
  35. Kitab Sumpah dan Nadzar
    1. Bab [3701-3701]
    2. Sumpah dengan "Wahai Dzat yang membolak-balikan hati." [3702-3702]
    3. Sumpah dengan redaksi "Demi kemuliaan Allah Ta'ala" [3703-3703]
    4. Teguran keras bersumpah dengan nama Allah ta'ala [3704-3705]
    5. Sumpah dengan nama ayah [3706-3708]
    6. Sumpah dengan nama Ibu [3709-3709]
    7. Sumpah dengan agama selain Islam [3710-3711]
    8. Sumpah dengan berlepas diri dari Islam [3712-3712]
    9. Bersumpah dengan ka'bah [3713-3713]
    10. Bersumpah dengan thaghut [3714-3714]
    11. Bersumpah dengan nama Latta [3715-3715]
    12. Bersumpah dengan nama Latta dan Uzza [3716-3717]
    13. Melunasi sumpah [3718-3718]
    14. Siapa yang bersumpah dan melihat selainnya lebih baik [3719-3719]
    15. Kaffarat sebelum pelanggaran sumpah [3720-3724]
    16. Kaffarat setelah melanggar sumpah [3725-3731]
    17. Bersumpah pada suatu hal yang tak dimiliki [3732-3732]
    18. Bersumpah lantas mengucapkan insya-Allah [3733-3733]
    19. Niyat dalam sumpah [3734-3734]
    20. Mengharamkan apa yang Allah halalkan [3735-3735]
    21. Jika bersumpah untuk tidak berlauk, lantas makan roti dengan cuka [3736-3736]
    22. Sumpah dan dusta bagi yang tidak meyakini sumpah dengan hatinya [3737-3738]
    23. Senda gurau dan dusta [3739-3740]
    24. Larangan nadzar [3741-3742]
    25. Nadzar tidak mengajukan dan tidak pula menangguhkan sesuatu [3743-3744]
    26. Nadzar dikeluarkan dari orang bakhil [3745-3745]
    27. Nadzar untuk ketaatan [3746-3746]
    28. Nadzar untuk kemaksiatan [3747-3748]
    29. Memberesi nadzar [3749-3749]
    30. Nadzar bukan untuk mencari kenikmatan melihat wajah Allah [3750-3751]
    31. Nadzar pada suatu yang tak dimiliki [3752-3753]
    32. Nadzar untuk berjalan ke baitullah [3754-3754]
    33. Jika wanita bersumpah untuk berjalan tak beralas kaki dan tak berkerudung [3755-3755]
    34. Bernadzar berpuasa kemudian meninggal sebelum puasa [3756-3756]
    35. Meninggal dan mempunyai nadzar [3757-3759]
    36. Bernadzar dan masuk islam sebelum melunasi nadzarnya [3760-3763]
    37. Menghadiahkan harta seolah nadzar [3764-3766]
    38. Apakah pekarangan termasuk harta jika bernadzar? [3767-3767]
    39. Pengecualian dengan mengucapkan insya-allah [3768-3770]
    40. Jika bersumpah, lantas orang lain mengucapkan insya Allah, apakah dihitung pengecualian? [3771-3771]
    41. Kaffarat nadzar [3772-3791]
    42. Kewajiban yang dilakukan siapa yang bernadzar lantas tak mampu melakukan [3792-3794]
    43. Pengecualian [3795-3796]
    44. Muzaro'ah [3797-3801]
    45. Beberapa hadis larangan menyewakan tanah dengan sepertiga [3802-3866]
    46. Perbedaan lafadh yang ma"tsur tentang Muzaro'ah [3867-3875]
    47. Serikat abdan [3876-3877]
  36. Kitab Menggauli Wanita
    1. Mencintai wanita [3878-3880]
    2. Mencintai sebagian isteri dengan menelantarkan lainnya [3881-3882]
    3. Mencintai sebagian isteri melebihi cintanya terhadap lainnya [3883-3892]
    4. Cemburu [3893-3902]
  37. Kitab Kesucian Darah
    1. Bab [3903-3920]
    2. Menghormati darah [3921-3943]
    3. Dosa besar [3944-3947]
    4. Dosa paling besar dan perbedaan Yahya dan Abdurrahman atas Sofyan [3948-3950]
    5. Yang menjadikan darah muslim boleh ditumpahkan [3951-3953]
    6. Membunuh yang memisahkan diri dari jamaah dan perbedaan pada Ziyad bin Alaqah [3954-3957]
    7. Tafsiran ayat "Sesungguhnya orang-orang yang memerangi Allah dan rasul-Nya" [3958-3960]
    8. Perbedaan pengutip berita Humaid dari Anas bin Malik [3961-3966]
    9. Perbedaan Tolhah bin Mushrif dan Mu'awiyah bin Shalih atas Yahya [3967-3978]
    10. Larangan mencincang (mutilasi, merusak mayyit) [3979-3979]
    11. Penyaliban [3980-3980]
    12. Budak melarikan diri ke negara syirik dan perbedaan lafadz pengutip [3981-3983]
    13. Perbedaan pada Abu ishaq [3984-3988]
    14. Hukum murtadd [3989-3999]
    15. Taubat murtadd [4000-4001]
    16. Hukum bagi yang mencela Nabi Shallallahu'alaihiwasallam [4002-4003]
    17. Perbedaan pada A'masy tentang hadis ini [4004-4009]
    18. Sihir [4010-4010]
    19. Hukum tukang sihir [4011-4011]
    20. Tukang sihir ahli kitab [4012-4012]
    21. Yang harus dilakukan terhadap seseorang yang megancam hartanya [4013-4015]
    22. Yang terbunuh membela hartanya [4016-4025]
    23. Yang memerangi untuk membela keluarganya [4026-4026]
    24. Yang memerangi untuk membela agamanya [4027-4027]
    25. Yang memerangi untuk membela ketertindasannya [4028-4028]
    26. Yang menghunuskan pedang lantas mengayunkan ke tengah-tengah manusia [4029-4034]
    27. Memerangi muslim [4035-4044]
    28. Teguran keras bagi yang berperang dengan panji-panji fatanisme [4045-4046]
    29. Keharaman pembunuhan [4047-4063]
  38. Kitab Pembagian Fa'i
    1. Bab [4064-4079]
  39. Kitab Baiah
    1. Untuk mendengardan taat [4080-4080]
    2. Baiat untuk tidak melengserkan urusan dari yang mewenanginya [4081-4081]
    3. Baiat untuk berkata benar [4082-4082]
    4. Baiat untuk berkata adil [4083-4083]
    5. baiat untuk lebih mengutamakan lainnya [4084-4085]
    6. Baiat untuk memberi nasihat (kebaktian diri) sesama muslim [4086-4087]
    7. Nbaiat untuk tidak lari dari gelanggang perang [4088-4088]
    8. Baiat untuk menyosngsong kematian [4089-4089]
    9. Baiat untuk jihad [4090-4092]
    10. Baiat untuk hijrah [4093-4093]
    11. Urusan hijrah [4094-4094]
    12. Hijrah orang pelosok [4095-4095]
    13. Tafsiran hijrah [4096-4096]
    14. Anjurann (motivasi) hijrah [4097-4097]
    15. Perbedaan tentang hijrah terhenti [4098-4103]
    16. Baiah untuk yang disukai dan yang tidak disukai [4104-4104]
    17. Baiat untuk memisahkan diri dari orang musyrik [4105-4107]
    18. Baiat wanita [4108-4110]
    19. Baiat orang yang mempunyai penyakit [4111-4111]
    20. Baiat anak-anak [4112-4112]
    21. Baiat budak [4113-4113]
    22. Meminta baiat dibatalkan [4114-4114]
    23. Kembali menjadi orang pedusunan (pelosok) setelah hijrah [4115-4115]
    24. Baiat sebatas maksimal kemampuan [4116-4119]
    25. Berbaiat kepada Imam dan telah menyerahkan baiatnya [4120-4120]
    26. Anjuran taat kepada imam [4121-4121]
    27. Perintah untuk menaati imam [4122-4122]
    28. Firman-Nya "Dan ulil amri diantara kalian" [4123-4123]
    29. Teguran keras membangkang imam [4124-4124]
    30. Hak dan kewajiban imam [4125-4125]
    31. Menasehati imam [4126-4129]
    32. Kubu imam [4130-4132]
    33. Pembantu-pembantu imam [4133-4133]
    34. Balasan yang diperintahkan maksiyat dan menaati [4134-4135]
    35. Ancaman bagi yang membantu penguasa melakukan kezhaliman [4136-4136]
    36. Tidak membantu penguasa melakukan kezhaliman [4137-4137]
    37. Keutamaan bicara kebenaran di hadapan imam zhalim [4138-4138]
    38. Ganjaran bagi yang memenuhi baiat [4139-4139]
    39. Dimakruhkan ambisi kepemimpinan [4140-4140]
  40. Kitab Aqiqoh
    1. Bab [4141-4142]
    2. Aqiqah bayi [4143-4144]
    3. Aqiqah bayi perempuan [4145-4145]
    4. Berapa kambing untuk bayi perempuan? [4146-4148]
    5. Kapan aqiqah? [4149-4149]
  41. Kitab Far' dan 'Athiroh
    1. Bab [4150-4154]
    2. Tafsir 'Atirah [4155-4157]
    3. Tafsir Alfar' [4158-4160]
    4. Kulit bangkai [4161-4174]
    5. Daging bangkai yang disamak [4175-4178]
    6. Rukhsah menggunakan kulit bangkai jika disamak [4179-4179]
    7. Larangan memanfaatkan kulit binatang buas [4180-4182]
    8. Larangan memanfaatkan lemak bangkai [4183-4183]
    9. Larangan memanfaatkan segala yang Allah haramkan [4184-4184]
    10. Tikus kecebur di minyak [4185-4188]
    11. Lalat kecebur di bejana [4189-4189]
  42. Kitab Buruan dan Sembelihan
    1. Perintah menyebut nama Allah saat berburu [4190-4190]
    2. Larangan memakan segala yang tidak disebut nama Allah [4191-4191]
    3. Buruan anjing yang terlatih [4192-4192]
    4. Buruan anjing yang tak terlatih [4193-4193]
    5. Jika anjing membunuh [4194-4194]
    6. Jika ada anjing menyertai dan belum disebut nama Allah [4195-4195]
    7. Jika ada anjing yang menyertai [4196-4199]
    8. Anjing menyantap buruan [4200-4201]
    9. Perintah membunuh anjing [4202-4205]
    10. Ciri anjing yang diperintahkan dibunuh [4206-4206]
    11. Malaikat tak mau masuk rumah berisi anjing [4207-4209]
    12. Rukhsah memelihara anjing untuk menjaga ternak [4210-4211]
    13. Rukhsah memelihara anjing untuk berburu [4212-4213]
    14. Rukhsah memelihara anjing untuk menjaga tanaman (perkebunan) [4214-4217]
    15. Larangan hasil usaha anjing [4218-4220]
    16. Rukhsah hasil usaha anjing buruan [4221-4222]
    17. Hewan jinak menampakkan keberingasan [4223-4223]
    18. Buruan yang dilempar lantas terjatuh ke air [4224-4225]
    19. Buruan yang dilempar lantas hilang [4226-4228]
    20. Buruan jika membusuk [4229-4230]
    21. Buruan karena terkena benda tumpul [4231-4231]
    22. Buruan terkena bagian benda yang tumpul [4232-4232]
    23. Buruan terkena alat yang tajam atau bisa melukai [4233-4234]
    24. Menyusuri buruan [4235-4235]
    25. Kelinci [4236-4239]
    26. Biawak [4240-4248]
    27. Anjing hutan [4249-4249]
    28. Diharamkan memakan binatang buas [4250-4252]
    29. Ijin menyantap daging kuda [4253-4256]
    30. Diharamkan menyantap daging kuda [4257-4259]
    31. Diharamkan menyantap keledai jinak [4260-4267]
    32. Dibolehkan menyantap daging keledai liar [4268-4270]
    33. Dibolehkan menyantap daging ayam [4271-4273]
    34. Dibolehkan setiap burung [4274-4274]
    35. Bangkai laut [4275-4279]
    36. Kodok [4280-4280]
    37. Belalang [4281-4282]
    38. membunuh semut [4283-4284]
  43. Kitab Hewan Sembelihan
    1. Bab [4285-4288]
    2. Yang tidak mendapat hewan sembelihan [4289-4289]
    3. Imam menyembelih sembelihan di tanah lapang [4290-4291]
    4. Orang-orang menyembelih di tanah lapang [4292-4292]
    5. Larangan sembelihan buta sebelah [4293-4293]
    6. Pincang [4294-4294]
    7. Kurus, kecil, lemah hingga tak punya sungsum [4295-4295]
    8. Ujung telinganya sobek (terpotong) [4296-4296]
    9. Pangkal telinganya sobek (terpotong) [4297-4297]
    10. Telinagnya berlubang [4298-4298]
    11. Telinganya retak (terbelah) [4299-4300]
    12. Tanduknya pecah [4301-4301]
    13. Musinnah dan Jadza'ah [4302-4308]
    14. Kambing gibas [4309-4314]
    15. Unta yang memenuhi kriteria sembelihan [4315-4316]
    16. Sapi yang memenuhi kriteria sembelihan [4317-4317]
    17. Menyembelih hewan sembelihan sebelum imam [4318-4322]
    18. Dibolehkan menyembelih dengan batu tajam [4323-4324]
    19. Dibolehkan menyembelih dengan kayu [4325-4326]
    20. Larangan menyembelih dengan kuku [4327-4327]
    21. Menyembelih dengan tulang [4328-4328]
    22. Perintahkan menajamkan pisau [4329-4329]
    23. Rukhsah menggorok yang disembelih atau menyembelih yang digorok [4330-4330]
    24. Sembelihan yang digigit binatang buas [4331-4331]
    25. Binatang yang jatuh ke sumur dan tak sampai dasarnya [4332-4332]
    26. Melarikan diri dan tak bisa ditangkap [4333-4335]
    27. Menyembelih dengan baik [4336-4338]
    28. Menginjakkan kaki di kening sembelihan [4339-4339]
    29. Menyebut nama Allah untuk hewan sembelihan [4340-4340]
    30. Bertakbir [4341-4341]
    31. Seseorang menyembelih hewan sembelihannya sendiri [4342-4342]
    32. Seseorang menyembelihan bukan hewan sembelihannya [4343-4343]
    33. Menggorok yang seharusnya disembelih [4344-4345]
    34. Menyembelih untuk selain Allah [4346-4346]
    35. Larangan menyantap daging setelah tiga hari dan menahannya [4347-4349]
    36. Ijin dalam masalah ini [4350-4354]
    37. Menyimpan daging sembelihan [4355-4358]
    38. Sembelihan orang yahudi [4359-4359]
    39. Sembelihan orang tak dikenal identitasnya [4360-4360]
    40. Tafsiran ayat "Dan jangan kalian menyantap segala yang tak disebut nama Allah" [4361-4361]
    41. Larangan menjadikan hewan sebagai obyek lemparan [4362-4368]
    42. Membunuh burung dengan tanpa haknya [4369-4370]
    43. Larangan makan daging hewan yang menyantap makanan menjijikkan (kotoran) [4371-4371]
    44. Larangan susu hewan yang menyantap makanan menjijikkan (kotoran) [4372-4372]
  44. Kitab Jual-Beli
    1. Motivasi BEKERJA [4373-4376]
    2. Menghindari yang meragukan ketika mencari penghasilan [4377-4379]
    3. Bisnis atau dagang [4380-4380]
    4. Prinsip-prinsip yang harus dijaga pedagang dalam bisnis [4381-4381]
    5. Melariskan dagangan dengan sumpah palsu [4382-4385]
    6. Sumpah untuk penipuan penjualan [4386-4386]
    7. Perintah bersedekah bagi yang belum yakin daganganya disertai keberkahan [4387-4387]
    8. Kewajiban memilih antara penjual-pembeli selama belum berpisah [4388-4388]
    9. Perbedaan Nafi' pada lafadz hadisnya [4389-4398]
    10. Perbedaan Abdullah bin dinar pada lafadz hadis [4399-4406]
    11. Kewajiban memilih antara penjual-pembeli sebelum berpisah badannya [4407-4407]
    12. Penipuan penjualan [4408-4409]
    13. Susu yang dibiarkan tidak diperas untuk penipuan [4410-4410]
    14. Larangan menahan susu dalam kantung untuk penipuan [4411-4413]
    15. Pembelian yang dimungkinkan ada cacat, harus memperoleh garansi [4414-4414]
    16. Orang yang berhijrah (metropolis) menjual kepada arab badwi (primitif) [4415-4415]
    17. Orang kota (metropolis) menjual kepada orang pelosok (badwi) [4416-4421]
    18. Mencegat dagangan [4422-4425]
    19. Menawar dagangan yang sudah ditawar saudaranya [4426-4426]
    20. Membeli dagangan yang sudah dibeli saudaranya [4427-4428]
    21. Najasy (Penipuan) [4429-4431]
    22. Menjual untuk orang yang mau menambah lagi tawarannya [4432-4432]
    23. Jual beli mulamasah [4433-4433]
    24. Penafsiran dalam hal itu [4434-4434]
    25. Jual beli munabadzah [4435-4436]
    26. Penafsiran dalam hal itu [4437-4441]
    27. Jual beli hushaat [4442-4442]
    28. Menjual kurma sebelum nampak kematangannya [4443-4449]
    29. Membeli buah-buahan sebelum nampak kematangannya, dan mengharuskan untuk mengambil dan menunggu masak [4450-4450]
    30. Tidak meneruskan penjualan karena buah rusak [4451-4454]
    31. Membeli pohon kurma untuk sekian tahun tertentu [4455-4455]
    32. Membeli kurma dengan kurma [4456-4457]
    33. Membeli kurma dengan kismis [4458-4461]
    34. Membeli kurma yang masih dalam tangkai dengan kurma masak yang ditaksir [4462-4463]
    35. Membeli kurma masih dalam tangkai dengan kurma mengkal [4464-4468]
    36. Membeli kurma masak dengan kurma mengkal [4469-4470]
    37. Membeli sekumpulan kurma yang tak jelas takarannya dengan takaran tertentu [4471-4471]
    38. Membeli sekumpulan makanan dengan sekumpulan makanan [4472-4472]
    39. Membeli tanaman dengan makanan [4473-4474]
    40. Membeli cikal buah hingga nampak berisi [4475-4476]
    41. Membeli kurma dengan kurma tertentu dengan dilebihkan [4477-4482]
    42. Membeli kurma dengan kurma [4483-4483]
    43. Membeli gandum dengan gandum [4484-4485]
    44. Membeli gandum halus dengan gandum halus [4486-4490]
    45. Membeli dinar dengan dinar [4491-4491]
    46. Membeli dirham dengan dirham [4492-4493]
    47. Membeli emas dengan emas [4494-4496]
    48. Membeli kalung yang berisi manik-manik dan emas dengan emas [4497-4498]
    49. Membeli perak dengan emas dengan pembayaran ditangguhkan [4499-4501]
    50. Membeli perak dengan emas atau membeli emas dengan perak [4502-4506]
    51. Menerima perak penjualan emas atau menerima emas penjualan perak dan perbedaan lafadz [4507-4511]
    52. Menerima perak penjualan emas [4512-4512]
    53. Tambahan dalam timbangan [4513-4514]
    54. Menimbang dengan sempurna [4515-4517]
    55. Menjual makanan sebelum menerima [4518-4524]
    56. Larangan menjual makanan yang dibeli hingga menerima [4525-4525]
    57. Menjual makanan yang dibeli tanpa timbangan sebelum dipindahkan dari tempatnya [4526-4529]
    58. Seseorang membeli makanan dengan pembayaran tangguh dan penjual meminta gadai (jaminan) [4530-4530]
    59. Gadai ketika tidak bepergian [4531-4531]
    60. Menjual barang yang tak dimiliki [4532-4534]
    61. Membeli makanan dengan uang dimuka (indent) [4535-4535]
    62. Membeli kismis dengan uang dimuka (indent) [4536-4536]
    63. Membeli buah-buahan dengan uang ditangguhkan [4537-4537]
    64. Membeli hewan dengan meminta pembayaran ditangguhkan dan meminta dipinjami [4538-4540]
    65. Menjual hewan dengan hewan yang dibayarkan secara tangguh [4541-4541]
    66. Jual beli hewan dengan hewan secara langsung (cash) dengan dilebihkan [4542-4542]
    67. Jual beli habalul habalah (janin masih dalam kandungan) [4543-4545]
    68. Penafsiran dalam hal itu [4546-4546]
    69. Jual beli untuk beberapa tahun tertentu [4547-4548]
    70. Jual beli untuk waktu tertentu [4549-4549]
    71. Menjual dagangan dengan syarat meminta pinjaman [4550-4550]
    72. Dua syarat dalam penjualan [4551-4552]
    73. Dua pembelian dalam satu pembelian [4553-4553]
    74. Larangan penjualan "Pengecualian yang tak jelas" hingga jelas [4554-4555]
    75. Pohon kurma dijual, dan pembeli mengecualikan buahannya [4556-4556]
    76. Budak dijual, dan pembeli mengecualikan hartanya [4557-4557]
    77. Penjualan dengan syarat, sehingga pembelian dan syarat sah [4558-4562]
    78. Penjualan dengan syarat, sehingga pembelian dan syarat sah [4563-4565]
    79. Penjualan ghanimah sebelum dibagi [4566-4566]
    80. Penjualan harta yang kepemilikannya berserikat [4567-4567]
    81. Memudahkan untuk tidak mencari kesaksian penjualan [4568-4568]
    82. Penjual-pembeli berbeda masalah harga [4569-4570]
    83. Jual beli dengan ahli kitab [4571-4572]
    84. Penjualan budak budabbar [4573-4575]
    85. Penjualan budak mukatab [4576-4576]
    86. Budak mukatab dijual sebelum membayar sedikitpun pembebasannya [4577-4577]
    87. Jual beli wala" [4578-4580]
    88. Jual beli air [4581-4582]
    89. Jual beli kelebihan air [4583-4584]
    90. Jual beli khamar atau miras (minuman keras) [4585-4586]
    91. Jual beli anjing [4587-4588]
    92. Pengecualian [4589-4589]
    93. Jual beli babi [4590-4590]
    94. Jual beli sperma unta [4591-4596]
    95. Seseorang menjual lantas bangkrut, dan dagangan masih tersisa [4597-4599]
    96. Seseorang menjual dagangan lantas diklaim milik orang lain [4600-4603]
    97. Mencari pinjaman [4604-4604]
    98. Teguran keras masalah hutang [4605-4606]
    99. Mudah membayar hutang [4607-4608]
    100. Orang kaya menunda-nunda pembayaran [4609-4611]
    101. Hiwalah (pengalihan hutang) [4612-4612]
    102. Menanggung hutang [4613-4613]
    103. Dorongan agar melunasi hutang dengan baik [4614-4614]
    104. Interaksi hartawi dengan baik dan santun dalam tagih menagih [4615-4617]
    105. Berserikat bukan harta [4618-4619]
    106. Berserikat dalam budak [4620-4620]
    107. Berserikat dalam pohon kurma [4621-4621]
    108. Berserikat dalam rumah atau pekarangan [4622-4622]
    109. Syuf'ah dan hukumnya [4623-4626]
  45. Kitab Qussamah
    1. Qussamah masa jahiliyah [4627-4627]
    2. Qussamah [4628-4630]
    3. Keluarga yang terbunuh mengawalmulai qussamah [4631-4632]
    4. Perbedaan lafadz pengutip berita Sahal [4633-4641]
    5. Diyat [4642-4644]
    6. Perbedaan pengutip berita 'Alqamah bin Wail [4645-4650]
    7. Penafsiran "Jika engkau menghukum, maka hukumlah dengan adil" [4651-4652]
    8. Qisas orang merdeka dan budak dalam masalah jiwa. [4653-4654]
    9. Qisas dari majikan untuk budak [4655-4657]
    10. Pembunuhan wanita dengan wanita [4658-4658]
    11. Qisas laki-laki untuk wanita [4659-4661]
    12. Qisas terhadap muslim gugur untuk orang kafir [4662-4665]
    13. Kebesaran dosa membunuh non muslim yang mengikat perjanjian [4666-4669]
    14. Qisas antara budak gugur jika selain jiwa [4670-4670]
    15. Qisas gigi [4671-4674]
    16. Qisas gigi seri [4675-4676]
    17. Qisas gigitan dan perbedaan lafadz pengutip berita Usman [4677-4681]
    18. Seseorang membela diri [4682-4683]
    19. Perbedaan pada 'Atho" tentang hadis ini [4684-4690]
    20. Qisas tikaman [4691-4692]
    21. Qisas penempelengan [4693-4693]
    22. Qisas karena ditarik [4694-4694]
    23. Qisas dari sulthan (penguasa) [4695-4695]
    24. Sultan disakiti pada tangannya [4696-4696]
    25. Qisas bukan karena benda tajam [4697-4698]
    26. Tafsiran "Siapa yang mendapat pemaafan dari saudaranya, hendaklah ia ikuti" [4699-4700]
    27. Perintah memaafkan daripada qisas [4701-4702]
    28. Pembunuh secara sengaja, apakah diambil diyat, jika wali korban memaafkan? [4703-4705]
    29. Wanita memaafkan darah [4706-4706]
    30. Membunuh dengan batu atau cemeti [4707-4708]
    31. Berapa diyat setengah sengaja, dan perbedaan pada Ayyub dalam hadis Qasim [4709-4710]
    32. Perbedaan pada Khalid alhadza" [4711-4719]
    33. Usia diyat (denda) sengaja [4720-4720]
    34. diyat dari uang perak [4721-4722]
    35. Diyat wanita [4723-4723]
    36. Berapa diyat orang kafir [4724-4725]
    37. Diyat budak mukatab [4726-4730]
    38. Diyat janin wanita [4731-4739]
    39. Gambaran setengah kesengajaan, diyat janin [4740-4748]
    40. Apakah seseorang dihukum karena dosa orang lain? [4749-4756]
    41. Mata buta sebelah yang masih berada di tempat jika ditempeleng [4757-4757]
    42. Diyat gigi [4758-4759]
    43. Diyat jari-jemari [4760-4768]
    44. Luka yang menembus tulang [4769-4769]
    45. Hadis Amru bin Hazm tentang diyat dan perbedaan pengutipnya [4770-4776]
    46. Siapa menuntut qisas dan mengambil haknya bukan sultan [4777-4779]
    47. Penjelasan kitab qisas dari almujtabi, yang dalam kitab assunan tak ada penafsiran [4780-4786]
  46. Kitab Potong Tangan
    1. Pencurian [4787-4790]
    2. Pencuri diuji dengan pukulan dan penjara atau penahanan [4791-4793]
    3. Menuntun si pencuri mengucapkan ampunan [4794-4794]
    4. Seseorang memaafkan pencuri setelah membawa ke imam [4795-4797]
    5. Yang bisa menjadi pencegahan hukuman dan yang tidak [4798-4809]
    6. Perbedaan lafadz pengutip berita Azzukhri tentang wanita bani makhzum [4810-4819]
    7. Dorongan menegakkan hukuman [4820-4821]
    8. Jumlah curian yang mewajibkan potong tangan [4822-4829]
    9. Perbedaan pada Azzuhri [4830-4843]
    10. Perbedaan pada Abu Bakar bin Muhammad dan Abdullah bin Abu Bakar [4844-4870]
    11. Kurma yang digantung dicuri [4871-4871]
    12. Kurma dicuri setelah ditaruh di tempat penggaringan [4872-4873]
    13. Beberapa hal yang tak berlaku hukum potong tangan [4874-4890]
    14. Memotong tangan si pencuri setelah tangan [4891-4891]
    15. Memotong kedua tangan dan kedua kaki [4892-4892]
    16. Pemotongan dalam safar [4893-4894]
    17. Batasan usia terkena kewajiban potong tangan [4895-4895]
    18. Menggantungkan tangan si pencuri di tengkuk [4896-4898]
  47. Kitab Iman dan Syariatnya
    1. Amalan paling utama (Afdhal) [4899-4900]
    2. Rasa iman [4901-4901]
    3. Kemanisan iman [4902-4902]
    4. Kemanisan Islam [4903-4903]
    5. Tanda atau ciri Islam [4904-4904]
    6. Sifat iman dan Islam [4905-4905]
    7. Tafsiran ayat "Orang arab badwi mengatakan kami beriman, katakanlah kalian belum beriman" [4906-4908]
    8. Sifat mukmin [4909-4909]
    9. Sifat muslim [4910-4911]
    10. Tanda keistimewaan iman seseorang [4912-4912]
    11. Bidang keislaman apa paling utama (Afdhal) [4913-4913]
    12. Bidang keislaman apa yang terbaik [4914-4914]
    13. Diatas berapa pondasi Islam dibangun [4915-4915]
    14. Baiat untuk Islam [4916-4916]
    15. Atas dasar apa manusia diperangi [4917-4917]
    16. Cabnang-cabang keimanan [4918-4920]
    17. Pemeluk keimanan satu sama lain mempunyai kelebihan [4921-4923]
    18. Iman bertambah [4924-4926]
    19. Tanda iman [4927-4933]
    20. Tanda munafiq [4934-4937]
    21. Qiyam (Menghidupkan) Ramadhan [4938-4940]
    22. Memburu lailatul qadar [4941-4941]
    23. Zakat [4942-4942]
    24. Jihad [4943-4944]
    25. Menunaikan lima kewajiban [4945-4945]
    26. Menghadiri jenazah [4946-4946]
    27. malu [4947-4947]
    28. Agama adalah mudah [4948-4948]
    29. Agama yang paling dicintai Allah [4949-4949]
    30. Lari menyelamatkan agama dari fitnah [4950-4950]
    31. Perumpamaan munafik [4951-4951]
    32. Perumpamaan pembaca alquran, mukmin dan munafik [4952-4952]
    33. Tanda mukmin [4953-4953]
  48. Kitab Perhiasan
    1. Kebiasaan-kebiasaan fithrah [4954-4958]
    2. Mencukur kumis [4959-4961]
    3. Rukhsah menggundul kepala [4962-4962]
    4. Larangan wanita menggundul kepala [4963-4963]
    5. Larangan qaza' (memangkas dan membiarkan sebagian rambut) [4964-4965]
    6. Memendekkan kumis [4966-4968]
    7. Menyisir [4969-4972]
    8. Menyisir dari sebelah kanan [4973-4973]
    9. Menyambung rambut [4974-4976]
    10. Memintal (menganyam) rambut [4977-4979]
    11. Memanjangkan rambut sampai pundak [4980-4980]
    12. Memintal jenggot [4981-4981]
    13. Larangan mencabut uban [4982-4982]
    14. Diijinkan memakai khidhab (pacar, semir) [4983-4987]
    15. Larangan semir hitam [4988-4989]
    16. Semir dengan hena dan katam [4990-4997]
    17. Semir kuning [4998-5001]
    18. Semir untuk wanita [5002-5002]
    19. Dimakruhkan bau hena [5003-5003]
    20. Mencabut uban atau jenggot [5004-5004]
    21. Menyambung rambut dengan sobekan kain [5005-5006]
    22. Menyambung rambut [5007-5007]
    23. Meminta disambungkan [5008-5010]
    24. Menghilangkan alis [5011-5012]
    25. Mentato dan perbedaan pada Abdullah bin murrah dan Asysya'bi [5013-5017]
    26. Merenggangkan gigi [5018-5020]
    27. Keharaman memangkur dan menghaluskan gigi [5021-5023]
    28. Celak [5024-5024]
    29. Minyak [5025-5025]
    30. Za'faran [5026-5026]
    31. Anbar [5027-5027]
    32. Perbedaan wewangian laki-laki dan perempuan [5028-5029]
    33. Wewangian paling wangi [5030-5030]
    34. Memakai za'faran dan minyak wangi khaluq [5031-5035]
    35. Wewangian yang dimakruhkan bagi wanita [5036-5036]
    36. Wanita menggunakan wewangian [5037-5037]
    37. Wanita dilarang menghadiri shalat jamaah jika berwewangian [5038-5044]
    38. Minyak wangi bakhur [5045-5045]
    39. Dimakruhkan bagi wanita mempertontonkan perhiasan dan emas [5046-5052]
    40. Emas diharamkan bagi laki-laki [5053-5069]
    41. Jika hidung terkena musibah, bolehkan mengganti dengan hidung emas? [5070-5071]
    42. Rukhsah cincin emas bagi laki-laki [5072-5072]
    43. Cincin emas [5073-5090]
    44. Hadis Ubaidah [5091-5093]
    45. Hadis Abu Hurairah dan perbedaan pada Qatadah [5094-5099]
    46. Ukuran perak untuk cincin [5100-5100]
    47. Gambaran cincin Nabi Shallallahu'alaihiwasallam [5101-5107]
    48. Letak cincin pada tangan dan hadis Abdullah bin Ja'far [5108-5109]
    49. Memakai cincin besi yang dilapisi perak [5110-5110]
    50. Memakai cincin tembaga kuning [5111-5113]
    51. Sabda Nabi Shallallahu'alaihiwasallam "Jangan kalian ukiri cincin kalian" [5114-5114]
    52. Larangan memakai cincin di telunjuk [5115-5117]
    53. Melepas cincin jika masuk wc [5118-5123]
    54. Lonceng yang dikalungkan hewan [5124-5129]
    55. Kebiasaan-kebiasaan fihrah (kesucian) [5130-5130]
    56. Mencukur kumis dan memelihara jenggot [5131-5131]
    57. Mencukur kepala anak-anak [5132-5132]
    58. Larangan mencukur sebagian dan membiarkan sebagian [5133-5136]
    59. Membiarkan rambut sampai bahu (pundak) [5137-5140]
    60. Merapikan rambut [5141-5142]
    61. Membelah rambut di bagian tengah kepala [5143-5143]
    62. Menyisir dan merapikan [5144-5144]
    63. Mendahulukan sebelah kanan [5145-5145]
    64. Perintah memakai khidhab (hena, pacar, semir) [5146-5147]
    65. Menyemir jenggot dengan warna kuning [5148-5148]
    66. Menyemir kuning jenggot dengan waras dan za'faran [5149-5149]
    67. Menyambung rambut [5150-5151]
    68. Menyambung rambut dengan kain [5152-5153]
    69. Laknat bagi penyambung rambut [5154-5154]
    70. Laknat bagi penyambung dan meminta sambung rambut [5155-5155]
    71. Laknat bagi pentato dan minta ditato [5156-5156]
    72. Laknat bagi yang menghilangkan alias dan memangkur gigi [5157-5160]
    73. Memakai za'faran [5161-5162]
    74. Memakai wewangian [5163-5168]
    75. Wewangian terbaik [5169-5169]
    76. Diharamkan memakai emas [5170-5170]
    77. Diharamkan memakai cincin emas [5171-5179]
    78. Cincin Nabi Shallallahu'alaihiwasallam dan ukirannya [5180-5186]
    79. Letak cincin [5187-5192]
    80. Letak mata cincin [5193-5193]
    81. Nabi membuang cincin dan tak memakainya lagi [5194-5198]
    82. Pakaian yang disunnahkan dipakai dan yang dimakruhkan [5199-5199]
    83. Larangan memakai baju bersulam sutera [5200-5200]
    84. Rukhsah bagi wanita memakai pakaian bersulam sutera [5201-5203]
    85. Larangan memakai sutera halus [5204-5204]
    86. Gambaran sutera [5205-5205]
    87. Larangan memakai sutera tebal [5206-5206]
    88. Memakai sutera tebal yang bersulam emas [5207-5207]
    89. Pelarangan sutera yang dimansukhkan [5208-5208]
    90. Larangan keras memakai sutera, siapa memakai di dunia, tidak memakai di akherat [5209-5213]
    91. Larangan baju sutera [5214-5214]
    92. Rukhsah memakai sutera [5215-5218]
    93. Memakai gamis merah [5219-5219]
    94. Memakai baju katun (linen,rami) [5220-5220]
    95. Larangan memakai pakaian yang dicelup kuning norak [5221-5223]
    96. Memakai baju hijau [5224-5224]
    97. Memakai gamis atau mantel [5225-5226]
    98. Perintah memakai pakaian putih [5227-5228]
    99. Memakai pakaian luar [5229-5229]
    100. Celana [5230-5230]
    101. Larangan keras memanjangkan kain sarung [5231-5233]
    102. Letak sarung [5234-5234]
    103. Kain sarung dibawah mata kaki [5235-5236]
    104. Menjulurkan sarung [5237-5240]
    105. Tambahan kain perempuan [5241-5244]
    106. Larangan memakai pakaian yang tidak ada lubang tangan [5245-5246]
    107. Larangan duduk ihtiba" dengan satu kain [5247-5247]
    108. Memakai sorban yang pernah terbakar api [5248-5248]
    109. Memakai sorban hitam [5249-5250]
    110. Menjulurkan ujung sorban hingga kedua pundak [5251-5251]
    111. Gambar [5252-5260]
    112. Manusia paling berat siksanya [5261-5262]
    113. Kewajiban yang harus ditanggung tukang gambar pada hari kiamat [5263-5268]
    114. Manusia paling berat siksanya [5269-5270]
    115. Selimut [5271-5271]
    116. Gambaran sandal Rasulullah Shallallahu'alaihiwasallam [5272-5273]
    117. Larangan memakai satu sandal [5274-5275]
    118. Tikar kulit [5276-5276]
    119. Mencari pembantu dan kendaraan [5277-5277]
    120. Hiasan pedang [5278-5280]
    121. Larangan duduk diatas pelana sutera dan berwarna merah [5281-5281]
    122. Duduk diatas kursi [5282-5282]
    123. Memasang tenda atau kubah merah [5283-5283]
  49. Kitab Adab Hakim
    1. Keutamaan adil yang hakim [5284-5284]
    2. Imam (Penguasa, Pejabat) yang adil [5285-5285]
    3. Benar dalam memutuskan hukuman [5286-5286]
    4. Tidak mempekerjakan pejabat yang berambisi terhadap jabatan [5287-5288]
    5. Larangan meminta jabatan [5289-5290]
    6. Menggunakan para penyair [5291-5291]
    7. Mengangkat hakam (juru damai) untuk memutuskan perkara [5292-5292]
    8. Larangan mengangkat perempuan untuk memutuskan [5293-5293]
    9. Berhukum dengan kemiripan dan penyerupaan, dan perbedaan pada Walid [5294-5297]
    10. Perbedaan pada Yahya bin Abu Ishaq [5298-5301]
    11. Berhukum sesuai kesepakatan ahlul'ilm [5302-5304]
    12. Tafsiran "Siapa yang tidak berhukum dengan apa yang Allah turunkan" [5305-5305]
    13. Menghukumi secara zhahir [5306-5306]
    14. Seorang hakim memutuskan dengan ilmunya [5307-5307]
    15. Kelonggaran bagi hakim untuk mengatakan "Baik, akan kulakukan" Padahal tidak dilakukan [5308-5308]
    16. Hakim membatalkan keputusan selainnya yang ia semisalnya atau lebih hebat daripadanya [5309-5309]
    17. Menolak hakim jika memutuskan tanpa kebenaran [5310-5310]
    18. Yang harus dijauhi hakim [5311-5311]
    19. Rukhsah bagi hakim terpercaya untuk memutuskan saat marah [5312-5312]
    20. Keputusan hakim di rumahnya [5313-5313]
    21. Meminta untuk mengembalikan [5314-5314]
    22. Wanita dijaga dari majlis pengadilan [5315-5316]
    23. Pengarahan hakim kepada seseorang yang mengabari dirinya berzina [5317-5317]
    24. Hakim menyerahkan rakyatnya untuk kebaikan sesama mereka [5318-5318]
    25. Hakim memberi isyarat orang bersengketa untuk berdamai [5319-5319]
    26. Hakim memberi isyarat orang bersengketa untuk memaafkan [5320-5320]
    27. Hakim memberi isyarat untuk bersikap santun atau lembut [5321-5321]
    28. Hakim memberi maaf kepada orang yang bersengketa sebelum memutuskan [5322-5322]
    29. Hakim melarang rakyatnya untuk memusnahkan harta karena masih diperlukan [5323-5323]
    30. Keputusan dalam sedikit harta dan banyaknya [5324-5324]
    31. Keputusan hakim untuk orang yang tidak hadir jika mengetahuinya [5325-5325]
    32. Larangan memutuskan dengan dua keputusan [5326-5326]
    33. Hal-hal yang membatalkan keputusan [5327-5327]
    34. Sombong lagi suka membantah [5328-5328]
    35. Keputusan kepada orang-orang yang tidak mempunyai bukti [5329-5329]
    36. Nasehat hakim atas suatu sumpah [5330-5330]
    37. Bagaimana hakim meminta sumpah [5331-5332]
  50. Kitab Meminta Perlindungan
    1. Bab [5333-5346]
    2. Meminta perlindungan dari hati yang tiudak khusyu' [5347-5347]
    3. Meminta perlindungan dari fitnah dada [5348-5348]
    4. Meminta perlindungan dari keburukan pendengaran dan penglihatan [5349-5349]
    5. Meminta perlindungan dari sifat pengecut [5350-5350]
    6. Meminta perlindungan dari sifat pengecut [5351-5353]
    7. Meminta perlindungan dari kesedihan [5354-5357]
    8. Meminta perlindungan dari kesedihan [5358-5358]
    9. Meminta perlindungan dari terlilit hutang dan dosa [5359-5359]
    10. Meminta perlindungan dari keburukan pendengaran dan penglihatan [5360-5360]
    11. Meminta perlindungan dari keburukan penglihatan [5361-5361]
    12. Meminta perlindungan dari kemalasan [5362-5362]
    13. Meminta perlindungan dari kelemahan [5363-5364]
    14. Meminta perlindungan dari kehinadinaan [5365-5367]
    15. Meminta perlindungan dari keterbatasan [5368-5368]
    16. Meminta perlindungan dari kefakiran [5369-5370]
    17. Meminta perlindungan dari keburukan fitnah kubur [5371-5371]
    18. Meminta perlindungan dari jiwa yang tak pernah puas [5372-5372]
    19. Meminta perlindungan dari kelaparan [5373-5373]
    20. Meminta perlindungan dari khianat [5374-5374]
    21. Meminta perlindungan dari perselisihan, kenifakan dan akhlak yang buruk [5375-5376]
    22. Meminta perlindungan dari pengaruh berhutang [5377-5377]
    23. Meminta perlindungan dari pengaruh hutang [5378-5379]
    24. Meminta perlindungan dari terlilit hutang dan dosa [5380-5380]
    25. Meminta perlindungan dari jebakan hutang [5381-5381]
    26. Meminta perlindungan dari keburukan godaan kekayaan [5382-5382]
    27. Meminta perlindungan dari godaan dunia [5383-5388]
    28. Meminta perlindungan dari keburukan dzikr [5389-5389]
    29. Meminta perlindungan dari keburukan kekufuran [5390-5390]
    30. Meminta perlindungan dari kesesatan [5391-5391]
    31. Meminta perlindungan dari kekuasaan musuh [5392-5392]
    32. Meminta perlindungan dari cacian musuh [5393-5393]
    33. Meminta perlindungan dari kepikunan [5394-5395]
    34. Meminta perlindungan keburukan takdir [5396-5396]
    35. Meminta perlindungan dari kepayahan yang menyengsarakan [5397-5397]
    36. Meminta perlindungan dari penyakit gila [5398-5398]
    37. Meminta perlindungan dari sorotan mata jahat jin [5399-5399]
    38. Meminta perlindungan dari keburukan kesombongan [5400-5400]
    39. Meminta perlindungan usia tua yang memayahkan [5401-5401]
    40. Meminta perlindungan dari keburukan umur [5402-5402]
    41. Meminta perlindungan dari kekurangan setelah tambahan [5403-5404]
    42. Meminta perlindungan dari doa orang yang teraniaya [5405-5405]
    43. Meminta perlindungan kesudahan yang menyedihkan [5406-5406]
    44. Meminta perlindungan dari tetangga yang buruk [5407-5407]
    45. Meminta perlindungan dari pengaruh orang lain [5408-5408]
    46. Meminta perlindungan dari fitnah dajjal [5409-5409]
    47. Meminta perlindungan dari siksa jahannam dan keburukan fitnah dajjal [5410-5411]
    48. Meminta perlindungan dari keburukan setan manusia [5412-5412]
    49. Meminta perlindungan dari fitnah hidup [5413-5416]
    50. Meminta perlindungan dari fitnah kematian [5417-5418]
    51. Meminta perlindungan dari siksa kubur [5419-5419]
    52. Meminta perlindungan dari fitnah kuburan [5420-5420]
    53. Meminta perlindungan dari siksa Allah [5421-5421]
    54. Meminta perlindungan dari siksa jahannam [5422-5422]
    55. Meminta perlindungan dari siksa neraka [5423-5423]
    56. Meminta perlindungan dari panas neraka [5424-5426]
    57. Meminta perlindungan dari keburukan yang diperbuat dan perbedaan pada Abdullah [5427-5427]
    58. Meminta perlindungan dari keburukan yang dilakukan dan perbedaan pada Hilal [5428-5431]
    59. Meminta perlindungan dari keburukan yang belum dikerjakan [5432-5433]
    60. Meminta perlindungan dari dibenamkan ke bumi [5434-5435]
    61. Meminta perlindungan dari terjatuh dan dihancurkan [5436-5438]
    62. Meminta perlindungan dengan keredhaan Allah dari kemurkaan Allah ta'ala [5439-5439]
    63. Meminta perlindungan dari kedudukan yang terhimpit hari kiamat [5440-5440]
    64. Meminta perlindungan dari doa yang tidak didengar [5441-5442]
    65. Meminta perlindungan dari doa yang yang takj dikabulkan [5443-5444]
  51. Kitab Minuman
    1. Pengharaman khamar [5445-5445]
    2. Minuman yang ditumpahkan saat khamar diharamkan [5446-5448]
    3. Khamar juga termasuk minuman oplosan antara kurma mengkal dan kurma masak [5449-5451]
    4. Larangan meminum rendaman dua bahan yang dioplos sebagaimana kurma mengkal dan kurma masak [5452-5452]
    5. Oplosan Balah (kurma mentah) dan kurma zahwu (hampir masak) [5453-5455]
    6. Oplosan zahwu (hampir masak) dan kurma ruthab (mengkal) [5456-5457]
    7. Oplosan kurma zahwu (hampir masak) dan kurma busr (masih kecil) [5458-5458]
    8. Oplosan kurma busr (masih kecil) dan kurma ruthab (mengkal) [5459-5460]
    9. Oplosan kurma busr (masih kecil) dan kurma tamr (masak) [5461-5463]
    10. Oplosan kurma tamr (masak) dan kismis [5464-5465]
    11. Oplosan antara kurma ruthab (mengkal) dan kismis [5466-5466]
    12. Oplosan antara kurma busr (masih kecil) dan kismis [5467-5467]
    13. Alasan larangan pengoplosan adalah masing-masing bahan semakin menguat khasiatnya [5468-5471]
    14. Dirukhsahkan merendam kurma busr (masih kecil) semata dan meminumnya sebelum menjadi tuak (arak) [5472-5472]
    15. Dirukhsahkan merendam dalam geriba yang tutup mulutnya diikat [5473-5473]
    16. Dirukhsahkan merendam kurma masak semata [5474-5475]
    17. Merendam kismis semata [5476-5476]
    18. Dirukhsahkan merendam kurma busr (masih kecil) masak saja [5477-5477]
    19. Penafsiran ayat "Dan dari buah-buahan kurma dan anggur, kalian ambil" [5478-5483]
    20. Beberapa jenis arak ketika diturunkan ayat yang mengharamkan [5484-5486]
    21. Diharamkan minuman-minuman yang memabukkan, baik dari buahan atau bijian [5487-5487]
    22. Penetapan istilah khamar untuk segala minuman yang memabukkan [5488-5492]
    23. Pengharaman segala minuman yang memabukkan [5493-5508]
    24. Penafsiran albit'u dan almizru [5509-5512]
    25. Pengharaman segala minuman yang jika banyak menjadikan mabuk [5513-5516]
    26. Pelarangan rendaman ji'ah, yaitu minuman yang dibuat dari tepung [5517-5518]
    27. Rendaman yang disuguhkan kepada Nabi Shallallahu'alaihiwasallam [5519-5519]
    28. Larangan perendaman yang dilakukan dalam kuali (tanah liat) [5520-5526]
    29. Kuali hijau [5527-5529]
    30. Larangan rendaman duba" [5530-5531]
    31. Larangan rendaman duba" dan muzaffat [5532-5537]
    32. Larangan rendaman duba", hantam dan naqir [5538-5539]
    33. Larangan rendaman duba", hantam, dan muzaffat [5540-5542]
    34. Larangan rendaman duba", naqir, muqayyar dan hantam+ [5543-5547]
    35. Muzaffat [5548-5548]
    36. Penunjukan larangan bejana-bejana yang disebutkan diatas [5549-5550]
    37. Penafsiran bejana [5551-5551]
    38. ijin perendaman yang dikhususkan oleh beberapa periwayatan yang kami sajikan [5552-5555]
    39. Pengijinan khusus untuk bejana kuali tanah liat [5556-5556]
    40. Pengijinan beberapa daripadanya [5557-5562]
    41. Kedudukan khamar [5563-5564]
    42. Riwayat yang berisi larangan keras meminum khamar [5565-5569]
    43. Riwayat yang menjelaskan shalat peminum khamar [5570-5571]
    44. Dosa yang timbul akibat minum khamar, yaitu meninggalkan shalat [5572-5574]
    45. Taubat peminum khamar (minuman keras) [5575-5576]
    46. Beberapa periwayatan peminum khamar [5577-5580]
    47. Mengasingkan peminum khamar [5581-5581]
    48. Berita-berita yang menjadi alasan orang yang membolehkan minuman memabukkan [5582-5612]
    49. Kehinaan dan kenestapaan yang Allah persiapkan bagi peminum khamar [5613-5613]
    50. Anjuran meninggalkan syubhat [5614-5615]
    51. Dimakruhkan jual beli kismis jika tujuannya untuk pembuatan anggur [5616-5616]
    52. Dimakruhkan jual beli perasan (yang menimbulkan fermentasi) dan menjadi khamr [5617-5618]
    53. Yang dibolehkan diminum dan tidak dibolehkan dari perasan yang dimasak [5619-5632]
    54. Perasan yang dibolehkan dan tidak dibolehkan diminum [5633-5634]
    55. Berwudlu' dari makanan yang terpanggang oleh api [5635-5638]
    56. Rendaman yang dibolehkan dan tidak dibolehkan diminum [5639-5650]
    57. Perbedaan pada Ibrahim tentang rendaman [5651-5656]
    58. Minum-minuman yang mubah. [5657-5662]

Sunan an-Nasai (Hadis No. 908)

الافتتاح

ترك القراءة خلف الإمام فيما لم يجهر فيه

سنن النسائي ٩٠٨: اخبرنا محمد بن المثنى قال حدثنا يحيى قال حدثنا شعبة عن قتادة عن زرارة عن عمران بن حصين قال صلى النبي صلى الله عليه وسلم الظهر فقرا رجل خلفه سبح اسم ربك الاعلى فلما صلى قال من قرا سبح اسم ربك الاعلى قال رجل انا قال قد علمت ان بعضكم قد خالجنيها

سنن النسائي ٩٠٨: أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى قَالَ حَدَّثَنَا يَحْيَى قَالَ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ قَتَادَةَ عَنْ زُرَارَةَ عَنْ عِمْرَانَ بْنِ حُصَيْنٍ قَالَ صَلَّى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الظُّهْرَ فَقَرَأَ رَجُلٌ خَلْفَهُ سَبِّحْ اسْمَ رَبِّكَ الْأَعْلَى فَلَمَّا صَلَّى قَالَ مَنْ قَرَأَ سَبِّحْ اسْمَ رَبِّكَ الْأَعْلَى قَالَ رَجُلٌ أَنَا قَالَ قَدْ عَلِمْتُ أَنَّ بَعْضَكُمْ قَدْ خَالَجَنِيهَا

Kitab Iftitah (Pembukaan)

Bab Tidak membaca alfatihah dibelakang imam yang tidak membaca secara nyaring

Sunan Nasa'i 908: Telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Al Mutsanna dia berkata: telah menceritakan kepada kami Yahya dia berkata: telah menceritakan kepada kami Syu'bah dari Qatadah dari Zurarah dari 'Imran bin Hushain dia berkata: "Nabi Shallallallahu 'alaihi wa sallam shalat Zhuhur, dan di belakangnya ada seorang laki-laki yang membaca: 'Sabbihisma rabbikal a'laa'. Setelah selesai shalat Beliau bertanya: 'Siapa tadi yang membaca: 'Sabbihisma rabbikal a'laa?' Seorang laki-laki berkata: 'Aku.' Beliau bersabda: 'Aku sudah tahu bahwa sebagian kalian telah menyelisihiku dengan bacaannya.'"

Periwayat Hadis
  1. Muhammad bin Al Mutsannaa bin 'Ubaid Al 'Anaziy (Abu Musa, laqab: Az Zaman), beliau adalah Tabi'ul Atba' kalangan tua, hidup di Bashrah, wafat di (252 H).
    Jumlah hadis: Bukhari 106, Muslim 720, Tirmidzi 76, Abu Dawud 106, Nasa'i 196, Ibnu Majah 49, Darimi 0, Ahmad 8, Malik 0
    Komentar ulama:
    1. Yahya bin Ma'in: Tsiqah
    2. Abu Hatim: shalihul hadits
    3. Abu Hatim: Shaduuq
    4. Ibnu Hibban: disebutkan dalam 'ats tsiqaat
    5. Maslamah bin Qasim: tsiqah masyhur
    6. Maslamah bin Qasim: Minal huffaad
    7. Adz Dzahabi: Tsiqah
    8. Ibnu Hajar al 'Asqalani: Tsiqah Tsabat
  2. Yahya bin Sa'id bin Farrukh Al Qaththan At Tamimiy (Abu Sa'id, laqab: Al Ahwal), beliau adalah Tabi'ut Tabi'in kalangan biasa, hidup di Bashrah, wafat di Bashrah (198 H).
    Jumlah hadis: Bukhari 298, Muslim 214, Tirmidzi 108, Abu Dawud 231, Nasa'i 341, Ibnu Majah 79, Darimi 33, Ahmad 1339, Malik 0
    Komentar ulama:
    1. An Nasa'i: tsiqah tsabat
    2. Abu Zur'ah: tsiqoh hafidz
    3. Abu Hatim: tsiqoh hafidz
    4. Al 'Ajli: Tsiqah
    5. Ibnu Sa'd: tsiqah ma`mun
    6. Ibnu Hajar al 'Asqalani: tsiqah mutqin
    7. Adz Dzahabi: hafidz kabir
  3. Syu'bah bin Al Hajjaj bin Al Warad Al Azdiy Al Wasithiy (Abu Bistham, laqab: ), beliau adalah Tabi'ut Tabi'in kalangan tua, hidup di Bashrah, wafat di Bashrah (160 H).
    Jumlah hadis: Bukhari 795, Muslim 590, Tirmidzi 299, Abu Dawud 278, Nasa'i 562, Ibnu Majah 180, Darimi 271, Ahmad 2681, Malik 0
    Komentar ulama:
    1. Al 'Ajli: tsiqah tsabat
    2. Ibnu Sa'd: tsiqah ma`mun
    3. Abu Daud: tidak ada seorangpun yang lebih baik haditsnya dari padanya
    4. Ats Tsauri: amirul mukminin fil hadits
    5. Ibnu Hajar Al Atsqalani: tsiqoh hafidz
    6. Adz Dzahabi: tsabat hujjah
  4. Qatadah bin Da'amah bin Qatadah As Sadusiy (Abu Al Khaththab, laqab: ), beliau adalah Tabi'in kalangan biasa, hidup di Bashrah, wafat di Hait (117 H).
    Jumlah hadis: Bukhari 273, Muslim 247, Tirmidzi 210, Abu Dawud 217, Nasa'i 282, Ibnu Majah 154, Darimi 127, Ahmad 1532, Malik 0
    Komentar ulama:
    1. Yahya bin Ma'in: Tsiqah
    2. Muhammad bin Sa'd: tsiqah ma`mun
    3. Ibnu Hajar al 'Asqalani: tsiqah tsabat
    4. Adz Dzahabi: Hafizh
  5. Zurarah bin Awfaa (Abu Hajib, laqab: ), beliau adalah Tabi'in kalangan pertengahan, hidup di Bashrah, wafat di (93 H).
    Jumlah hadis: Bukhari 7, Muslim 16, Tirmidzi 9, Abu Dawud 11, Nasa'i 23, Ibnu Majah 11, Darimi 8, Ahmad 62, Malik 0
    Komentar ulama:
    1. Ibnu Hibban: disebutkan dalam 'ats tsiqaat
    2. An Nasa'i: Tsiqah
    3. Ibnu Hajar al 'Asqalani: Tsiqah abid
  6. Imran bin Hushain bin 'Ubaid bin Khalaf Al Khuza'i (Abu Najid, laqab: ), beliau adalah Shahabat, hidup di Bashrah, wafat di Bashrah (52 H).
    Jumlah hadis: Bukhari 31, Muslim 34, Tirmidzi 31, Abu Dawud 37, Nasa'i 45, Ibnu Majah 20, Darimi 14, Ahmad 195, Malik 0
    Komentar ulama:
    1. Ibnu Hajar al 'Asqalani: Shahabat
    2. Adz Dzahabi: Shahabat

Topik Pilihan